Warga AS Ragukan Masa Depan Generasi Mendatang Lebih Baik, Survei Terbaru

Warga Amerika Serikat kini menunjukkan tingkat ketidakpastian yang tinggi terkait masa depan ekonomi dan kesejahteraan generasi mendatang. Survei terbaru dari Wall Street Journal-NORC mengungkapkan bahwa hanya 25% responden yang optimis dapat meningkatkan standar hidup mereka, angka terendah sejak survei ini dimulai pada 1987. Lebih dari tiga perempat peserta juga meragukan apakah kehidupan anak cucu mereka nanti akan lebih baik.

Sentimen Negatif yang Meluas

Jajak pendapat ini menunjukkan bahwa pesimisme ekonomi saat ini tidak terbatas pada kelompok tertentu. Baik laki-laki maupun perempuan, berbagai kelompok usia, tingkat pendidikan, dan pendapatan rumah tangga merasa kurang yakin terhadap prospek masa depan. Menariknya, perbedaan pandangan masih ditemukan antara Partai Republik dan Partai Demokrat, dengan 55% pendukung Partai Republik dan 90% pendukung Partai Demokrat menilai prospek mereka dan anak-anak mereka secara negatif. Hal tersebut mencerminkan pola lama bahwa partai yang menguasai Gedung Putih cenderung memiliki pandangan positif lebih tinggi terhadap ekonomi.

Tekanan Ekonomi dan Kerapuhan Finansial

Meski sekitar 44% responden menilai kondisi ekonomi saat ini cukup baik, angka ini tetap lebih rendah dibandingkan 56% yang menilai situasi buruk. Banyak warga mengatakan bahwa mereka merasakan kerapuhan ekonomi, meskipun saat ini finansial pribadi mereka cukup aman. Kebanyakan responden juga menyatakan bahwa generasi sebelumnya lebih mudah untuk membeli rumah dan memulai bisnis dibandingkan mereka saat ini. Ketidakpastian ini juga melebar ke generasi berikutnya yang diyakini akan menghadapi kesulitan serupa, terutama dalam hal keterjangkauan rumah dan tabungan pensiun.

Pengalaman Nyata dari Warga

Jeff Lindly, 61 tahun, dari Texas, merupakan contoh nyata dari pergeseran ini. Lindly mampu membeli beberapa rumah selama masa mudanya untuk keluarganya. Namun ketiga anaknya yang sudah dewasa kini masih tinggal bersamanya karena kesulitan membeli rumah sendiri, meskipun sudah menabung dan berusaha keras. Hal serupa dirasakan Bill Sanchez, 30 tahun, seorang pengacara pembela pidana dan veteran militer. Dengan pendapatan sekitar US$72.000 per tahun, ia merasakan bahwa kerja keras tidak lagi berbanding lurus dengan keberhasilan ekonomi seperti sebelumnya.

Kesenjangan antara Data Ekonomi dan Sentimen

Fenomena ini menimbulkan dilema bagi para ekonom. Meskipun indikator ekonomi makro menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan inflasi telah menurun, sentimen publik justru semakin negatif. Profesor Neale Mahoney dari Universitas Stanford mengomentari hal ini, “Optimisme adalah kekuatan pendorong utama bagi kewirausahaan dan kemajuan Amerika. Kejatuhan semangat ini agak menyedihkan.” Studi yang dilakukan oleh Mahoney dan koleganya menunjukkan bahwa sejak pandemi, sentimen ekonomi jauh lebih suram dibanding perkiraan yang didasarkan pada data ekonomi tradisional.

Faktor Penyebab Pesimisme

Pesimisme itu tidak semata akibat inflasi tinggi, karena kekhawatiran terhadap inflasi saat ini selevel dengan periode sebelumnya saat inflasi masih tinggi. Namun, ketakutan terbesar warga adalah mengenai masa depan yang tidak pasti. Hanya sekitar seperempat responden yang sangat yakin dapat membeli rumah, sementara 56% merasa ragu atau tidak yakin bisa membeli tempat tinggal dalam waktu dekat. Kondisi ini memengaruhi keyakinan mereka terhadap impian Amerika yang selama ini menjanjikan keberhasilan melalui kerja keras.

Tantangan bagi Kebijakan Ekonomi

Ketidakpuasan masyarakat yang meluas ini memberi gambaran tantangan serius bagi pemerintah yang berkuasa. Sebelumnya, janji ekonomi terbaik di dunia dan penurunan pengangguran sering diutarakan sebagai keberhasilan. Namun, realitas pandangan warga terhadap perekonomian jauh dari harapan tersebut. Kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan negara menjaga daya beli dan stabilitas sosial menjadi semakin tipis seiring melemahnya optimisme generasi masa depan.

Dampak Jangka Panjang terhadap Masyarakat AS

Melemahnya rasa optimisme akan membawa dampak jangka panjang, seperti menurunnya dorongan berwirausaha, berkurangnya investasi pendidikan dan rumah tangga, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi. Jika kepercayaan masyarakat terhadap prospek masa depan terus menurun, hal ini dapat memunculkan masalah sosial dan ekonomi yang lebih besar di kemudian hari, terutama dalam konteks ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang semakin melebar.

Survei ini memberikan gambaran jelas bahwa sekalipun saat ini perekonomian AS masih menampilkan beberapa indikator positif, suara warga menunjukkan bahwa ketidakpastian dan kekhawatiran mendalam mengenai masa depan semakin mendominasi pandangan mereka. Hal ini menjadi sinyal penting bagi para pembuat kebijakan untuk menyusun strategi yang lebih efektif dalam mengatasi tantangan ekonomi dan sosial agar harapan terhadap kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang tetap terjaga.

Exit mobile version