Film Tewasnya Anak Perempuan Gaza Disorot di Festival Venesia 2025

Festival Film Venesia 2025 menyorot kasus tragis kematian seorang anak perempuan Palestina berusia enam tahun, Hind Rajab, melalui film baru berjudul The Voice of Hind Rajab. Film ini mengangkat kisah memilukan yang terjadi di Gaza pada Januari 2024, ketika Hind menjadi korban serangan militer Israel yang terus memicu konflik dan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Film sebagai Suara Kemanusiaan di Tengah Konflik

Sutradara film, Kaouther Ben Hania, seorang Prancis-Tunisia, menggarap karya ini dengan latar kekhawatiran mendalam terhadap penderitaan warga Gaza. Dalam wawancaranya, Ben Hania menyatakan bahwa inti dari film ini adalah situasi kemanusiaan yang kerap tak terlihat, namun sangat menghancurkan. "Kadang, apa yang tidak terlihat justru lebih menghancurkan daripada yang tampak," ujarnya.

Film ini tidak hanya mengangkat tragedi pribadi Hind Rajab, tetapi juga menggambarkan bagaimana konflik berdampak langsung pada warga sipil, terutama anak-anak. Cerita dimulai saat Hind dan keluarganya melarikan diri dari serangan di Gaza City. Dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi terkena tembakan, menyebabkan Hind menjadi satu-satunya yang selamat namun kemudian meninggal dunia akibat ledakan bom saat mencoba dievakuasi bersama para relawan.

Rekaman asli panggilan darurat Hind kepada Palang Merah dimasukkan ke dalam film, memperkuat efek dramatis dan keautentikan cerita, meskipun narasi disampaikan melalui sudut pandang fiksi para relawan penyelamat. Film ini mendapat dukungan signifikan dari beberapa nama besar Hollywood seperti Brad Pitt, Joaquin Phoenix, dan produser eksekutif Jonathan Glazer, yang dikenal memiliki pandangan kritis terkait konflik di Palestina.

Pengaruh Festival Film Venesia dan Respon Publik

Direktur Festival Film Venesia, Alberto Barbera, menegaskan bahwa The Voice of Hind Rajab merupakan salah satu karya paling berpengaruh dan sarat pesan politik yang diputar di festival tersebut. Dia meyakini film ini dapat memberikan dampak emosional mendalam bagi penonton dan kritikus.

Ibu Hind, Wissam Hamada, yang kini hidup dalam kondisi sulit di Gaza—menghadapi kelaparan, pengungsian, serta kurangnya bantuan kemanusiaan—mengungkapkan harapannya agar film ini membuka kesadaran dunia atas penderitaan warga Palestina. Dia berharap perdamaian segera tercipta supaya tragedi serupa tidak terulang.

Perang di Gaza, yang dimulai pada Oktober 2023, telah menewaskan lebih dari 63.600 warga Palestina, dengan mayoritas adalah sipil. Konflik ini menjadi isu kontroversial di dunia perfilman dan budaya global, terutama setelah kritik terbuka yang dilayangkan beberapa sineas terkenal.

Dinamika Industri Film dan Politik Internasional

Jonathan Glazer sempat mengundang perdebatan ketika menyampaikan kritik terhadap pendudukan Israel atas Gaza dan Tepi Barat pada ajang Piala Oscar 2024. Pendekatannya memecah opini komunitas seni dan sinema, dengan sebagian mendukung sikapnya sementara sebagian lain menolaknya. Pada Festival Film Cannes lalu, lebih dari 370 aktor dan sutradara, termasuk ketua juri Juliette Binoche, menandatangani surat terbuka yang mengkritik sikap diam industri film terkait krisis Gaza.

Dalam konteks ini, film The Voice of Hind Rajab berperan tidak hanya sebagai karya seni, tetapi juga sebagai suara kemanusiaan yang memaksa dunia melihat dan menanggapi penderitaan di Gaza. Meski militer Israel menyatakan kematian Hind masih dalam proses peninjauan tanpa ada penyelidikan resmi yang diumumkan, film ini tetap memicu diskusi luas tentang tanggung jawab moral dan politik komunitas internasional.

Festival Film Venesia 2025 dengan demikian menjadi ajang yang memadukan seni dan isu-isu politik global, menghadirkan narasi yang jarang tersuarakan di panggung dunia, sekaligus mengingatkan pada konsekuensi nyata perang yang menyerang kehidupan anak-anak dan warga sipil yang tak bersalah.

Exit mobile version