Serangan Udara Picu Eskalasi Konflik Afghanistan-Pakistan, Puluhan Tewas, Rusia Merespons!

Ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan kembali memuncak setelah serangan udara yang dilakukan oleh Pakistan pada wilayah Afghanistan pada Kamis, 9 Oktober 2025. Insiden tersebut memicu bentrokan bersenjata yang serius di sepanjang Garis Durand, perbatasan yang menjadi sumber konflik berkepanjangan antara kedua negara. Akibat eskalasi ini, puluhan orang dilaporkan tewas, sementara situasi keamanan kawasan semakin memburuk.

Serangan Udara dan Eskalasi Konflik

Otoritas Afghanistan, yang saat ini diperintah oleh Taliban, menuduh Pakistan melakukan pelanggaran wilayah udara dan melancarkan serangan udara di wilayah Kabul serta sebuah pasar di Afghanistan timur. Tindakan ini memicu respons keras dari militer Afghanistan, yang menyatakan operasi balasan mereka telah berhasil dilaksanakan. Beberapa laporan media menyebutkan bahwa bentrokan kali ini merupakan yang paling serius dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Garis Durand, sepanjang 2.600 kilometer, yang ditetapkan pada 1893 oleh kekuasaan kolonial Inggris, menjadi titik pusat sengketa. Pakistan secara resmi mengakui garis tersebut sebagai perbatasan negara, namun Afghanistan secara historis dan politis menolaknya dan menganggapnya sebagai “garis hipotetis.” Konflik berkepanjangan di kawasan ini menimbulkan potensi ketegangan militer tinggi dan menghambat stabilitas regional.

Kondisi di Perbatasan dan Dampaknya

Sebagai reaksi atas pertempuran tersebut, pemerintah Pakistan mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh jalur lintas perbatasan di Garis Durand, termasuk penyeberangan utama di Torkham dan Chaman. Penutupan ini berdampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat setempat, yang sangat bergantung pada arus perdagangan cross-border. Langkah ini juga berpotensi mempersulit pengiriman bantuan kemanusiaan di wilayah yang sudah rentan.

Respons Rusia dan Seruan Perdamaian

Menanggapi eskalasi ini, Kementerian Luar Negeri Rusia pada Senin, 13 Oktober 2025, mengeluarkan pernyataan resmi yang menyerukan kedua negara agar segera menahan diri dan mengedepankan penyelesaian perbedaan melalui jalur politik dan diplomatik.

“Kami menyerukan kepada Kabul dan Islamabad untuk menahan diri serta menyelesaikan perbedaan melalui cara-cara politik dan diplomatik,” ujar juru bicara Kemlu Rusia. Pihak Rusia menekankan pentingnya dilanjutkannya dialog konstruktif antara Afghanistan dan Pakistan, terutama dalam isu-isu kritis seperti penanggulangan terorisme dan peningkatan keamanan regional. Rusia memandang bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan komunikasi terbuka.

Potensi Dampak Regional

Konflik bersenjata yang terjadi tidak hanya mengancam keamanan kedua negara tetapi juga membawa risiko yang lebih luas bagi kawasan Asia Selatan yang sudah diwarnai berbagai perselisihan politik dan etnis. Penutupan perbatasan dan eskalasi militer dapat menghambat usaha bersama dalam menghadapi ancaman terorisme dan mengganggu jalur perdagangan strategis yang menjadi pendukung ekonomi regional.

Dengan meningkatnya ketegangan, perhatian dari kekuatan dunia seperti Rusia menjadi signifikan sebagai mediator yang berpotensi memfasilitasi dialog dan mengurangi ketegangan antara Afghanistan dan Pakistan. Melanjutkan perundingan politik secara damai menjadi langkah krusial guna menghindari konflik berkepanjangan yang dapat merugikan jutaan warga di wilayah tersebut.

Situasi terkini menunjukkan bahwa meskipun Garis Durand tetap menjadi akar sejarah perselisihan, solusi diplomatik dan keterlibatan internasional menjadi kunci untuk menciptakan perdamaian serta stabilitas yang lestari di perbatasan Afghanistan-Pakistan. Sementara itu, masyarakat kedua negara yang terdampak konflik berharap adanya langkah konkret untuk menghentikan kekerasan dan memulihkan kondisi kehidupan mereka yang terhambat akibat ketegangan yang terjadi.

Source: www.suara.com

Exit mobile version