Donald Trump menyatakan dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela” lewat unggahan di media sosial Truth Social pada 11 Januari 2026. Ia mengunggah foto resmi dirinya dengan keterangan sebagai Presiden Sementara Venezuela dan menyebut masa jabatan dimulai Januari 2026.
Unggahan ini muncul usai eskalasi besar konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela awal bulan tersebut. AS melancarkan operasi besar-besaran yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian didakwa atas konspirasi narkoterorisme di Amerika Serikat.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memimpin pemerintahan Venezuela untuk periode sementara sampai ada transisi yang aman. Ia menegaskan, “Kami tidak bisa mengambil risiko jika Venezuela diambil alih oleh pihak lain yang tidak memikirkan kepentingan rakyat Venezuela.”
Sementara itu, di dalam negeri Venezuela, Wakil Presiden sekaligus Menteri Perminyakan, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai Presiden Sementara pada pekan sebelumnya. Penunjukan ini dilakukan sebagai respons atas penahanan Maduro oleh pihak Amerika Serikat.
Trump menekankan pentingnya sumber daya minyak Venezuela dalam transisi pemerintahan ini. Ia mengklaim bahwa otoritas interim akan menyerahkan 30 hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang sebelumnya dikenai sanksi kepada Amerika Serikat.
Menurut Trump, hasil penjualan minyak tersebut akan dikendalikan oleh pemerintah Amerika Serikat demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa Menteri Energi Amerika, Chris Wright, sudah diminta menjalankan rencana pengelolaan minyak ini segera.
Pengangkutan minyak akan menggunakan kapal penyimpanan khusus dan langsung dibongkar di pelabuhan Amerika Serikat. Strategi ini dimaksudkan agar hasil jual minyak dapat segera dimanfaatkan tanpa hambatan distribusi.
Langkah Trump tersebut menandai eskalasi yang signifikan dalam hubungan bilateral AS dan Venezuela. Tuduhan narkoterorisme terhadap Maduro dan pengambilalihan pemerintahan sementara memperlihatkan upaya AS dalam mengontrol geopolitik dan sumber daya energi di Amerika Latin.
Beberapa pihak internasional memantau ketegangan ini dengan perhatian, mengingat dampak potensial yang bisa menjalar dalam kancah politik global dan stabilitas regional. Konflik ini juga memunculkan kekritisan terkait tata kelola kekuasaan dan kedaulatan negara.
Dengan fakta-fakta tersebut, klaim Donald Trump sebagai Presiden Sementara Venezuela menjadi fenomena politik yang jarang terjadi. Hal ini juga membuka diskusi luas mengenai intervensi kekuatan asing dalam urusan domestik negara lain.
Pengembangan situasi masih terus berlanjut dengan berbagai dinamika yang menyertai langkah-langkah politik dan diplomatik ke depan. Terlepas dari klaim dan aktivitas terkini, situasi di Venezuela tetap menjadi sorotan utama dalam arena internasional.
Baca selengkapnya di: www.medcom.id