Alasan Baru Trump Terkait Kasus Pembunuhan Renee Good yang Jadi Sorotan Publik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberikan pembenaran terkait pembunuhan Renee Good oleh seorang agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minnesota. Trump menilai perilaku Good yang dianggap “tidak menghormati penegak hukum” sebagai alasan tambahan yang mendukung tindakan fatal tersebut.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa Good dan temannya menunjukkan sikap yang sangat tidak menghormati agen penegak hukum. Hal ini menjadi argumen baru setelah sebelumnya pemerintah Trump menyatakan pembelaan diri sebagai dasar tindakan penembakan tersebut.

Sikap Pemerintah Trump terhadap Kasus Pembunuhan Renee Good

Para pejabat pemerintahan Trump mencoba membangun narasi pembelaan diri atas penembakan yang dilakukan agen ICE, Jonathan Ross, terhadap Renee Good yang berusia 37 tahun. Wakil Presiden JD Vance bahkan menyebut agen tersebut memiliki kekebalan mutlak. Namun, penegasan Trump tentang "ketidakhormatan" Good memperluas justifikasi yang diberikan, sehingga memicu kontroversi tentang batas penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat penegak hukum.

Pemerintah federal tetap berpegang pada klaim bahwa tindakan agen ICE adalah diperlukan dan sah, sementara sejumlah pejabat lokal menolak narasi ini. Rekaman peristiwa yang menjadi bahan analisis tambahan, termasuk suara retak yang disebut Trump memperkuat dugaan bahwa agen tersebut berada dalam bahaya.

Kritik dari Pakar Hukum dan Lembaga Hak Sipil

Barbara L. McQuade, mantan jaksa dan profesor hukum, menyatakan bahwa usaha pengendalian narasi ini menekankan pesan bagi masyarakat agar tunduk pada aparat penegak hukum dan mengintimidasi para pengunjuk rasa. Dia menilai bahwa jika warga merasa takut untuk menyuarakan pendapat atau melakukan protes damai karena ancaman penembakan atau penangkapan, hal tersebut dapat mencederai kebebasan sipil.

Mike Fox dari Cato Institute menegaskan bahwa tuduhan Trump yang menyebut Good sebagai “penghasut profesional” tidak membenarkan pembunuhan tersebut. Fox menilai bahwa pembunuhan seseorang karena ketidaksepakatan atau ketidaksukaan merupakan tindakan yang sangat bermasalah dan melanggar hukum.

Kronologi Singkat Penembakan

Sebelum penembakan pada Rabu lalu di Minneapolis, Renee Good sempat menyampaikan kepada agen Ross bahwa dia tidak marah kepadanya. Ross kemudian mengelilingi kendaraan Good, dan dalam situasi yang masih diperdebatkan, ia menembakkan tiga kali hingga menewaskan Good. Investigasi Wall Street Journal mengungkap bahwa insiden ini bukan kasus tunggal, melainkan termasuk dalam setidaknya 13 kejadian di mana agen imigrasi menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga dalam kendaraan sejak Juli tahun lalu.

Respons Gedung Putih dan Para Pengkritik

Trump juga mengeluhkan perlakuan kasar terhadap agen ICE, termasuk tindakan pengunjuk rasa yang mengganggu operasi mereka hingga sulit beristirahat di hotel. Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dengan tegas mendukung agen ICE dan menyebut Good sebagai bagian kelompok terorganisasi yang mencoba menghalangi proses penegakan hukum.

Namun, mantan wakil jaksa agung Vanita Gupta mengecam cara pemerintah mengalihkan perhatian dengan mencela korban, menegaskan bahwa sikap tidak hormat tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk penggunaan kekuatan mematikan. Ia menyebut upaya merendahkan Good sebagai upaya memutarbalikkan fakta yang tidak sesuai dengan hukum federal.

Dinamika Politik dan Perbandingan dengan Insiden Lain

Jamie Raskin, anggota Demokrat di Komite Kehakiman, membandingkan perlakuan Trump terhadap Renee Good dengan sikapnya yang mendukung para pendukungnya yang melakukan kerusuhan di Capitol pada 6 Januari 2021. Raskin menunjukkan inkonsistensi sikap Trump yang malah memidanakan korban dan membela pelaku kerusuhan, sekaligus mengkritik keras karakterisasi Good sebagai wanita tidak sopan yang dianggap relevan secara hukum untuk pembunuhan.

Ketegangan dan kontroversi dalam kasus ini mencerminkan konflik yang lebih luas mengenai kekuasaan aparat penegak hukum dan hak sipil warga negara. Pemerintah Trump terus mempertahankan narasi pembelaan diri, meskipun banyak suara dari komunitas hukum dan hak asasi menilai sikap tersebut sebagai justifikasi berlebihan yang berpotensi melemahkan prinsip keadilan dan penegakan hukum yang proporsional.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version