Delcy Rodríguez resmi mengambil alih kepemimpinan Venezuela setelah Presiden Nicolas Maduro ditangkap oleh militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026. Mahkamah Agung Venezuela mengesahkan penunjukan Delcy sebagai kepala negara sementara, menegaskan bahwa konstitusi negara mengizinkan wakil presiden menggantikan posisi presiden dalam kondisi darurat.
Ketua Mahkamah Konstitusi, Tania D’Amelio, menegaskan keputusan ini bertujuan mengatasi krisis kepemimpinan nasional sekaligus menjaga stabilitas dan kedaulatan negara di tengah situasi genting tersebut. Rodríguez langsung mengecam tindakan Amerika Serikat, menyebut penangkapan Maduro sebagai “penculikan ilegal dan tidak sah.” Ia menilai upaya blokade dan tekanan yang diberlakukan terhadap Venezuela melanggar hak asasi manusia internasional dan mengancam kemanusiaan.
Latar Belakang Pendidikan dan Keluarga
Delcy Rodríguez merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Pusat Venezuela. Keluarga Rodríguez memiliki sejarah panjang dalam politik Venezuela. Ibunya adalah anak dari Jorge Antonio Rodríguez, seorang tokoh politik yang meninggal dunia dalam tahanan polisi pada tahun 1976. Kejadian ini menjadi dasar ideologis dan motivasi kuat bagi Delcy serta saudara laki-lakinya, Jorge Rodríguez, yang kini menjabat Ketua Majelis Nasional Venezuela.
Karier Politik dan Jabatan Penting
Rodríguez memulai kariernya sebagai pengacara dan kemudian memasuki dunia pemerintahan pada masa kepemimpinan Hugo Chávez. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi sebelum diangkat menjadi Menteri Luar Negeri. Pada periode 2018, perempuan ini diangkat menjadi Wakil Presiden Venezuela, posisi yang memperkuat pengaruhnya dalam koordinasi kebijakan nasional termasuk bidang ekonomi.
Peran Diplomatik dan Tantangan Internasional
Sebagai Menteri Luar Negeri, Delcy dikenal sebagai diplomat yang tak kenal mundur. Ia aktif memimpin pembelaan kedaulatan Venezuela di forum internasional dan keras menentang intervensi asing dan sanksi yang dijatuhkan terhadap negaranya. Perannya sangat vital terutama saat Presiden Maduro membatasi aktivitas internasionalnya.
Delcy berhasil menguatkan hubungan strategis dengan negara-negara seperti Turki, China, dan Iran, meskipun tak jarang langkahnya menimbulkan kontroversi. Pada 2016, ia menjadi sorotan saat mencoba memasuki pertemuan blok Mercosur secara paksa, setelah Venezuela diskors dari keanggotaan.
Pada tahun 2020, kasus “Delcygate” di Spanyol kembali mengangkat namanya. Meskipun dilarang masuk wilayah Schengen oleh Uni Eropa, Delcy mendarat di Bandara Barajas, Madrid, untuk pertemuan rahasia dengan Menteri Transportasi Spanyol saat itu. Karena berbagai kontroversi ini, Delcy termasuk dalam daftar pejabat Venezuela yang dikenai sanksi Uni Eropa terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan pelemahan demokrasi.
Pengaruh dan Kekuatan Politik Saat Ini
Penangkapan Maduro menempatkan Rodríguez pada posisi penuh kendali pemerintahan Venezuela. Sikap keras dan vokalnya melawan tekanan asing konsisten dengan rekam jejaknya selama ini sebagai loyalis garis keras. Dunia kini mengamati bagaimana Delcy Rodríguez menjalankan mandatnya dalam mengelola krisis kepemimpinan sekaligus mempertahankan tatanan konstitusi dan kedaulatan negara.
Mandat legal dari Mahkamah Agung serta dukungan dari kalangan pemerintahan menandai tonggak sejarah baru di tengah guncangan politik Venezuela. Delcy Rodríguez bukan hanya sosok pengganti sementara, namun juga simbol keberlanjutan politik rezim yang menghadapi tantangan berat dari tekanan internasional.
Baca selengkapnya di: www.suara.com