Gelombang demonstrasi besar-besaran terjadi di Amerika Serikat pada Sabtu, 18 Oktober 2025, dengan jutaan warga turun ke jalan menentang kebijakan Presiden Donald Trump yang dianggap semakin otoriter. Dalam aksi bertajuk "No Kings" ini, yang berlangsung di seluruh 50 negara bagian, muncul fenomena unik yakni berkibarnya bendera bajak laut Straw Hat Pirates dari anime Jepang One Piece di tengah lautan spanduk dan bendera AS yang biasa.
Demonstrasi Terbesar di AS Modern
Menurut penyelenggara, sekitar tujuh juta orang ikut berpartisipasi dalam aksi massal ini, menjadikannya salah satu demonstrasi politik terbesar dalam sejarah Amerika Serikat modern. Massa memadati sejumlah titik strategis, seperti di New York, Los Angeles, Washington D.C., dan Florida yang merupakan lokasi kediaman pribadi Trump. Para pengunjuk rasa menyerukan beragam tuntutan, termasuk penghentian kebijakan otoriter dan perlindungan terhadap prinsip-prinsip demokrasi.
Di Washington D.C., kawasan Gedung Capitol dipenuhi dengan teriakan massa yang mendesak perubahan, seperti slogan “This is what democracy looks like!” dan “Donald Trump must go!”. Berbagai aksi simbolis juga dilakukan, termasuk pengibaran bendera Amerika Serikat terbalik sebagai tanda bahaya bagi demokrasi serta spanduk bertuliskan “Protect Democracy” dan “End Authoritarian Rule.”
Bendera One Piece dan Simbol Perlawanan
Menarik perhatian publik adalah munculnya bendera bajak laut Straw Hat Pirates dari anime One Piece yang berkibar di antara kerumunan demonstran di Kota Los Angeles dan Portland, Oregon. Lambang tengkorak dengan topi jerami ini biasanya dikenal sebagai simbol dalam dunia hiburan, namun dalam konteks demonstrasi ini, bendera tersebut menjadi icon perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan.
Fenomena ini bukan talian baru di berbagai gerakan protes global. Simbol One Piece pernah digunakan dalam unjuk rasa menentang pemerintah di negara-negara seperti Peru, Prancis, dan Madagaskar. Kehadiran bendera ini mencerminkan solidaritas rakyat di berbagai belahan dunia dalam memperjuangkan kebebasan dan demokrasi.
Riley Sanders, seorang demonstran berusia 27 tahun dari Oregon yang membawa bendera tersebut, menyatakan bahwa simbol itu mewakili “semangat untuk melawan ketidakadilan.” Penggunaan simbol ini mendapat sambutan positif dari sejumlah kalangan muda, yang memandangnya sebagai metafora untuk perjuangan melawan penguasa yang otoriter.
Respons dan Suara Warga
Di New York, berbagai lapisan masyarakat bergabung dalam aksi ini. Colleen Hoffman, seorang warga lanjut usia berusia 69 tahun, mengungkapkan kekhawatirannya atas kondisi demokrasi AS saat ini. “Saya tidak pernah menyangka akan menyaksikan negara ini tergelincir ke arah otoritarianisme,” katanya kepada AFP. Pernyataan tersebut menggarisbawahi ketegangan sosial-politik yang melanda negeri adidaya tersebut.
Di Los Angeles, aksi juga dipenuhi dengan penghadiran atribut kreatif dan kritis, seperti balon raksasa bergambar Presiden Trump mengenakan popok bayi—sebuah simbol ejekan yang menggambarkan arogansi dan ketidakmampuan sang presiden menurut pengunjuk rasa.
Dampak dan Potensi Perubahan
Aksi massa "No Kings" ini menandai titik penting dalam dinamika politik AS, khususnya menjelang pemilihan umum yang akan datang. Demonstrasi dengan jumlah peserta yang masif ini menunjukkan gelombang ketidakpuasan yang meluas terhadap kepemimpinan Trump dan wujud nyata perlawanan rakyat terhadap kebijakan yang dianggap merusak demokrasi.
Sebagai simbol global, bendera Straw Hat Pirates yang muncul dalam demonstrasi ini menunjukkan bagaimana budaya pop dapat berperan dalam menguatkan pesan politik dan solidaritas di tengah pergolakan sosial. Lebih dari sekadar hiburan, simbol anime tersebut menjadi medium ekspresi protes generasi muda yang mencari perubahan.
Kehadiran ikon budaya seperti One Piece dalam aksi politik seperti ini memberi petunjuk bahwa simbol-simbol baru bisa memperoleh makna mendalam, melampaui konteks aslinya. Demonstrasi di Amerika Serikat pada 18 Oktober 2025 tidak hanya sekadar unjuk rasa menentang satu tokoh atau kebijakan, melainkan juga panggilan global untuk menjaga nilai-nilai kebebasan dan demokrasi dalam tata kelola pemerintahan.
Source: www.beritasatu.com
