Naik 40 Persen, Kasus Flu Melonjak Signifikan di Negara Tetangga RI

Singapura mengalami lonjakan kasus influenza yang signifikan pada akhir 2025, dengan peningkatan hingga 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya di periode yang sama. Lonjakan ini terjadi jauh lebih cepat dari biasanya karena aktivitas flu di negara tersebut biasanya meningkat pada Desember sampai Maret. Data dari Badan Penyakit Menular (CDA) Singapura menunjukkan kenaikan pasien positif influenza sejak akhir Agustus, yang terus tumbuh hingga akhir September.

Penyebab Lonjakan Kasus Influenza

Otoritas kesehatan Singapura mengidentifikasi virus H3N2, subtipe Influenza A, sebagai penyebab utama lonjakan ini. Virus ini umum menyebabkan flu musiman, namun penyebarannya kali ini terjadi lebih awal dengan angka kasus yang meningkat 10 sampai 12 persen dalam beberapa minggu terakhir. Direktur Medis Life Family Clinic, Dr. Lim Kim Show, menjelaskan sebagian besar pasien menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan ringan, dan merespons baik pengobatan antivirus seperti Tamiflu.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Singapura. Negara tetangga seperti Malaysia melaporkan lebih dari 6.000 siswa terinfeksi influenza sehingga beberapa sekolah harus ditutup sementara. Jepang juga mengalami musim flu yang datang lima minggu lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Para ahli epidemiologi mengaitkan peningkatan kasus ini dengan kombinasi faktor, yaitu perubahan iklim, naiknya aktivitas mobilitas wisatawan, serta rendahnya kekebalan masyarakat terhadap strain H3N2 karena minimnya paparan virus ini sebelumnya.

Dukungan Sistem Kesehatan dan Upaya Pencegahan

Meski jumlah pasien meningkat, pihak CDA menegaskan bahwa Singapura tidak menghadapi situasi pandemi. Sistem kesehatan dianggap cukup tangguh dalam menangani lonjakan kasus ini. Menurut Associate Professor Lim Poh Lian, Direktur Program Penyakit Menular CDA, tidak ada indikasi bahwa infeksi influenza kali ini lebih parah dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, pengawasan ketat oleh rumah sakit dan fasilitas kesehatan terus dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas. Dr. Loh Jiashen dari Rumah Sakit Farrer Park menyatakan bahwa dengan meningkatnya kekebalan kelompok dalam masyarakat, diharapkan wabah ini akan mereda secara alami dalam beberapa bulan ke depan.

Meskipun rumah sakit mengalami peningkatan kunjungan pasien dengan gejala flu, tingkat kematian tetap stabil. Para ahli memperkirakan lonjakan ini akan mulai menurun paling lambat pada akhir tahun, lebih cepat dibanding siklus musiman yang normal berakhir pada Maret.

Imbauan dan Langkah Pencegahan untuk Masyarakat

CDA mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis, untuk segera mendapatkan vaksinasi flu tahunan. Selain itu, diperlukan upaya menjaga kebersihan diri dengan rutin mencuci tangan dan membudayakan etika batuk atau bersin yang baik. Jika mengalami gejala ringan, disarankan untuk tetap tinggal di rumah dan menggunakan masker bila harus keluar atau berada di tempat umum.

Masyarakat yang mengalami gejala berat atau tidak kunjung membaik dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga medis agar mendapat diagnosis dan pengobatan yang tepat. Langkah ini dianggap penting untuk mencegah komplikasi lebih serius dan mengurangi risiko penularan.

Dampak lonjakan flu di negara-negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia menjadi pengingat pentingnya kesiapan dan kewaspadaan dalam menghadapi musim flu, terutama di wilayah Asia Tenggara yang memiliki pola pergerakan virus dan mobilitas penduduk yang cukup tinggi. Penguatan imun melalui vaksin dan disiplin protokol kesehatan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi gelombang kasus influenza yang dapat terjadi secara tiba-tiba dan cepat.

Source: www.beritasatu.com

Exit mobile version