Polisi Paris Akui Lalai Sistem Keamanan Usai Pencurian di Museum Louvre

Kepala Kepolisian Paris, Patrice Faure, secara resmi mengakui adanya kelalaian serius dalam sistem keamanan Museum Louvre setelah terjadinya pencurian besar-besaran yang menghebohkan publik baru-baru ini. Kejadian yang menimpa museum ikonik dunia itu melibatkan pencurian delapan permata mahkota Prancis dengan nilai mencapai sekitar Rp1,6 triliun, menunjukkan adanya celah fatal pada sistem pengamanan di lokasi tersebut.

Faure menyampaikan pengakuan ini dalam sidang Senat yang digelar pada Rabu (29/10/2025). Ia menjelaskan bahwa sistem keamanan Museum Louvre saat ini tidak berfungsi secara optimal. "Keamanan Museum Louvre tidak berjalan sebagaimana mestinya," tegas Faure. Ia menyoroti bahwa salah satu kelemahan utama yang menyebabkan insiden ini adalah penggunaan sistem pengawasan yang sudah usang dan proyek renovasi keamanan yang tertunda, sehingga menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh para pencuri.

Kelemahan Sistem Pengawasan dan Renovasi yang Tertunda

Menurut Faure, jaringan kamera pengawas di museum tersebut kebanyakan sudah ketinggalan zaman. Kualitas gambar yang dihasilkan sangat rendah, sehingga menyulitkan petugas untuk memantau dan menanggapi kejadian secara real time. "Tidak ada langkah yang diambil di bidang teknologi," ujarnya. Parahnya, izin operasional kamera tersebut telah kedaluwarsa sejak Juli 2025 dan belum pernah diperbarui, yang semakin memperburuk kondisi keamanan di dalam museum.

Faure mengatakan, proyek renovasi besar senilai sekitar 80 juta euro (setara Rp1,5 triliun) untuk pembaruan sistem keamanan baru akan selesai pada 2030 mendatang. Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini, Louvre tetap rentan terhadap ancaman pencurian.

Deteksi Pencurian Melalui Sumber Tak Terduga

Uniknya, peringatan pertama tentang pencurian bukan berasal dari sistem keamanan internal museum. Seorang pesepeda yang melintas melihat beberapa pria mengenakan helm di lift konstruksi di luar gedung kemudian melaporkannya ke layanan darurat 911. Hal ini memperlihatkan betapa lemahnya efektivitas alarm atau sistem deteksi di dalam Louvre saat kejadian berlangsung, yang memungkinkan pencuri beraksi selama beberapa menit tanpa terdeteksi.

Dalam keterangan resminya, Faure juga menolak ide untuk menempatkan pos polisi permanen di dalam museum. Menurutnya, masalah utama bukan pada kehadiran penjaga di pintu masuk, melainkan pada ketidakefisienan rantai peringatan yang membuat respons keamanan terlambat.

Pengaruh Terhadap Manajemen Museum dan Status Asuransi

Direktur Museum Louvre telah mengajukan pengunduran diri menyusul pencurian ini. Namun, Menteri Kebudayaan Prancis menolak pengunduran tersebut dengan alasan pentingnya pemulihan dan perbaikan sistem keamanan segera dilakukan. Sementara itu, terungkap bahwa permata-permata berharga yang dicuri tersebut tidak diasuransikan. Nilai total kerugian diperkirakan mencapai 88 juta euro atau sekitar Rp1,69 triliun, menambah beban kerugian operasional museum.

Dampak dan Respons Keamanan Paris

Kasus pencurian ini menjadi alarm bagi otoritas keamanan di Paris dan seluruh dunia tentang pentingnya pembaruan teknologi pengawasan dan manajemen keamanan di tempat-tempat bersejarah yang menjadi simbol warisan budaya. Kelalaian Louvre membuka diskusi nasional mengenai pengawasan aset berharga yang selama ini dianggap sudah terlindungi dengan baik.

Pihak kepolisian dan museum kini berupaya melakukan evaluasi komprehensif untuk memperkuat sistem pengamanan dan menghindari insiden serupa di masa depan. Sementara itu, publik dan pengamat seni internasional menanti langkah konkret dari pemerintah Prancis untuk melindungi koleksi seni dan artefak bersejarah yang tak ternilai harganya.

Dengan peringatan dari Kepala Kepolisian Paris itu, diharapkan penanganan ke depan lebih responsif dan inovatif demi menjaga keamanan Museum Louvre dan aset budaya lainnya. Kerjasama antara otoritas keamanan, pengelola museum, dan teknologi modern diharapkan menjadi kunci utama dalam membangun sistem pengamanan yang tangguh dan adaptif menghadapi ancaman kejahatan masa kini.

Exit mobile version