Pertemuan Puncak Trump dan Xi: AS atau Tiongkok, Siapa Lebih Unggul?

Pertemuan puncak antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan berhasil menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang menandai gencatan senjata baru dalam perang dagang dan rivalitas geopolitik kedua negara terbesar di dunia. Kesepakatan ini memicu diskusi hangat tentang pihak mana yang sebenarnya keluar sebagai pemenang dalam negosiasi tersebut.

Posisi Xi Jinping yang Lebih Kuat

Dalam pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 30 Oktober, di sela-sela KTT APEC, Presiden Xi Jinping berhasil memperoleh pelonggaran sebagian kontrol ekspor teknologi yang sebelumnya diberlakukan oleh AS. Hasil ini dianggap signifikan karena menunjukkan posisi tawar Tiongkok yang lebih unggul dibandingkan pertemuan terakhir antara kedua pemimpin pada 2019.

Xi menggambarkan hubungan antara AS dan Tiongkok sebagai dua kapten yang memimpin sebuah kapal raksasa bersama-sama, menekankan pentingnya kestabilan dan kerja sama meski di tengah berbagai tantangan global. Pernyataan ini mencerminkan adanya keseimbangan baru dalam dinamika kekuatan antara kedua negara.

Menurut Dexter Roberts, peneliti senior di Global Tiongkok Hub, Atlantic Council, posisi Tiongkok kini jauh lebih kuat. Ia menyatakan, “Saya pikir Tiongkok sudah pasti meningkatkan statusnya, sementara AS justru menurunkan statusnya.” Hal ini menandai perubahan signifikan sejak Trump melancarkan perang dagang pada 2018.

Strategi Penguatan Ekonomi Tiongkok

Sejak konflik perdagangan dimulai, Beijing terus memperkuat ekonominya untuk lebih tahan terhadap tekanan dari luar. Salah satu strategi kunci adalah melalui pengaturan ketat ekspor mineral langka—komponen vital dalam berbagai produk teknologi tinggi, seperti ponsel dan pesawat tempur. Pengaturan ini menjadi alat negosiasi yang efektif bagi Tiongkok.

Gabriel Wildau, Wakil Presiden Senior di firma konsultasi Teneo, menilai bahwa kendali Tiongkok atas rantai pasokan mineral langka memberikan daya ungkit yang signifikan di panggung global. "Daya ungkit Beijing atas rantai pasokan global akan menjadi penahan bagi negara lain yang mempertimbangkan tindakan koersif terhadap Tiongkok," ujarnya.

Selain itu, Tiongkok berhasil mengurangi ketergantungan impor kedelai dari AS dengan mengalihkan pasokan ke Brasil dan Argentina. Langkah ini juga berdampak politik, menekan petani di basis-basis pemilih Partai Republik, seperti di Iowa dan Indiana, menjelang Pemilu Paruh Waktu 2026.

Kesepakatan dan Konsesi yang Dicapai

Dalam gencatan senjata terbaru, Tiongkok setuju menunda kontrol ekspor atas lima dari 12 mineral langka, meskipun tujuh mineral lainnya masih tetap dibatasi. Kesepakatan ini pada dasarnya membawa hubungan kedua negara kembali ke posisi sebelum AS menerapkan tarif besar awal tahun ini.

Salah satu konsesi penting yang menguntungkan Beijing adalah pengurangan tarif impor fentanil dari 20% menjadi 10%. Namun, meski ada kemajuan ini, Washington masih mempertahankan kendali atas teknologi tinggi, mempertahankan keunggulan strategisnya.

Dinamika Persaingan yang Terus Berlanjut

Para analis menilai persaingan strategis antara AS dan Tiongkok akan terus berlanjut meski terdapat kesepakatan baru. Ja Ian Chong, dosen ilmu politik di Universitas Nasional Singapura, menyatakan bahwa kedua negara saling berusaha mengadaptasi strategi masing-masing.

“AS memiliki keunggulan dalam bidang teknologi, sementara Tiongkok menemukan cara mengakalinya melalui kendali mineral langka,” katanya. Ia menambahkan bahwa dinamika ini akan terus muncul dalam berbagai bentuk.

Wang Wen, dekan Institut Chongyang Universitas Renmin Tiongkok, menegaskan bahwa perang dagang yang dilancarkan Trump gagal menekan kekuatan Tiongkok. Menurutnya, kekuatan tersebut telah memaksa AS untuk menghormati posisi Beijing dan membuka era baru hubungan yang lebih setara. “Era di mana AS bisa secara sepihak menekan Tiongkok sudah berakhir,” pungkasnya.

Pertemuan ini, selain mencerminkan perubahan keseimbangan kekuatan, juga menandai tantangan kompleks yang harus dihadapi kedua negara dalam mengelola hubungan yang saling bergantung namun penuh kompetisi. Gencatan senjata terbaru memberikan ruang untuk negosiasi lebih lanjut, namun persaingan teknologi dan ekonomi diperkirakan tetap menjadi fokus utama dalam hubungan kedua negara ke depan.

Source: mediaindonesia.com

Exit mobile version