Hasrat Trump Serang Venezuela & Jatuhkan Maduro: Langkah Maju Mundur yang Disorot Dunia

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan ketidakyakinan terhadap rencana penggunaan kekuatan militer untuk menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Para pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Trump terus mempertimbangkan berbagai opsi strategi karena khawatir serangan militer tidak langsung memaksa Maduro mundur dari kekuasaan.

Awalnya, AS meluncurkan operasi antinarkotika yang menargetkan kapal penyelundup, tetapi kini skenario tersebut berkembang menjadi pengerahan militer terbesar AS di Karibia dalam beberapa dekade. Tujuannya adalah menekan pemerintahan Maduro, namun keputusan untuk benar-benar mengusir atau memaksa Maduro memberikan konsesi masih belum ditetapkan.

Perubahan Strategi dan Pilihan Trump

Trump terus bertanya-tanya tentang opsi militer yang dapat dilancarkan, sementara beberapa pembantunya berpendapat bahwa serangan langsung mungkin akan dikeluarkan. Opsi yang dihadirkan meliputi peningkatan tekanan ekonomi melalui sanksi, dukungan lebih besar bagi oposisi Venezuela, hingga kampanye serangan udara terhadap fasilitas militer dan pemerintah.

Saat ini, Trump tampaknya puas dengan memperkuat kekuatan militer secara bertahap di kawasan Karibia sembari terus menghancurkan kapal-kapal narkoba. Pada 4 November, militer AS menghancurkan sebuah kapal di Pasifik Timur yang menewaskan dua diduga pengedar narkoba, sebagai bagian dari operasi antinarkotika tersebut.

Pertimbangan Hukum dan Dampak Politik

Departemen Kehakiman AS tengah menyusun justifikasi hukum untuk memungkinkan operasi militer menargetkan Maduro secara langsung. Pemerintah AS telah menyebut Maduro sebagai teroris narkotika, dengan hadiah US$50 juta untuk informasi yang dapat menuntut penyidikan atas kasus perdagangan narkoba.

Langkah ini dianggap dapat mendorong elite keamanan Venezuela untuk berbalik melawan Maduro. Sementara oposisi di bawah María Corina Machado meyakini masa kekuasaan Maduro semakin sempit dan menegaskan bahwa transisi pemerintahan akan terjadi, baik dengan atau tanpa kesepakatan Maduro.

Tanggapan Pejabat AS dan Dunia Internasional

Sejumlah pejabat AS menyatakan bahwa tindakan militer secara langsung kemungkinan besar tidak akan dilakukan meski Trump menunjukkan ketidaksabaran terhadap Maduro. Anggota DPR Jim Himes bahkan menyebut publikasi media lebih cepat menduga soal serangan militer dibanding pemerintah itu sendiri.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio berperan aktif dalam menyusun strategi penanganan Venezuela, khususnya kampanye anti-narkotika. Trump sempat mengindikasikan kemungkinan target serangan di dalam wilayah Venezuela, namun kemudian meredam pernyataannya dan menolak wacana perang terbuka.

Penguatan Militer AS di Kawasan

Pentagon telah mengerahkan kapal induk USS Gerald R Ford beserta gugus tugasnya ke Karibia sejak akhir Oktober. Kapal ini bergabung dengan delapan kapal perang AS lainnya di kawasan, menandai eskalasi signifikan kemampuan militer di dekat Venezuela.

Kedatangan kapal induk ini meningkatkan kemampuan AS untuk melakukan serangan udara dan peluncuran rudal jarak jauh jika perintah serangan diberikan. Meski demikian, sejumlah pengamat militer memperkirakan kapal ini masih melakukan latihan dan perawatan rutin sebelum benar-benar siap menghadapi skenario operasi.

Dengan berbagai pertimbangan politik, militer, dan hukum, keputusan Trump mengenai langkah berikutnya terhadap Venezuela masih dalam proses. Ketidakpastian ini mencerminkan dinamika kompleks yang terjadi di balik upaya AS untuk menggulingkan Maduro atau memaksa perubahan di Venezuela.

Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com
Exit mobile version