Beberapa negara di dunia memberikan kesempatan unik bagi warganya untuk menunaikan ibadah haji tanpa harus menunggu antrean panjang. Hal ini berbeda dengan kondisi di Indonesia yang terkenal dengan masa tunggu haji mencapai 26 tahun akibat kuota terbatas yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi.
Kebijakan antrean panjang di Indonesia menjadi tantangan serius karena animo jamaah sangat tinggi. Wakil Menteri Agama RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyampaikan bahwa penyeragaman masa tunggu haji sekitar 26 tahun merupakan bentuk penyesuaian kuota haji tahun 2026 yang berkurang cukup signifikan. Namun, di sisi lain, sejumlah negara justru tidak mengalami antrean panjang sehingga jamaah bisa langsung berangkat menunaikan ibadah haji setelah mendaftar.
Negara-negara yang Warganya Bisa Langsung Berangkat Haji
Berikut tujuh negara yang telah menerapkan sistem dan kondisi yang memungkinkan warga mereka berangkat haji tanpa harus menunggu bertahun-tahun:
-
Brunei Darussalam
Brunei memiliki populasi sekitar 400 ribu jiwa dengan lebih dari 70% beragama Islam. Kuota haji sekitar 1.000 jemaah setahun sangat seimbang dengan permintaan. Pemerintah Brunei mengelola pendaftaran haji secara efektif melalui sistem digital transparan. Selain itu, subsidi biaya haji dari pemerintah membuat perjalanan lebih terjangkau sehingga antrean hampir tidak pernah terjadi. -
Maladewa
Sebagai negara dengan penduduk sekitar setengah juta, mayoritas Muslim di Maladewa dapat langsung berangkat haji berkat rendahnya permintaan dibanding kuota yang tersedia. Pengelolaan oleh Maldives Hajj Corporation berjalan disiplin dan transparan. Bahkan, di beberapa tahun, kuota haji tidak terpakai karena jumlah pendaftar sangat sedikit. -
Suriname
Secara populasi, Muslim di Suriname hanya sekitar 15% dari total penduduk. Komunitas Muslim keturunan Jawa dan India ini aktif dalam pelaksanaan ibadah haji. Karena populasi Muslim relatif kecil, pendaftar yang ingin berhaji pun sedikit sehingga mereka bisa berangkat tanpa antrean menunggu lama. -
Guyana
Guyana memiliki komunitas Muslim kecil keturunan India yang tetap menjalankan tradisi Islam. Kuota Arab Saudi hampir selalu mencukupi karena jumlah pendaftar sangat sedikit. Walaupun jarak jauh dan biaya perjalanan menjadi tantangan, calon jamaah Guyana dapat langsung berangkat setelah memenuhi persyaratan administratif. -
Seychelles
Negara kepulauan kecil di Samudra Hindia ini memiliki populasi sekitar 100 ribu dengan hanya 1% warga Muslim. Permintaan haji sangat rendah sehingga kuota yang diberikan Arab Saudi hampir selalu mencukup. Mereka pun hampir tidak mengalami antrean panjang untuk berangkat haji. -
Fiji
Muslim di Fiji berjumlah sekitar 6% dari total penduduk dan mayoritas keturunan India. Komunitas ini sangat kompak dalam menjalankan ibadah dan kegiatan keagamaan. Jumlah calon haji tiap tahun tidak banyak dan didukung sistem administrasi baik, sehingga mereka bisa beribadah haji kapan saja tanpa menunggu lama. - Bosnia dan Herzegovina
Negara ini memiliki sejarah Islam yang panjang dengan banyak penduduk Muslim. Minat berhaji seimbang dengan kuota yang diberikan Arab Saudi. Pemerintah mengelola pendaftaran dengan sistem terpusat dan setiap jamaah mendapatkan pembinaan sebelum keberangkatan. Sehingga umumnya mereka bisa berangkat pada tahun yang sama atau satu tahun setelah mendaftar.
Kondisi di negara-negara tersebut menunjukkan bahwa faktor jumlah penduduk Muslim, pengelolaan kuota haji, dan sistem administrasi yang baik sangat menentukan lama waktu antrean berhaji. Sistem digital, subsidi, dan pendampingan juga berperan penting agar jamaah bisa berangkat tepat waktu. Ini menjadi pelajaran bagi negara dengan antrean panjang seperti Indonesia untuk terus memperbaiki pengelolaan haji agar masyarakat muslim dapat menunaikannya sesuai harapan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com