Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan bahwa AS tidak akan menghadiri KTT G20 yang digelar di Afrika Selatan pada akhir November 2025. Keputusan ini diambil terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami petani kulit putih di Afrika Selatan.
Trump menilai penyelenggaraan KTT G20 di Afrika Selatan sangat mengecewakan. Ia menuduh pemerintah Afrika Selatan memperlakukan petani kulit putih secara tidak adil, bahkan menyebut mereka menjadi korban kekerasan dan perampasan tanah secara ilegal.
Pada awal September 2025, Trump sudah mengumumkan bahwa dirinya tidak hadir langsung dalam KTT tersebut. Ia berencana mengirim Wakil Presiden JD Vance sebagai perwakilan AS. Namun, dalam pernyataan terbaru melalui media sosial, Trump menarik dukungan ini karena ketidakadilan yang terus terjadi terhadap komunitas petani kulit putih di sana.
Afrika Selatan menjadi negara Afrika pertama yang memegang presidensi G20 tahun ini. KTT akan diadakan selama dua hari mulai 22 November 2025 di Johannesburg, ibu kota bisnis negara tersebut. Pihak tuan rumah berupaya menampilkan afiliasi kuat dengan isu global, termasuk ekonomi dan perubahan iklim.
Trump mengungkapkan bahwa orang-orang Afrikaner, yang merupakan keturunan pemukim Belanda serta imigran Prancis dan Jerman, menghadapi ancaman serius. Ia menyatakan mereka dibunuh dan disembelih, sementara tanah mereka dirampas secara ilegal tanpa perlindungan hukum yang memadai.
Kritik Trump menyoroti konflik agraria dan sosial di Afrika Selatan yang telah berlangsung lama. Kasus kekerasan yang menimpa petani kulit putih seringkali menjadi topik kontroversial internasional dan memicu perdebatan terkait kebijakan redistribusi tanah dan keadilan sosial.
Di sisi lain, Afrika Selatan berupaya menyeimbangkan kebijakan-kebijakan transformatif pasca-apartheid dan tuntutan perlindungan hak asasi bagi seluruh warganya. Pemerintah setempat menegaskan komitmennya untuk mendorong pembangunan inklusif dan menolak tuduhan diskriminasi rasial.
Selain menarik partisipasi AS di KTT G20 Afrika Selatan, Trump juga dijadwalkan akan memimpin KTT G20 tahun depan. Pertemuan berikutnya akan berlangsung di resor golf miliknya di Miami, Florida. Ia menyatakan antusiasmenya untuk memperlihatkan “keberhasilan luar biasa” pemerintahannya kepada dunia.
Keputusan boikot KTT G20 oleh AS menimbulkan dampak politik signifikan. Hal ini bisa mempengaruhi dinamika hubungan bilateral dan kerja sama internasional dalam forum ekonomi global. Para pengamat menilai isu diskriminasi dan keadilan sosial tetap menjadi tantangan utama dalam diplomasi multilateral.
Berikut poin penting terkait boikot AS pada KTT G20 di Afrika Selatan:
1. AS tidak menghadiri KTT G20 di Afrika Selatan pada 22-23 November 2025.
2. Trump menuding pemerintah Afrika Selatan diskriminatif terhadap petani kulit putih.
3. Tuduhan mencakup kekerasan terhadap komunitas Afrikaner dan perampasan tanah secara ilegal.
4. JD Vance, Wakil Presiden AS, sebelumnya dijadwalkan menggantikan Trump, tapi kemudian dicabut.
5. Afrika Selatan adalah negara Afrika pertama yang memegang presidensi G20 tahun ini.
6. Trump dijadwalkan memimpin KTT G20 berikutnya di Miami, Florida, tahun 2026.
Keputusan ini menambah dimensi baru dalam perdebatan isu hak asasi manusia dan keadilan sosial di forum global. Tema pertanian dan distribusi lahan tetap menjadi perhatian utama dalam hubungan internasional antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat.
