Presiden Suriah Ahmed Al-Sharaa melakukan kunjungan resmi bersejarah ke Amerika Serikat setelah namanya dicabut dari daftar hitam terorisme oleh Departemen Luar Negeri AS. Pertemuan penting dengan Presiden Donald Trump dijadwalkan berlangsung di Gedung Putih pada Senin, 10 November 2025. Kunjungan ini menjadi yang pertama kali sejak Suriah merdeka pada 1946, menandai era baru hubungan bilateral.
Keputusan AS menghapus status teroris terhadap Sharaa mencerminkan perubahan signifikan setelah penggulingan rezim Bashar Assad. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott, menyatakan bahwa Pemerintah Suriah saat ini telah memenuhi tuntutan AS, termasuk upaya menemukan warga Amerika hilang dan memusnahkan senjata kimia. “Langkah ini diambil sebagai pengakuan kemajuan kepemimpinan Suriah setelah lebih dari 50 tahun penindasan di bawah rezim Assad,” kata Pigott.
Langkah Diplomasi dan Militansi Suriah
Sharaa sebelumnya dikenal sebagai pemimpin militan yang menggulingkan rezim Assad akhir tahun lalu. Kini, ia bergerak merubah citra Suriah menjadi pemerintahan yang lebih moderat dan terbuka dalam ranah internasional. Pada bulan Juli, kelompok militer yang berafiliasi dengannya, Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), juga dicabut status teroris oleh AS. Kunjungan Sharaa ke Gedung Putih adalah simbol transformasi dari pemimpin militan menjadi figur negarawan global.
Menurut Tom Barrack, utusan Washington untuk Suriah, Sharaa diperkirakan akan menandatangani perjanjian untuk bergabung dalam aliansi internasional yang dipimpin AS melawan ISIS. Rencana pembangunan pangkalan militer AS di dekat Damaskus juga sedang digagas untuk mengatur bantuan kemanusiaan serta memantau ketegangan antara Suriah dan Israel.
Dampak Internasional dan Regional
Penghapusan kategori teroris diharapkan meningkatkan stabilitas dan keamanan regional. Pigott menegaskan bahwa penghapusan daftar hitam akan mendorong proses politik inklusif yang dipimpin oleh rakyat Suriah. Sejalan dengan itu, kementerian Dalam Negeri Suriah mengintensifkan operasi kontra-terorisme dengan melakukan 61 penggerebekan dan 71 penangkapan terhadap sel-sel ISIS yang tersembunyi di berbagai wilayah seperti Aleppo, Idlib, dan Raqqa.
Kunjungan ini bukan hanya soal diplomasi politik, tetapi juga upaya Suriah mendapat dukungan dana dan bantuan internasional. Setelah perang saudara yang berlangsung 13 tahun, negara ini membutuhkan investasi besar untuk rekonstruksi. Bank Dunia memperkirakan biaya pembangunan kembali Suriah mencapai sekitar 216 miliar dolar AS dalam "perkiraan terbaik konservatif".
Transformasi Politik Suriah Setelah Assad
Peralihan kepemimpinan Suriah mulai terlihat dari perilaku dan pendekatan baru pemimpin Ahmed Al-Sharaa. Pada September lalu, Sharaa menjadi presiden Suriah pertama dalam beberapa dekade yang memberikan pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Langkah tersebut menegaskan kehadiran Suriah yang lebih terbuka di arena internasional.
Kunjungan ke AS dan pencabutan sanksi PBB, yang turut dipimpin oleh Washington, mengukuhkan posisi Suriah dalam komunitas global. Michael Hanna, Direktur Program AS International Crisis Group, menilai momen ini sebagai refleksi komitmen AS pada perubahan dan sebuah kesempatan untuk stabilitas baru di Suriah.
Pada akhirnya, hubungan antara Suriah dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang penuh harapan. Pertemuan antara Ahmed Al-Sharaa dan Donald Trump di Gedung Putih membuka peluang kerja sama strategis di bidang kemanan, ekonomi, dan kemanusiaan yang dapat memengaruhi perkembangan politik dan sosial di Timur Tengah.
