Kelompok Risiko Tinggi Terinfeksi Superflu: Ibu Hamil, Lansia, dan Pentingnya Pencegahan

Superflu merupakan varian baru dari virus influenza yang mulai terdeteksi di Indonesia hingga akhir 2025. Virus ini termasuk influenza tipe A subtipe H3N2 dengan subklade K yang sebelumnya jarang ditemukan dan dilaporkan pertama kali oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025.

Dosen FKIK UMY, dr Farindira Vesti Rahmasari, menjelaskan bahwa superflu memiliki karakteristik mirip influenza biasa, namun gejalanya lebih berat dan lama sembuh. Kasus di Indonesia tercatat sebanyak 62, dengan kelompok paling rentan adalah lansia, ibu hamil, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta seperti diabetes, jantung, ginjal, dan penyakit paru-paru.

Faktor Risiko Kelompok Rentan

Superflu berpotensi menyebabkan komplikasi serius bagi kelompok rentan tersebut. Kelompok lansia dan ibu hamil memiliki daya tahan tubuh yang cenderung melemah sehingga lebih mudah terkena infeksi. Anak-anak juga berisiko tinggi karena sistem imun mereka belum sepenuhnya berkembang.

Penderita penyakit penyerta memiliki gangguan imun yang memperparah kondisi ketika terinfeksi superflu. Oleh karena itu, pengawasan dan perlindungan terhadap kelompok ini menjadi sangat penting untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian.

Gejala dan Dampak Klinis Superflu

Gejala superflu meliputi demam tinggi, nyeri otot berat, kelelahan ekstrem, serta tubuh sangat lemas. Selain itu, waktu pemulihan dapat lebih dari dua minggu, jauh lebih lama dibanding influenza biasa. Risiko komplikasi juga meningkat, misalnya pneumonia dan gangguan pernapasan berat.

Tingkat keparahan yang lebih tinggi ini menuntut penanganan serius dan pencegahan yang efektif. Tanpa pengobatan dan tindakan pencegahan, superflu dapat memperburuk kondisi pasien terutama yang memiliki faktor risiko medis.

Pencegahan dan Upaya Kesehatan Masyarakat

Vaksinasi influenza tetap menjadi langkah utama untuk mencegah penularan dan meminimalkan risiko komplikasi. Selain vaksinasi, penggunaan masker saat sakit, menjaga kebersihan tangan, disiplin etika batuk dan bersin, serta menjaga daya tahan tubuh sangat dianjurkan.

Setelah pandemi Covid-19, ekspos terhadap virus influenza meningkat karena pembatasan sosial telah dicabut. Hal ini menyebabkan penyebaran virus influenza dan varian baru seperti superflu menjadi lebih cepat dan luas.

Imbauan untuk Masyarakat

Masyarakat dihimbau untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat sebagai langkah protektif. Menghindari kontak dengan penderita flu dan menjaga kesehatan tubuh dapat mengurangi risiko tertular. Khusus kelompok rentan, aktivitas sosial perlu diawasi agar tidak terpapar virus secara berlebihan.

Pemerintah dan fasilitas kesehatan mulai mengantisipasi dengan menyiapkan protokol penanganan dan fasilitas isolasi. Kesadaran dan kepatuhan masyarakat terhadap anjuran medis menjadi kunci dalam menekan angka penularan superflu di Indonesia.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version