Guru Besar UI Jelaskan Penyebab dan Risiko GERD Tanpa Hubungan Langsung dengan Kematian

Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Ari Fahrial Syam, menegaskan bahwa penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tidak menyebabkan kematian secara langsung. Pernyataan ini sekaligus meluruskan kabar viral yang menyebutkan bahwa GERD dapat berujung pada kematian.

Prof. Ari menyebutkan bahwa kasus GERD di masyarakat saat ini semakin meningkat. Ia mengingatkan bahwa GERD berbeda dengan sakit maag biasa karena sifat komplikasinya yang lebih serius akibat naiknya asam lambung secara berlebihan.

Komplikasi dan Dampak GERD

GERD dapat membuat kerongkongan mengalami luka, penyempitan, serta lesi yang berpotensi berkembang menjadi prekanker atau kanker jika tidak segera ditangani. Selain kerongkongan, asam lambung yang naik juga dapat mengganggu fungsi organ lain seperti telinga menyebabkan tinnitus, hidung yang kerap bersin atau mengalami radang sinus, hingga pita suara yang menimbulkan suara serak.

Lebih lanjut, asam lambung yang tidak terkendali juga bisa berdampak pada paru-paru sehingga menimbulkan gangguan pernapasan. Prof. Ari menegaskan bahwa walau dampak GERD sangat berat, penyakit ini tidak langsung mengakibatkan kematian tetapi dapat menjadi risiko kanker jika dibiarkan lama.

Gangguan Psikologis Akibat GERD

GERD tak hanya berpengaruh fisik. Penderita juga sering merasa cemas atau anxiety karena sensasi tercekik dan kesulitan bernapas akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan. Rasa takut terhadap serangan jantung pun kerap muncul karena gejala tersebut menyerupai gangguan kardiovaskular.

Penderita dari Semua Usia

Menurut Prof. Ari, GERD dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur. Umumnya, penyakit ini banyak ditemui pada usia produktif antara 20 hingga 40 tahun. Di sisi lain, kasus GERD pada anak juga makin meningkat, disebabkan pola makan yang tidak sehat dan tidak teratur.

Tanda-tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai sebagai tanda bahaya GERD:

  1. Muntah hebat dan terus-menerus
  2. Penurunan berat badan secara signifikan
  3. BAB berwarna hitam, tanda pendarahan saluran cerna
  4. Muntah darah

Jika pasien mengalami gejala-gejala ini, mereka harus segera mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Pengobatan dan Pencegahan GERD

Penyakit GERD bisa diobati. Pemeriksaan seperti endoskopi dan pH meter membantu memastikan diagnosis dan menentukan tingkat naiknya asam lambung. Pengobatan terpadu sangat penting untuk mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan atau organ lain.

Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama pencegahan dan pengelolaan GERD. Pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, serta menghindari konsumsi alkohol dan merokok sangat dianjurkan demi meminimalisasi risiko kekambuhan.

Selain itu, saat ini sudah tersedia obat-obatan baru yang diyakini lebih efektif dibandingkan Proton Pump Inhibitor (PPI) yang selama ini dipakai. Obat tersebut berperan besar dalam membantu mengendalikan kondisi pasien GERD agar kualitas hidup mereka meningkat.

Gejala Umum GERD

Beberapa gejala GERD yang sering dialami pasien meliputi:

  1. Rasa pahit di mulut akibat asam lambung naik
  2. Mual dan sensasi ingin muntah
  3. Regurgitasi makanan kembali ke mulut
  4. Kerusakan gigi akibat asam lambung
  5. Batuk kronis karena iritasi tenggorokan
  6. Rasa sakit dan kesulitan saat menelan
  7. Bau mulut yang tidak sedap
  8. Sakit tenggorokan dan suara berubah serak

Memahami tanda-tanda ini membantu pasien untuk mengenali dan mencari penanganan sedini mungkin. Pengendalian penyakit secara tepat menjadi langkah krusial agar komplikasi dan risiko kanker dapat dihindari.

Guru Besar UI ini secara tegas menyatakan bahwa meskipun GERD tidak langsung menyebabkan kematian, dampak jangka panjangnya tidak bisa dianggap remeh. Edukasi dan penerapan pola hidup sehat harus menjadi perhatian utama masyarakat untuk mengatasi masalah ini secara efektif.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button