Dampak Banjir dan Perubahan Iklim pada Kesehatan Mental yang Perlu Waspadai

Banjir menjadi salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di dunia dan membawa dampak tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada kesehatan mental manusia. Data global menunjukkan bahwa antara 1998 dan 2017, lebih dari dua miliar orang terdampak banjir sementara 44% dari keseluruhan bencana yang terjadi di dunia berkaitan dengan banjir.

Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem semakin sering muncul membuat risiko terdampak banjir meningkat. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada Maret 2022 mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem dan banjir berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan masyarakat, termasuk risiko gangguan mental.

Dampak Banjir pada Kesehatan Mental

Banjir dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, insomnia, dan psikosis. Korban banjir sering kali mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) bahkan bertahun-tahun setelah bencana berlangsung. Faktor seperti gangguan pasokan listrik, air, dan makanan turut memperparah tekanan psikologis masyarakat terdampak, terutama jika gangguan berlangsung lama.

Profesor Reggie Ferreira dari Universitas Tulane menyatakan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental di masa tanggap bencana masih sangat kurang. “Layanan kesehatan mental kekurangan sumber daya yang memadai. Jika kesehatan mental tidak menjadi prioritas, pembangunan infrastruktur bencana tidak akan efektif dalam jangka panjang,” ujarnya.

Menurut laporan yayasan Wellcome, korban banjir di Inggris berisiko hingga delapan kali lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental jangka panjang dibandingkan dengan orang yang tidak terdampak. Studi lain yang dimuat Journal of the American Medical Association menunjukkan bahwa sepertiga lebih korban bencana alam bisa mengalami gangguan stres pascatrauma dan gangguan mental lain.

Tanda-Tanda Gangguan Mental Pasca Banjir

Respons terhadap bencana tiap individu sangat bervariasi, namun terdapat gejala umum yang perlu diwaspadai. Reggie Ferreira menerangkan gejala tersebut meliputi ketakutan, mati rasa, rasa bersalah, bahkan munculnya pemicu trauma seperti bau dan ingatan terkait kejadian banjir.

Selain itu, beberapa korban terkadang beralih ke penyalahgunaan zat dan mengalami konflik dalam hubungan interpersonal akibat tekanan mental. Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa intensitas dan frekuensi cuaca ekstrem akan terus meningkat seiring perubahan iklim, sehingga risiko gangguan kesehatan mental terkait bencana akan semakin besar.

Dampak Terhadap Mental Anak-Anak

Banjir juga memberikan dampak psikologis signifikan pada anak-anak, baik yang terdampak langsung maupun tidak langsung. Marni Elyse Axelrad, psikolog anak, menyatakan bahwa anak yang terkena langsung bencana bisa menunjukkan gejala seperti iritabilitas, perubahan pola tidur dan nafsu makan, serta keluhan fisik.

Dalam jangka panjang, anak-anak berisiko mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma. Anak-anak yang tidak terdampak langsung tetap bisa mengalami efek psikologis dari eksposur media dan berita mengenai banjir. Axelrad menekankan pentingnya membantu anak memproses emosi mereka dengan membangun rutinitas yang familiar, memvalidasi perasaan, dan menghadirkan dukungan ekstra.

Upaya Penanggulangan dan Kesiapsiagaan

Kesehatan mental menjadi aspek yang harus dirangkul dalam penanganan bencana banjir. Selain tanggap darurat fisik dan penyediaan kebutuhan dasar, intervensi psikososial harus diberikan untuk meminimalkan dampak jangka panjang pada korban. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan petugas penanggulangan bencana.

Pemerintah dan pengambil kebijakan juga didorong untuk meningkatkan sumber daya layanan kesehatan mental sebagai bagian dari strategi kesiapsiagaan bencana. Tanpa perhatian serius terhadap kesehatan mental, pembangunan infrastruktur dan pemulihan fisik tidak akan efektif sepenuhnya.

Banjir bukan hanya sekadar ancaman fisik dan ekonomi, tetapi juga menimbulkan krisis kesehatan mental yang mendalam. Penanganan yang terpadu dan berimbang antara aspek fisik dan psikologis sangat penting agar masyarakat terdampak dapat pulih secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version