Masih banyak orang tua yang menganggap cubit, pukul, atau bentuk hukuman fisik lain sebagai cara cepat untuk mendisiplinkan anak. Padahal, data terbaru menunjukkan bahwa kekerasan fisik tidak membuat anak lebih patuh, justru meningkatkan risiko gangguan emosi, perilaku agresif, dan masalah perkembangan jangka panjang.
Laporan komprehensif Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada 2025 yang menghimpun data dari 49 negara menegaskan bahwa hukuman fisik tidak memberi manfaat bagi tumbuh kembang anak. Temuan itu sejalan dengan riset lain yang menunjukkan bahwa efek negatif dari kekerasan tidak hilang hanya karena dilakukan dengan alasan mendidik atau dibarengi kasih sayang.
Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Anak Dicubit atau Dipukul
Banyak orang tua masih percaya anak “perlu merasakan” akibat langsung dari kesalahan agar jera. Namun, penelitian menunjukkan bahwa yang lebih dominan muncul justru rasa takut, bukan pemahaman perilaku yang benar.
Data WHO menyebut anak yang sering menerima hukuman fisik memiliki kemungkinan 24 persen lebih kecil untuk berkembang secara normal. Kelompok ini juga lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, rendah diri, dan ketidakstabilan emosi yang bisa terbawa sampai dewasa.
Mitos “Asal Jangan Kelewat” Masih Banyak Dipercaya
Sebagian orang tua beranggapan cubitan ringan berbeda dengan kekerasan berat, sehingga dianggap masih aman dan efektif. Akan tetapi, penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa dampak buruk tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras tindakan itu dilakukan, melainkan juga oleh pesan yang diterima anak dari tindakan tersebut.
Studi jangka panjang tahun 2025 oleh Rong Huang dan Rachel Chazan-Cohen dari Austin Peay State University di Amerika Serikat memperkuat temuan itu. Anak yang dipukul pada usia 5 tahun cenderung tumbuh menjadi lebih agresif dan membangkang saat memasuki usia sekolah dasar.
Penelitian itu juga menegaskan bahwa kasih sayang orang tua tidak otomatis menghapus dampak negatif dari hukuman fisik. Dalam laporan tersebut disebutkan, “Kasih sayang tidak dapat sepenuhnya menghilangkan dampak negatif dari hukuman fisik yang telah diterima anak.”
Mengapa Hukuman Fisik Berbahaya bagi Perkembangan Anak
Hukuman fisik tidak hanya memengaruhi emosi anak dalam jangka pendek, tetapi juga membentuk cara mereka memahami relasi dan konflik. Anak yang berkali-kali melihat kekerasan sebagai respons terhadap kesalahan dapat menyerap pesan bahwa kekerasan adalah alat menyelesaikan masalah.
Situasi ini berbahaya karena anak belajar dari contoh, bukan hanya dari nasihat. Jika orang dewasa memakai kekerasan saat marah, anak bisa meniru pola itu saat menghadapi adik, teman, atau orang lain.
- Anak belajar takut, bukan memahami alasan aturan.
- Anak cenderung menyembunyikan kesalahan agar tidak dihukum.
- Anak bisa meniru perilaku agresif yang ia alami.
- Hubungan anak dan orang tua berisiko menjadi lebih jauh secara emosional.
- Risiko masalah psikologis meningkat hingga masa remaja dan dewasa.
Pandangan Ahli dan Hak Anak
Dr Kim Kopko, ahli perkembangan anak dari Universitas Cornell, menegaskan bahwa hukuman fisik merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Pandangan ini sejalan dengan pergeseran kebijakan di banyak negara yang mulai menempatkan perlindungan anak sebagai prioritas utama dalam keluarga maupun institusi.
Menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut, sekitar 70 negara telah melarang sepenuhnya praktik kekerasan fisik terhadap anak di lingkungan rumah tangga. Angka ini menunjukkan bahwa dunia makin mengakui bahwa mendidik anak tidak perlu dilakukan lewat rasa sakit.
Disiplin Positif Lebih Efektif daripada Cubit
Pakar perkembangan anak mendorong orang tua beralih ke disiplin positif yang tetap tegas tanpa kekerasan. Metode ini membantu anak memahami konsekuensi, memperbaiki perilaku, dan tetap merasa aman secara emosional.
Beberapa pendekatan yang disarankan antara lain:
- Pojok waktu tenang untuk memberi anak ruang menenangkan diri.
- Pencabutan hak istimewa, misalnya sementara tidak boleh menonton TV atau bermain gim.
- Pemberian penjelasan singkat dan konsisten tentang aturan yang dilanggar.
- Pujian saat anak menunjukkan perilaku baik agar perilaku positif lebih sering muncul.
- Orang tua menjaga nada suara tetap tenang saat konflik agar anak meniru cara menyelesaikan masalah yang sehat.
Mengubah Pola Asuh Butuh Konsistensi
Banyak orang tua memakai hukuman fisik bukan karena ingin menyakiti, melainkan karena tidak punya pilihan lain saat lelah atau kehilangan kendali. Karena itu, perubahan pola asuh perlu dimulai dari kemampuan orang tua mengelola emosi sendiri sebelum menegur anak.
Anak akan lebih mudah belajar disiplin bila aturan dibuat jelas, konsekuensinya konsisten, dan hubungan emosional tetap hangat. Dalam pendekatan seperti ini, anak tidak dibentuk melalui rasa sakit, tetapi melalui arahan, batasan, dan teladan yang stabil dari orang dewasa di sekitarnya.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com