Mitos Puasa yang Sering Beredar: Bikin Berat Naik atau Turun, GERD Makin Parah?

Mitos Puasa: Jadi Kurus atau Gendut?
Puasa Ramadan sering dianggap momen efektif untuk menurunkan berat badan, terutama bagi yang mengalami obesitas. Studi dari National Library of Medicine (2019) menyebutkan bahwa puasa memang dapat menurunkan berat badan dan persentase lemak tubuh pada orang yang obesitas. Namun, penurunan ini biasanya tidak bertahan lama jika tidak diikuti dengan perubahan gaya hidup sehat setelah Ramadan. Sebaliknya, pada orang dengan berat badan normal, berat badan sering kali justru meningkat setelah puasa, karena pola makan dan kebiasaan yang berubah selama bulan puasa.

Fokus dan Konsentrasi Saat Puasa
Mengalami penurunan konsentrasi di awal puasa adalah hal yang umum karena tubuh butuh adaptasi. Namun, berbagai penelitian menyatakan bahwa puasa jangka pendek tidak signifikan menurunkan kinerja kognitif pada orang dewasa. Malah, puasa dapat melatih otak melalui mekanisme neuroplastisitas dan proses pembersihan sel saraf yang rusak (autophagy). Selain itu, puasa juga merangsang produksi protein BDNF yang penting untuk memori dan regenerasi neuron.

Olahraga Selama Puasa: Apa yang Perlu Diperhatikan?
Puasa tidak berarti harus berhenti total dari aktivitas olahraga. Menyesuaikan intensitas dan waktu olahraga sangat penting agar tubuh tetap sehat dan massa otot terjaga. Ada tiga waktu yang disarankan untuk berolahraga saat Ramadan:

  1. Setelah sahur: Olahraga ringan untuk menghindari risiko dehidrasi sekaligus membantu peredaran darah.
  2. Sesaat sebelum berbuka: Olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang, seperti jalan cepat atau jogging pendek, dapat membantu pembakaran lemak lebih efektif.
  3. 1-2 jam setelah berbuka: Waktu terbaik untuk latihan intensitas sedang hingga tinggi karena tubuh sudah terhidrasi dan mendapatkan energi. Namun, fokus utama tetap pada pemeliharaan kebugaran, bukan performa atletik.

Puasa dan Kondisi Maag/Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
Banyak yang percaya puasa dapat memperparah penyakit lambung seperti maag dan GERD, padahal fakta berbeda. Gejala maag dan GERD sering muncul karena pola makan yang tidak teratur, makan tergesa, dan asupan makanan pemicu asam lambung, bukan puasa itu sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa pasien GERD yang mematuhi pengobatan rutin dan pola makan teratur di malam hari selama Ramadan dapat mengendalikan gejala refluks dengan baik. Dengan demikian, puasa tidak secara langsung menyebabkan kambuhnya penyakit lambung.

Dengan memahami fakta di balik mitos-mitos puasa ini, masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih sehat dan aman. Penting untuk terus menjaga pola makan, aktivitas fisik, serta rutin mengikuti pengobatan bila memiliki riwayat penyakit untuk mendapatkan manfaat maksimal selama Ramadan.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button