Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan faktor risiko utama terjadinya kanker lambung yang menyebabkan sekitar 700.000 kematian setiap tahun secara global. Banyak pasien tidak menyadari infeksi ini karena gejalanya sering kali tampak seperti gangguan pencernaan ringan, seperti nyeri ulu hati dan perut kembung.
Kanker lambung biasanya berkembang tanpa gejala khusus pada tahap awal sehingga pasien kerap datang ke dokter saat penyakit sudah stadium lanjut. Oleh karena itu, deteksi dini infeksi H. pylori sangat penting untuk mencegah komplikasi serius, termasuk berkembangnya lesi prakanker.
Peran Urea Breath Test dalam Deteksi Dini
Urea Breath Test (UBT) menjadi metode non-invasif yang paling umum digunakan untuk mendeteksi infeksi H. pylori. Metode ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi sehingga dapat memberikan hasil diagnosis yang akurat. Lebih dari sekadar mendeteksi, UBT juga berguna untuk mengevaluasi keberhasilan terapi eradikasi bakteri setelah pengobatan.
Menurut dr. David Reinhard Sumantri Samosir, SpPD-KGEH, UBT menawarkan keunggulan dibandingkan metode invasif seperti endoskopi dan biopsi. Selain lebih nyaman bagi pasien, UBT memungkinkan skrining yang lebih luas dan cepat di fasilitas layanan kesehatan.
Dampak Jangka Panjang Infeksi H. pylori
Infeksi yang tidak tertangani dapat menyebabkan peradangan kronis pada mukosa lambung. Kondisi ini berisiko berkembang menjadi lesi prakanker dan akhirnya kanker lambung. Studi menunjukkan penderita infeksi H. pylori memiliki risiko kanker lambung hingga 3% lebih tinggi dibandingkan yang tidak terinfeksi.
Selain kanker lambung, penelitian terbaru juga mengungkap keterkaitan infeksi H. pylori dengan terbentuknya polip di usus besar. Beberapa polip tersebut berpotensi berubah menjadi keganasan, sehingga deteksi dan penanganan dini harus dilakukan tidak hanya untuk pencegahan kanker lambung tetapi juga kanker kolorektal.
Layanan Kesehatan dan Penanganan Terpadu
Fasilitas kesehatan seperti Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan pemeriksaan lengkap mulai dari UBT hingga endoskopi, gastroskopi, dan kolonoskopi untuk evaluasi menyeluruh saluran cerna. Diagnosa yang tepat memungkinkan penanganan individual sesuai stadium keganasan dan kondisi pasien.
Dalam kasus kanker saluran cerna yang sudah berkembang, operasi digestif menjadi metode pengobatan yang dapat meningkatkan peluang kesembuhan. dr. Mudatsir, SpB Subsp. BD(K) menjelaskan bahwa terapi kanker saluran cerna harus disesuaikan dengan ukuran tumor, penyebaran, dan kondisi fisik pasien.
Penting untuk diketahui, keberhasilan operasi kuratif sangat tergantung pada deteksi dini sehingga risiko kekambuhan dapat diminimalkan. Oleh karena itu, skrining rutin menggunakan Urea Breath Test dan evaluasi kondisi saluran cerna secara menyeluruh sangat dianjurkan bagi individu berisiko terutama yang menunjukkan gejala awal infeksi.
Deteksi dan penanganan infeksi H. pylori dengan tepat dapat menyelamatkan banyak nyawa dari ancaman kanker lambung dan komplikasi kanker saluran cerna lainnya. Upaya preventif melalui skrining efektif seperti UBT harus menjadi bagian dari strategi kesehatan masyarakat untuk menurunkan angka kematian akibat kanker di Indonesia dan dunia.
Baca selengkapnya di: www.suara.com