Fakta Ilmiah Sahur dan Dampaknya pada Kualitas Tidur yang Perlu Anda Ketahui

Author: Qoo Media

Aktivitas sahur selama Ramadan sering dianggap sebagai penyebab gangguan tidur. Namun, secara ilmiah, gangguan tidur selama Ramadan lebih kompleks dan tidak hanya disebabkan oleh sahur saja. Perubahan gaya hidup yang melibatkan pola makan dan aktivitas malam turut berperan dalam mengubah kualitas tidur.

Selama Ramadan, umat Muslim biasanya melakukan berbagai kegiatan di malam hari seperti salat Tarawih dan interaksi sosial. Kondisi ini membuat waktu tidur malam yang ideal sekitar delapan jam tanpa jeda menjadi sulit dicapai.

Perubahan Pola Tidur Selama Ramadan

Penelitian menunjukkan bahwa ritme sirkadian, yakni jam biologis tubuh yang mengatur kantuk dan kewaspadaan, bisa terganggu akibat pergeseran waktu tidur dan makan. Studi internasional terhadap mahasiswa-atlet semi profesional mengungkapkan bahwa selama Ramadan terjadi pergeseran waktu tidur ke malam hari yang lebih larut. Durasi tidur berkurang hingga 1,75 jam pada paruh kedua bulan puasa.

Hasil penelitian tersebut juga mencatat adanya penurunan kualitas tidur dan peningkatan gejala seperti kantuk berlebihan di siang hari dan insomnia. Artinya, pola tidur yang berubah selama Ramadan berpotensi menimbulkan kelelahan dan menurunkan konsentrasi.

Faktor-Faktor Penyebab Gangguan Tidur Selain Sahur

Gangguan tidur tidak semata-mata akibat sahur. Beberapa faktor lain yang ikut berkontribusi antara lain:

  1. Aktivitas malam lebih panjang karena ibadah dan sosial.
  2. Konsumsi makanan berat atau kafein dalam waktu malam.
  3. Paparan cahaya layar gawai yang mengurangi hormon melatonin.
  4. Kebiasaan tidur siang yang terlalu lama.

Paparan cahaya biru dari perangkat elektronik salah satunya dapat menekan produksi melatonin, hormon yang penting untuk tidur nyenyak. Hal ini membuat tubuh sulit mengatur ritme biologisnya secara optimal.

Dampak Gangguan Tidur pada Berpuasa

Walau penelitian ini menggunakan sampel mahasiswa-atlet dengan aktivitas fisik dan akademik tinggi, temuan ini tetap memberikan gambaran umum. Bagi masyarakat yang mempunyai jadwal lebih fleksibel mungkin dampaknya lebih ringan. Namun pada dasarnya, perubahan pola tidur malam dan aktivitas yang padat selama Ramadan berpotensi mengurangi kualitas istirahat siapa saja.

Gangguan tidur yang terjadi lebih merupakan efek dari totalitas perubahan gaya hidup Ramadan, bukan hanya dari aktivitas sahur semata.

Strategi Menjaga Kualitas Tidur Selama Sahur

Kabar baiknya, kualitas tidur dapat diperbaiki dengan penyesuaian pola yang tepat. Metode yang populer adalah pola tidur bifasik, yakni membagi waktu tidur menjadi dua sesi. Misalnya, tidur sekitar empat jam setelah salat Tarawih, bangun untuk sahur dan salat Subuh, lalu melanjutkan tidur satu hingga dua jam sebelum aktivitas dimulai.

Beberapa tips lain agar tidur tetap berkualitas selama Ramadan meliputi:

  • Menjaga kamar tidur tetap gelap dan tenang.
  • Menghindari pemakaian gawai 30-60 menit sebelum tidur.
  • Membatasi konsumsi kafein pada sore dan malam hari.
  • Memilih makanan sahur bergizi dan seimbang.
  • Menghindari makanan berat atau berlemak menjelang tidur.
  • Tidur siang singkat sekitar 20-30 menit (qailulah) untuk menambah energi tanpa merusak siklus malam.

Mengurangi Rasa Kantuk Saat Berpuasa

Rasa kantuk saat berpuasa sering muncul akibat pola tidur yang berubah. Beberapa langkah sederhana bisa membantu mengurangi kantuk:

  1. Minum air dengan pola 2-4-2, yaitu dua gelas saat berbuka, empat gelas malam hari, dan dua gelas saat sahur.
  2. Melakukan olahraga ringan seperti berjalan menjelang berbuka.
  3. Menerapkan latihan pernapasan dalam untuk menambah suplai oksigen.
  4. Memastikan penerangan cukup terang saat bekerja agar tubuh tetap waspada.

Dengan memahami mekanisme di balik perubahan tidur saat Ramadan dan menerapkan penyesuaian, kualitas tidur selama sahur dapat tetap terjaga. Sahur sebenarnya bukan faktor utama pengganggu tidur, melainkan bagian dari dinamika gaya hidup yang harus disikapi dengan strategi tepat agar kesehatan tetap optimal saat berpuasa.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Terbaru