Kronologi Dokter Internship Positif Campak Hingga Meninggal, Saat Demam Diremehkan Sebelum Sibuk di IGD

Kronologi kasus dokter internship berinisial AMW, 25 tahun, yang meninggal dunia akibat campak di RSUD Pagelaran, Kabupaten Cianjur, menjadi sorotan karena semula ia masih tetap bertugas meski sudah merasakan gejala awal. Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa penelusuran kasus menunjukkan dokter tersebut kemungkinan sudah terinfeksi sebelum 18 Maret 2026, saat keluhan demam, flu, dan batuk mulai muncul.

Kasus ini juga menegaskan risiko penularan campak di fasilitas kesehatan, terutama ketika tenaga medis tetap berinteraksi dengan pasien saat gejala awal belum disadari sebagai infeksi menular. Setelah pemeriksaan lanjutan, hasil spesimen serum pada 28 Maret 2026 dinyatakan positif campak, sementara kondisi AMW berkembang menjadi komplikasi berat yang berujung pada kematian.

Awal Paparan dan Tugas di IGD

Berdasarkan penjelasan Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, AMW sempat menangani pasien campak di Instalasi Gawat Darurat RSUD Pagelaran pada 8, 19, dan 21 Maret 2026. Ia juga tercatat bertugas pada 15 dan 16 Maret selama dua hari berturut-turut.

Kemenkes menilai rangkaian aktivitas itu penting untuk menelusuri sumber paparan. Dari catatan tersebut, dugaan awal menunjukkan bahwa penularan bisa terjadi lebih dulu sebelum gejala muncul pada 18 Maret.

Gejala Muncul Saat Masih Bertugas

Pada 18 Maret 2026, AMW mulai mengalami demam, flu, dan batuk. Ia kemudian sempat meminta izin tidak berdinas, dan permintaan itu disetujui oleh pihak terkait.

Namun, kondisi fisiknya saat itu masih ia anggap cukup stabil untuk melanjutkan pekerjaan. Karena itu, ia tetap masuk pada 19, 20, dan 21 Maret, dan selama periode tersebut ia kembali menangani pasien campak di IGD.

Ruam Muncul dan Kondisi Memburuk

Pada 21 Maret, ruam khas campak mulai terlihat di kulit AMW. Setelah itu, kondisinya menurun lebih jauh sehingga ia akhirnya mengajukan cuti dan menghentikan aktivitas dinas.

Dalam penanganan penyakit campak, munculnya ruam biasanya menandai fase klinis yang semakin jelas setelah gejala awal seperti demam dan batuk. Pada kasus AMW, perburukan berlangsung cepat dan berlanjut hingga ia membutuhkan penanganan darurat beberapa hari kemudian.

Masuk Rumah Sakit dan Kondisi Kritis

Pada 25 Maret 2026 pukul 23.00 WIB, keluarga membawa AMW ke IGD RS Cimacan setelah penurunan kesadaran sejak satu jam sebelumnya. Saat tiba, kondisi vitalnya sudah sangat buruk, dengan akral dingin, tekanan darah 90/60 mmHg, denyut nadi 144 kali per menit, dan saturasi oksigen hanya 35 persen.

Setelah diberi oksigen 15 liter per menit, saturasi oksigen naik menjadi 50 persen. Meski demikian, kondisinya tetap gawat sehingga pada 26 Maret pukul 00.30 WIB ia dipindahkan ke ICU untuk pemantauan dan penanganan intensif.

Perawatan Intensif hingga Meninggal Dunia

Di ICU, tim medis melakukan intubasi pada pukul 08.15 WIB untuk membantu pernapasan AMW. Meski sudah mendapat perawatan lanjutan, kondisinya terus menurun dan ia dinyatakan meninggal dunia pada pukul 11.30 WIB di hari yang sama.

Diagnosis akhir yang disampaikan adalah campak dengan komplikasi pada jantung dan otak. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi campak dapat berkembang berat, terutama bila memicu gangguan sistemik dan penurunan kesadaran.

Langkah Penelusuran Kemenkes

  1. Melakukan penyelidikan epidemiologi bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Cianjur pada 27 Maret 2026.
  2. Mengambil spesimen serum dari pasien untuk pemeriksaan laboratorium.
  3. Mengirim spesimen ke Laboratorium Bio Farma.
  4. Mengonfirmasi hasil pemeriksaan pada 28 Maret 2026 dengan status positif campak.
  5. Menyusun langkah pengawasan untuk mencegah kejadian serupa di lingkungan layanan kesehatan.

Kemenkes menegaskan bahwa proses investigasi dilakukan segera setelah kasus ini diketahui. Langkah cepat itu penting untuk mengetahui rantai paparan, memastikan ada tidaknya penularan lanjutan, serta memantau kondisi tenaga kesehatan lain yang sempat kontak erat.

Mengapa Kasus Ini Menjadi Perhatian

Campak dikenal sangat menular dan dapat menyebar lewat percikan udara dari batuk atau bersin. Dalam lingkungan fasilitas kesehatan, risiko paparan bisa meningkat bila tenaga medis belum menyadari dirinya sudah terinfeksi saat masih berada di masa awal gejala.

Kasus AMW juga menyoroti pentingnya pemantauan kesehatan tenaga medis, terutama dokter internship yang bekerja di garda terdepan. Kemenkes menilai kepatuhan pada protokol pencegahan dan deteksi dini harus diperkuat agar tenaga kesehatan tidak tetap melayani pasien saat mengalami gejala infeksi menular.

Secara umum, kasus ini memperlihatkan bagaimana campak yang tampak diawali gejala ringan dapat berkembang cepat menjadi kondisi fatal, terutama bila disertai komplikasi berat. Karena itu, pengawasan kesehatan di rumah sakit, perlindungan tenaga medis, dan respons cepat terhadap gejala penyakit menular menjadi krusial di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version