Varian Covid-19 BA.3.2 yang dijuluki “Cicada” kini menjadi perhatian karena penyebarannya dilaporkan meluas ke sejumlah negara. Para ahli menilai varian ini membawa banyak mutasi pada protein lonjakan, tetapi sejauh ini belum ada bukti kuat bahwa ia menyebabkan penyakit yang lebih berat dibandingkan varian sebelumnya.
Varian ini pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan pada November 2024 dan disebut sebagai turunan dari BA.3, subvarian Omicron yang muncul pada 2022. Profesor biologi evolusi Universitas Guelph, Ryan Gregory, memberi nama “Cicada” karena virus ini diduga berkembang diam-diam selama bertahun-tahun sebelum akhirnya muncul dan menyebar lebih cepat.
Mengapa Varian Cicada Menjadi Perhatian
Para peneliti menyoroti sekitar 75 mutasi pada protein lonjakan varian ini. Jumlah mutasi yang tinggi membuat virus lebih sulit dikenali oleh sistem kekebalan tubuh, sehingga berpotensi membantu virus bertahan saat menghadapi antibodi yang sudah terbentuk dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya.
Dr Andrew Pekosz dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menjelaskan bahwa banyaknya mutasi dapat menyulitkan tubuh dalam mengenali ancaman dan memicu respons imun secara cepat. Namun, para ahli lain mengingatkan bahwa kemampuan menghindari imun tidak otomatis berarti virus menjadi lebih ganas atau lebih mematikan.
Apa Kata Ahli Tentang Tingkat Bahaya
Dr Dana Mazo dari NYU Langone Health menilai mutasi yang banyak justru bisa menurunkan kemampuan virus untuk menempel pada sel manusia. Artinya, walau virus ini lebih pintar menghindari antibodi, daya infeksinya belum tentu meningkat secara signifikan.
Penilaian serupa juga muncul dari data klinis terbaru yang menunjukkan varian Cicada tidak memicu gejala yang lebih parah. Dr William Schaffner dari Vanderbilt University Medical Center mengatakan gejala yang dialami pasien masih mirip dengan infeksi Covid-19 yang sudah dikenal sebelumnya.
Status Pemantauan WHO dan CDC
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO bersama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC memasukkan Cicada ke kategori “variant under monitoring”. Kategori ini menandakan varian tersebut perlu diawasi lebih lanjut, tetapi belum dianggap sebagai ancaman yang memiliki risiko tinggi bagi kesehatan masyarakat.
WHO saat ini menilai risiko kesehatan publik dari varian ini masih relatif rendah jika dibandingkan dengan varian Omicron lain yang beredar. Status ini penting karena membantu otoritas kesehatan menentukan langkah pemantauan tanpa memicu kepanikan berlebihan di masyarakat.
Sebaran Global yang Terus Ditemukan
Laporan dalam jurnal Morbidity and Mortality Weekly Report pada 19 Maret menyebut varian ini telah terdeteksi di 25 negara bagian di Amerika Serikat. CDC juga memperkirakan bahwa pada Februari 2026, varian ini sudah muncul di 23 negara, menunjukkan penyebarannya terjadi lintas wilayah dengan cepat.
Di Eropa, BA.3.2 dilaporkan menyumbang sekitar 30% kasus infeksi Covid-19. Sementara itu, otoritas kesehatan di Hanoi mencatat 17 kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir, meski jenis variannya belum dipastikan.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Meski tidak terbukti lebih berat, varian Cicada tetap bisa menimbulkan gejala Covid-19 yang umum. Gejala ini perlu dikenali agar masyarakat lebih cepat mengambil langkah pencegahan dan pemeriksaan bila dibutuhkan.
- Demam.
- Batuk.
- Sesak napas.
- Sakit tenggorokan.
- Hidung tersumbat.
- Kelelahan.
- Gangguan pencernaan.
Dr Robert H Hopkins Jr, Direktur Medis National Foundation for Infectious Diseases, menyebut sakit tenggorokan masih menjadi gejala yang paling sering dilaporkan pada kasus-kasus terbaru. Pola ini sejalan dengan laporan klinis yang menunjukkan gejala Cicada tidak jauh berbeda dari varian sebelumnya.
Peran Vaksin Masih Penting
Para ahli menegaskan bahwa mutasi pada varian baru dapat menurunkan efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi. Namun, perlindungan vaksin terhadap gejala berat, rawat inap, dan komplikasi serius tetap dinilai sangat penting.
Artinya, meski seseorang masih bisa tertular, risiko mengalami kondisi parah biasanya jauh lebih kecil bila vaksinasi sudah lengkap dan sistem imun pernah terpapar sebelumnya. Karena itu, vaksinasi tetap menjadi salah satu alat utama untuk menekan dampak kesehatan masyarakat.
Langkah Pencegahan yang Masih Relevan
Otoritas kesehatan tetap mengimbau masyarakat menjaga kebiasaan pencegahan dasar untuk menekan penularan. Langkah ini dinilai tetap efektif, terutama di lingkungan padat atau saat muncul peningkatan kasus.
- Cuci tangan secara rutin dengan sabun.
- Gunakan masker di tempat ramai atau saat bergejala.
- Jaga jarak dari orang yang sedang sakit.
- Perhatikan ventilasi ruangan.
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk.
Seiring terus dipantaunya varian BA.3.2 oleh lembaga kesehatan internasional, fokus utama tetap pada pengawasan penyebaran, pemantauan mutasi, dan evaluasi dampaknya terhadap perlindungan imun. Data yang ada saat ini menunjukkan Cicada menyebar cukup luas, tetapi belum menunjukkan tanda-tanda sebagai varian yang lebih agresif dalam menimbulkan penyakit berat.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com