Kemenkes Umumkan Kasus Campak Turun Drastis, Di Balik Angka Masih Ada Kematian

Kementerian Kesehatan menyebut kasus suspek dan terkonfirmasi campak di Indonesia turun tajam dalam beberapa pekan terakhir. Hingga minggu ke-12 tahun 2026, jumlah kasus harian dilaporkan anjlok 93 persen, dari puncak 2.220 kasus pada minggu pertama menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret 2026.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni, mengatakan penurunan itu terlihat konsisten di wilayah yang sebelumnya mengalami lonjakan. “Tren penurunan ini terpantau konsisten di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota dengan riwayat lonjakan kasus pada akhir 2025 dan awal 2026,” ujarnya, dikutip dari laman resmi Kemenkes, Rabu (1/4/2026).

Pemantauan kasus tetap berjalan saat libur Lebaran

Kemenkes juga merespons kekhawatiran publik soal kemungkinan gangguan data selama masa libur Lebaran. Andi menegaskan sistem surveilans tetap aktif dan memantau kasus secara real-time.

Pemantauan dilakukan melalui metode new all record (NAR) dan sistem kewaspadaan dini dan respons atau SKDR yang bersumber dari fasilitas kesehatan. Data kemudian diverifikasi silang dengan dinas kesehatan daerah agar laporan kasus tetap akurat.

Masih ada kematian dan risiko keparahan

Meski angka kasus menurun, Kemenkes mencatat masih ada 10 kematian akibat campak sepanjang 2026. Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah kematian dokter internsip di Kabupaten Cianjur berinisial AMW, 25 tahun, yang meninggal pada Kamis (26/3/2026) akibat komplikasi campak pada jantung dan otak.

AMW diduga terpapar virus saat menangani pasien campak pada Rabu (8/3/2026). Setelah demam sejak Sabtu (18/3/2026), kondisinya memburuk usai muncul ruam pada Selasa (21/3/2026) dan akhirnya mengalami penurunan kesadaran.

Ia sempat dirawat intensif di ICU RS Cimacan, tetapi nyawanya tidak tertolong. Pemeriksaan laboratorium kemudian memastikan AMW positif terinfeksi campak.

Kasus di daerah dan kelompok dewasa mendapat perhatian

Kasus di Cianjur terjadi saat daerah itu mencatat total 15 kasus suspek dan 10 kasus campak terkonfirmasi. Puncak kasus di wilayah tersebut terjadi pada pekan ke-10, sebelum kemudian ikut menunjukkan penurunan seiring tren nasional.

Data Kemenkes juga menunjukkan sekitar 8 persen kasus campak di Indonesia terjadi pada kelompok dewasa di atas 18 tahun. Pada kelompok ini, komorbid dan tingginya intensitas paparan dapat memperbesar risiko sakit berat.

Data penting yang disorot Kemenkes

  1. Kasus harian turun 93 persen dibanding puncak awal 2026.
  2. Puncak kasus tercatat 2.220 pada minggu pertama 2026.
  3. Angka terbaru menurun menjadi 146 kasus pada pertengahan Maret 2026.
  4. Tren penurunan terjadi di 14 provinsi dan 10 kabupaten/kota.
  5. Sepanjang 2026, tercatat 10 kematian akibat campak.
  6. Sekitar 8 persen kasus nasional terjadi pada orang dewasa di atas 18 tahun.

Campak tetap menjadi penyakit yang perlu diwaspadai karena penularannya sangat cepat, terutama di lingkungan dengan cakupan imunisasi yang belum merata. Penurunan kasus yang dilaporkan Kemenkes menunjukkan pengendalian mulai membaik, tetapi kejadian fatal dan temuan kasus pada orang dewasa menegaskan perlunya deteksi dini, pelaporan cepat, dan perlindungan lewat imunisasi yang lengkap.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version