Saat Baja Langka, Insinyur Membuat Kapal Beton Yang Benar-Benar Mengapung

Author: Qoo Media

Pada pandangan pertama, beton terdengar seperti bahan yang pasti tenggelam. Namun dalam teknik kapal, yang menentukan bukan cuma jenis material, melainkan bagaimana bentuk, volume, dan beratnya diatur agar hukum daya apung bekerja.

Itulah sebabnya kapal beton benar-benar bisa mengapung. Prinsip Archimedes menjelaskan bahwa benda di dalam fluida mendapat gaya ke atas, dan bila gaya itu seimbang dengan berat benda, objek akan tetap berada di permukaan.

Mengapa beton bisa mengapung

Kunci utamanya ada pada volume yang cukup besar dan bobot yang cukup rendah dibanding volume air yang dipindahkan. Jika sebuah kapal dibuat cukup besar dan cukup ringan untuk ukurannya, bahan pembuatnya tidak harus logam.

Prinsip itu juga berlaku pada kapal modern berbahan metal. Tidak ada sifat khusus pada logam yang membuatnya bisa mengapung; yang membuatnya tetap berada di air adalah desain lambung dan daya apung yang dihasilkan.

Pada kapal beton, tantangannya lebih berat. Beton jauh kurang praktis untuk pelayaran jarak jauh dibanding logam, dan karena itu kapal beton tidak pernah menjadi pilihan umum untuk kapal pesiar atau kapal cepat.

Solusi darurat saat baja langka

Di Amerika Serikat, ide kapal beton muncul saat terjadi kekurangan baja pada Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Dalam kondisi seperti itu, para insinyur terpaksa mencari material alternatif agar transportasi laut tetap berjalan.

N.K. Fougner memimpin studi pertama di negara itu mengenai kapal beton. Setelah diketahui bahwa kapal beton yang diperkuat dengan balok baja memang bisa mengapung, Presiden Woodrow Wilson memerintahkan pembangunan dua lusin kapal semacam itu.

Namun, tidak ada kapal yang selesai pada saat Perang Dunia I berakhir. Pada akhirnya, hanya separuh dari kapal yang disetujui itu yang benar-benar rampung.

Kembali dipakai saat Perang Dunia II

Pada 1943, ketika kekurangan baja kembali terjadi akibat Perang Dunia II, pemerintah AS kembali memakai kapal beton. Produksinya mencapai sekitar satu kapal per bulan, sebuah laju yang menunjukkan betapa seriusnya kebutuhan material saat itu.

Dua kapal bahkan sempat masuk operasi tempur, yaitu SS David O. Saylor dan SS Vitruvius. Keduanya bergabung dalam armada D-Day, tetapi bukan sebagai kapal angkut pasukan atau kapal pendarat.

Sebaliknya, kedua kapal itu diisi dinamit dan dijadwalkan untuk ditenggelamkan sebagai blockship. Tujuannya adalah membentuk pemecah gelombang bersama beberapa kapal lain agar kapal pendarat infanteri lebih mudah mendekati pantai Normandia.

Nasib setelah perang dan jejak yang tersisa

Kapal beton lain yang dibuat pemerintah AS selama Perang Dunia II dipakai terutama sebagai kapal angkut. Setelah perang usai, sebagian besar tidak bertahan lama dalam layanan.

Sebanyak sembilan kapal ditenggelamkan di lepas pantai Virginia pada 1948 untuk membentuk pemecah gelombang bagi sebuah feri. Ada juga 10 kapal yang sampai sekarang masih menjadi bagian dari pemecah gelombang terapung di Kanada.

Setelah itu, pemerintah AS tidak lagi memesan kapal beton. Hingga kini, belum terlihat tanda bahwa kapal semacam itu akan kembali dibuat dalam waktu dekat.

Dari kapal perang ke arena lomba mahasiswa

Meski tidak terlalu praktis dan kalah cocok untuk pelayaran dibanding kapal logam, kapal beton belum sepenuhnya hilang. Bahan ini masih bertahan di beberapa ceruk kecil, terutama karena unik dan menarik untuk diuji dalam dunia teknik.

American Society of Civil Engineers mengadakan lomba kano beton setiap tahun. Kompetisi itu menantang mahasiswa teknik untuk membangun kano beton terbaik, lalu mengadu kecepatannya di air.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertanyaan “bagaimana beton bisa mengapung” punya jawaban yang nyata dan telah diuji berkali-kali. Selama bentuknya tepat, volumenya cukup besar, dan bobotnya terkontrol, beton pun bisa menjadi bahan untuk kapal yang bekerja di air.

Terbaru