Grand Egyptian Museum atau Museum Besar Mesir menjadi salah satu proyek budaya paling monumental di abad ke-21 karena ukurannya yang luar biasa dan koleksinya yang sangat besar. Kompleks ini berdiri di Dataran Tinggi Giza, hanya sekitar 2 kilometer dari kompleks Piramida Giza, sehingga posisinya langsung terhubung dengan lanskap sejarah Mesir kuno.
Museum ini dirancang bukan sekadar sebagai ruang pamer, tetapi sebagai pusat besar yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Bangunannya memakai marmer dan kaca, dihiasi pahatan nama raja dan ratu Mesir kuno, serta mengadopsi pola segitiga khas piramida agar selaras dengan lingkungan di sekitarnya.
Museum arkeologi terbesar untuk satu peradaban
Gagasan pembangunan museum ini pertama kali dicetuskan pemerintah Mesir pada tahun 1992 di bawah kepemimpinan Presiden Hosni Mubarak. Tujuannya adalah menyediakan tempat yang jauh lebih luas untuk menampung dan merawat seluruh harta karun kuno peninggalan para firaun.
Setelah proses panjang, proyek ini rampung sepenuhnya pada tahun 2023 dengan biaya sekitar 1,2 miliar dolar AS. Kompleksnya berdiri di atas lahan 500.000 meter persegi, dengan area bangunan 167.000 meter persegi dan lantai interior pameran seluas 81.000 meter persegi.
Arsitektur dipilih lewat kompetisi internasional
Desain museum ditentukan melalui kompetisi arsitektur internasional yang dibuka pada awal tahun 2002. Sebanyak 1.557 peserta dari 82 negara ikut bersaing, dan Heneghan Peng Architects dari Irlandia keluar sebagai pemenang.
Dalam pengerjaannya, biro arsitek tersebut juga bekerja sama dengan sejumlah tim ahli lain untuk merancang lanskap dan tata letak pameran. Hasilnya adalah kompleks besar yang tampil modern, tetapi tetap memberi ruang visual ke arah piramida asli di kejauhan.
Lebih dari 100.000 artefak kuno
Museum ini menyimpan lebih dari 100.000 artefak kuno yang merangkum sejarah peradaban Mesir selama lebih dari 7.000 tahun. Koleksinya mencakup peninggalan dari Periode Pradinasti hingga era Mesir-Romawi.
Galeri utama dibagi menjadi empat era besar. Pengunjung dapat menelusuri peninggalan dari zaman Pradinasti dan Kerajaan Lama, lalu bergerak ke Kerajaan Tengah, Kerajaan Baru, hingga masa Yunani-Romawi.
Ruang Tutankhamun jadi daya tarik utama
Salah satu magnet terbesar museum ini adalah ruang pameran khusus Raja Tutankhamun. Untuk pertama kalinya sejak ditemukan pada tahun 1922 oleh Howard Carter, seluruh koleksi sang raja yang berjumlah 5.398 artefak dipamerkan bersama di bawah satu atap.
Semua harta karun itu ditata di area pameran seluas 7.500 meter persegi. Pengunjung bisa melihat topeng emas, singgasana, tiga lapis peti mati, perhiasan, senjata, peralatan sehari-hari, dan ratusan patung ushabti yang dipercaya menemani sang firaun di alam baka.
Atrium dan tangga besar yang ikonik
Saat masuk, pengunjung langsung disambut atrium utama seluas 10.000 meter persegi dengan langit-langit setinggi 40 meter. Di area ini dipajang sekitar 20–30 artefak dari berbagai era sejarah Mesir kuno.
Di tengah atrium berdiri patung kolosal Ramses II yang berusia 3.200 tahun. Patung granit merah setinggi 11 meter dan berbobot 83 ton itu dipindahkan dengan pengawalan ketat dari Ramses Square, pusat kota Kairo.
Setelah atrium, pengunjung melewati Tangga Besar seluas 6.000 meter persegi yang menjulang sekitar 50 meter. Di sepanjang jalurnya dipajang lebih dari 60 artefak kuno yang disusun dalam empat tema besar untuk menceritakan perjalanan sejarah Mesir kuno.
Pusat konservasi dan fasilitas modern
Kompleks GEM juga menjadi rumah bagi salah satu pusat konservasi dan restorasi artefak terbesar di dunia. Fasilitas ini memiliki 17 laboratorium khusus yang didukung sekitar 100 tenaga ahli berpengalaman.
Selain fungsi pelestarian, museum ini juga menyediakan fasilitas hiburan dan edukasi modern. Ada bioskop 3D berkapasitas 250 tempat duduk dan pusat konferensi internasional untuk seminar, diskusi, serta kegiatan edukasi seputar arkeologi Mesir kuno.
