Pascabanjir, Air Bersih dan Nutrisi Sehat Jadi Benteng Lawan Penyakit

Banjir sering dianggap selesai ketika air mulai surut, padahal fase paling berisiko justru muncul setelahnya. Di periode ini, warga menghadapi ancaman penyakit akibat air tercemar, lingkungan yang tidak higienis, serta asupan gizi yang menurun, terutama pada ibu hamil, bayi, dan kelompok rentan lain.

Kondisi tersebut mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui Lembaga Kemanusiaan dan Tanggap Bencana (LKTB) untuk mengarahkan intervensi kesehatan pascabanjir ke kebutuhan paling mendasar. Di Aceh Tamiang, fokus utama bantuan diarahkan pada akses air bersih, pemulihan nutrisi, dan edukasi kesehatan agar proses pemulihan tidak berhenti pada bantuan darurat semata.

Risiko Kesehatan yang Muncul Setelah Banjir

Air bah sering membawa lumpur, limbah rumah tangga, dan kuman yang bisa memicu penyakit kulit, diare, leptospirosis, hingga infeksi saluran pernapasan. Dalam situasi ini, air minum aman menjadi kebutuhan paling mendesak karena tanpa akses yang layak, warga sulit menjaga kebersihan diri maupun mengolah makanan secara sehat.

Kelompok paling rentan biasanya adalah ibu, bayi, anak kecil, lansia, dan warga dengan penyakit kronis. Pada kelompok ini, kekurangan cairan dan gizi bisa memperburuk kondisi tubuh dan memperlambat pemulihan setelah bencana.

Akses Air Bersih Jadi Prioritas Pemulihan

Di Aceh Tamiang, IDI bersama LKTB membangun sumur bor sebagai langkah cepat untuk memulihkan sumber air bersih warga. Langkah ini penting karena banyak keluarga kehilangan akses air layak pakai setelah banjir merusak sumber air permukaan dan jaringan distribusi setempat.

Ketua Umum IDI, dr. Slamet Budiarto, menegaskan bahwa dukungan lintas pihak memperkuat jangkauan bantuan di lapangan. Ia menyebut kemitraan dengan Herbalife membantu mobilisasi sumber daya secara lebih efektif, mulai dari air bersih, nutrisi, hingga dukungan operasional untuk mempercepat pemulihan masyarakat.

Nutrisi Sehat untuk Ibu dan Bayi

Selain air bersih, pemulihan pascabanjir juga menuntut perhatian pada kebutuhan gizi. Di posko operasional, bantuan makanan bergizi disalurkan untuk ibu dan bayi agar daya tahan tubuh mereka tetap terjaga di tengah tekanan fisik dan psikologis setelah bencana.

Kebutuhan nutrisi menjadi semakin penting karena banyak keluarga kesulitan memasak makanan sehat ketika dapur rusak, pasokan pangan terganggu, dan sanitasi belum pulih. Dalam kondisi seperti ini, bantuan pangan yang tepat sasaran dapat mencegah risiko malnutrisi dan memperkuat kesehatan dasar masyarakat.

Peran Edukasi Kesehatan di Lokasi Terdampak

Bantuan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengirim logistik, karena warga juga perlu memahami cara mencegah penyakit lingkungan. Karena itu, relawan dokter menggelar edukasi kesehatan selama tiga hari di wilayah terdampak, termasuk Kota Lintang Bawah dan Kampung Duren.

Materi yang diberikan mencakup kebersihan diri, keamanan air minum, pengelolaan makanan, dan langkah mengenali gejala penyakit yang umum muncul setelah banjir. Pendampingan seperti ini membantu warga mengambil tindakan cepat saat muncul keluhan kesehatan dan mengurangi beban layanan medis di lokasi pengungsian.

Kolaborasi Rp585 Juta untuk Bantuan Tepat Sasaran

Dukungan bagi program ini datang melalui Herbalife Family Foundation (HFF) dengan penyaluran dana sebesar Rp585.000.000 yang dihimpun pada Desember 2025 dan Januari 2026. Dana tersebut dipercayakan kepada LKTB dan IDI agar bantuan sesuai kebutuhan medis dan menjangkau masyarakat yang benar-benar terdampak.

Oktrianto Wahyu Jatmiko, Director & General Manager Herbalife Indonesia, mengatakan bahwa kerja sama dengan mitra terpercaya menjadi kunci agar bantuan tetap relevan di lapangan. Ia menekankan pentingnya penyaluran untuk kebutuhan esensial seperti nutrisi, akses air bersih, dan layanan kesehatan dasar.

Fakta Penting dari Program Intervensi Pascabanjir

  1. IDI melalui LKTB memprioritaskan intervensi kesehatan pascabanjir di Aceh Tamiang.
  2. Sumur bor dibangun untuk memulihkan akses air bersih warga.
  3. Bantuan nutrisi difokuskan untuk ibu dan bayi di posko operasional.
  4. Relawan dokter memberi edukasi kesehatan selama tiga hari di lokasi terdampak.
  5. Dana Rp585 juta disalurkan melalui dukungan Herbalife Family Foundation.
  6. Program ini menekankan bantuan yang sesuai kebutuhan medis dan kondisi lapangan.

Mengapa Model Bantuan Seperti Ini Efektif

Pendekatan yang menggabungkan air bersih, nutrisi, dan edukasi kesehatan terbukti lebih relevan untuk masa pemulihan setelah banjir. Banjir bukan hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses masyarakat pada kebutuhan dasar yang menentukan daya tahan tubuh.

Saat air bersih kembali tersedia dan gizi warga dijaga, risiko penyakit dapat ditekan lebih cepat. Ketika edukasi kesehatan berjalan bersamaan, masyarakat juga lebih siap menjaga diri sambil menunggu layanan publik pulih sepenuhnya.

Komitmen yang Lebih Luas untuk Ketahanan Kesehatan

Di tingkat global, HFF pada 2025 telah menyalurkan hibah senilai US$5 juta kepada 173 organisasi nirlaba di berbagai negara. Penyaluran ini menunjukkan bahwa dukungan kemanusiaan yang fokus pada kesehatan komunitas masih menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana.

Di lapangan, langkah seperti yang dilakukan IDI, LKTB, dan Herbalife memperlihatkan bahwa pemulihan pascabanjir membutuhkan kerja bersama yang konkret dan terukur. Saat air bersih tersedia, gizi warga terjaga, dan edukasi kesehatan menyentuh kebutuhan sehari-hari, risiko penyakit dapat ditahan sejak awal dan proses bangkit kembali menjadi lebih cepat.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button