Campak dan rubela sama-sama bisa memunculkan ruam merah pada kulit, tetapi keduanya bukan penyakit yang sama. Perbedaan ini penting dikenali karena campak cenderung lebih berat, sedangkan rubela biasanya ringan namun berbahaya bila menyerang ibu hamil.
World Health Organization (WHO) menyebut campak sebagai penyakit yang sangat menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius. Sementara itu, rubela umumnya lebih ringan, tetapi infeksi pada kehamilan dapat berdampak pada perkembangan janin.
Perbedaan gejala yang paling mudah dikenali
Campak biasanya muncul dengan demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, lalu ruam menyebar bertahap. Rubela justru sering diawali demam ringan, ruam yang cepat hilang, dan pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga atau leher.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), gejala campak umumnya muncul 7 sampai 14 hari setelah terpapar virus. Pada rubela, gejala biasanya baru terlihat 2 sampai 3 minggu setelah paparan dan sering kali terasa sangat ringan.
Ciri khas campak
Campak menyerang saluran pernapasan sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi yang bisa mencapai lebih dari 40 derajat celsius, disertai batuk kering, pilek, dan sakit tenggorokan.
Bintik putih kecil di dalam mulut yang disebut Koplik spots sering muncul sebelum ruam. Ruam kemudian dimulai dari wajah, lalu turun ke leher, badan, dan anggota tubuh lainnya.
Beberapa gejala campak yang umum adalah:
- Demam tinggi.
- Batuk kering.
- Pilek dan sakit tenggorokan.
- Mata merah dan sensitif terhadap cahaya.
- Koplik spots di dalam mulut.
- Ruam merah yang menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.
Ruam campak umumnya bertahan sekitar 5 sampai 7 hari. Pola gejalanya juga cenderung memburuk secara bertahap sebelum mencapai puncak.
Ciri khas rubela
Rubela atau campak Jerman biasanya tidak terlalu berat dan sering tidak disadari penderitanya. Gejala yang muncul umumnya berupa demam ringan, ruam merah muda, rasa lelah, dan sakit kepala ringan.
Tanda yang cukup khas pada rubela adalah pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher. Pada remaja dan wanita dewasa, rubela juga dapat memicu nyeri sendi.
Beberapa gejala rubela yang sering muncul adalah:
- Demam ringan, biasanya di bawah 38 derajat celsius.
- Ruam merah muda yang cepat menyebar.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Nyeri sendi.
- Sakit kepala ringan dan lelah.
Ruam rubela biasanya hanya berlangsung 1 sampai 3 hari. Karena durasinya singkat dan gejalanya ringan, banyak kasus rubela baru terdeteksi setelah pemeriksaan medis.
Tabel cepat membedakan campak dan rubela
- Campak: demam tinggi, gejala berat, ruam bertahan 5 sampai 7 hari.
- Rubela: demam ringan, gejala ringan, ruam bertahan 1 sampai 3 hari.
- Campak: ada Koplik spots di mulut.
- Rubela: ada pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher.
- Campak: ruam muncul setelah gejala awal memburuk.
- Rubela: ruam bisa muncul cepat dan sering menjadi tanda pertama.
Mengapa perbedaannya penting
Campak perlu diwaspadai karena sangat mudah menular dan bisa memicu komplikasi seperti infeksi telinga, pneumonia, hingga gangguan otak pada kasus tertentu. Rubela memang biasanya lebih ringan, tetapi infeksi pada kehamilan dapat menyebabkan risiko serius bagi janin.
Kedua penyakit ini menular lewat percikan air liur saat penderita batuk atau bersin. Penularan bisa terjadi di rumah, sekolah, atau ruang publik yang padat, bahkan sebelum ruam muncul dan diagnosis ditegakkan.
Kapan perlu waspada
Jika demam tinggi muncul bersama batuk, pilek, mata merah, dan ruam yang menyebar dari wajah ke tubuh, kondisi itu lebih mengarah ke campak. Jika ruam ringan muncul bersama pembengkakan kelenjar getah bening dan demam tidak tinggi, rubela patut dicurigai.
Pemeriksaan tenaga kesehatan tetap dibutuhkan karena gejala awal bisa mirip dengan infeksi virus lain. Deteksi dini penting agar penanganan cepat dilakukan dan penularan ke orang lain bisa ditekan, terutama pada anak kecil, ibu hamil, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Imunisasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah campak dan rubela. Dengan cakupan vaksinasi yang tinggi, risiko penularan dan munculnya komplikasi berat bisa ditekan secara signifikan.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com