Obesitas Dan Risiko Kanker Menguat, Durasi Berat Badan Jadi Kunci 55 Persen

Riset berskala besar kembali menegaskan bahwa obesitas bukan hanya berkaitan dengan diabetes, penyakit jantung, atau tekanan darah tinggi. Data terbaru yang diterbitkan di jurnal JAMA Oncology menunjukkan obesitas juga dapat meningkatkan risiko kanker secara signifikan, bahkan hingga 55 persen pada kondisi tertentu.

Temuan ini muncul dari analisis data kesehatan di Inggris, Jerman, dan Swedia, dan memberi gambaran bahwa dampak obesitas terhadap kanker selama ini kemungkinan masih diremehkan. Di Inggris saja, obesitas kini diperkirakan menjadi penyebab kanker yang paling dapat dicegah kedua setelah rokok, dengan lebih dari 18.000 kasus kanker per tahun dikaitkan langsung dengan kelebihan berat badan.

Obesitas dan Risiko Kanker yang Semakin Jelas
Penelitian menggunakan data UK Biobank yang melibatkan lebih dari 458.000 sukarelawan. Dalam empat tahun pertama setelah pengukuran berat badan, obesitas tampak berkaitan dengan 7,2 persen kasus kanker gastrointestinal.

Namun, ketika peneliti memperpanjang pengamatan hingga lebih dari empat tahun, angka kaitannya melonjak menjadi 17,7 persen. Perbedaan ini menunjukkan bahwa riwayat berat badan dalam jangka panjang jauh lebih penting daripada satu kali pengukuran BMI.

Fenomena itu juga dipengaruhi penurunan berat badan yang tidak disengaja pada pasien kanker yang belum terdeteksi. Artinya, seseorang bisa tampak memiliki berat badan normal saat diagnosis, padahal ia sudah mengalami obesitas selama bertahun-tahun sebelum sakit terdeteksi.

Durasi Obesitas Lebih Berbahaya daripada BMI Sesaat
Studi lain di Jerman memperkuat temuan tersebut. Peneliti menilai sekitar 10.000 orang dan menemukan bahwa lama seseorang mengalami obesitas lebih menentukan risiko kanker usus dibandingkan BMI pada satu waktu tertentu.

Orang yang mengalami obesitas dalam jangka panjang memiliki risiko 55 persen lebih tinggi terkena kanker dibandingkan mereka yang hanya memiliki BMI tinggi dalam waktu singkat. Temuan ini menegaskan bahwa tubuh menyimpan jejak risiko dari paparan lemak berlebih selama bertahun-tahun.

Dengan kata lain, berat badan saat ini tidak selalu mencerminkan risiko sebenarnya. Riwayat kegemukan, terutama sejak usia produktif, dapat memberi dampak biologis yang terus berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian.

Lemak Perut Jadi Peringatan Lebih Akurat
Temuan dari Swedia juga menunjukkan bahwa ukuran lingkar pinggang lebih akurat untuk membaca risiko kanker tertentu, terutama pada pria. Pria dengan lingkar pinggang besar tercatat memiliki risiko kanker terkait obesitas 25 persen lebih tinggi.

Jika hanya memakai BMI, kenaikannya terlihat lebih kecil, yakni 19 persen. Perbedaan ini penting karena BMI tidak membedakan lemak tubuh, massa otot, dan distribusi lemak di organ tubuh.

Lemak perut atau lemak viseral diketahui lebih aktif secara biologis dan lebih berisiko memicu peradangan kronis. Kondisi ini dapat memengaruhi metabolisme, hormon, dan lingkungan sel sehingga mendukung pertumbuhan sel kanker.

Mengapa Obesitas Bisa Memicu Kanker
Obesitas tidak bekerja lewat satu jalur tunggal, tetapi melalui banyak proses biologis yang saling terkait. Kelebihan lemak tubuh dapat meningkatkan peradangan, mengganggu kadar insulin, dan mengubah hormon yang berperan dalam pertumbuhan sel.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menciptakan lingkungan yang lebih mudah mendukung pembentukan dan perkembangan kanker. Risiko ini paling sering dikaitkan dengan kanker usus besar, payudara pascamenopause, endometrium, pankreas, hati, dan beberapa jenis kanker saluran cerna.

Para peneliti juga menilai risiko kanker bisa mulai meningkat bahkan sebelum seseorang mencapai ambang overweight dengan BMI 25. Artinya, pencegahan berat badan berlebih sebaiknya tidak menunggu sampai kondisi sudah tergolong obesitas.

Kerangka PLUS untuk Membaca Risiko dengan Lebih Tepat
Tim riset mengusulkan pendekatan baru bernama PLUS untuk menilai risiko obesitas terhadap kanker secara lebih menyeluruh. Kerangka ini tidak hanya melihat BMI saat ini, tetapi juga riwayat berat badan sepanjang hidup serta ukuran lingkar pinggang.

Pendekatan semacam ini dianggap lebih relevan karena dua orang dengan BMI sama bisa memiliki risiko berbeda. Seseorang yang pernah obesitas selama 20 tahun tentu tidak sama dengan orang yang baru mengalami kelebihan berat badan dalam waktu singkat.

Berikut faktor yang dinilai lebih penting dalam pendekatan PLUS:

  1. Riwayat berat badan seumur hidup.
  2. Ukuran lingkar pinggang.
  3. Durasi obesitas atau kelebihan berat badan.
  4. Risiko yang bisa meningkat sebelum BMI mencapai 25.

Dengan membaca faktor-faktor tersebut, tenaga kesehatan dapat menilai risiko kanker secara lebih akurat dan tidak hanya bergantung pada angka BMI.

Dampaknya untuk Kesehatan Publik
Para penulis studi menyebut pengendalian obesitas sebagai strategi pencegahan kanker yang masih kurang dimanfaatkan. Mereka menilai program penurunan berat badan perlu masuk sebagai bagian penting dari kebijakan kesehatan publik, bukan sekadar saran gaya hidup.

Di Inggris, situasinya dinilai mendesak karena 28 persen orang dewasa hidup dengan obesitas. Angka seperti ini menempatkan tekanan besar pada sistem kesehatan, terutama jika kasus kanker yang dapat dicegah terus bertambah.

Meski penelitian ini bersifat observasional dan belum membuktikan sebab-akibat secara mutlak, pola datanya cukup konsisten di beberapa negara. Pesan utamanya jelas, yakni menjaga berat badan dan lingkar pinggang tetap sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga langkah penting untuk menekan risiko kanker yang bisa berkembang diam-diam selama bertahun-tahun.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Exit mobile version