Kasus katarak di Indonesia terus naik dan kini menumpuk dalam fase backlog, sehingga antrean operasi diprediksi bisa memakan waktu sekitar 11 tahun bila laju tindakan tidak berubah. Kondisi ini membuat katarak bukan lagi sekadar gangguan penglihatan biasa, tetapi masalah kesehatan publik yang berisiko memperbesar angka kebutaan di Indonesia.
Dokter Spesialis Mata Subspesialis Katarak dan Bedah Refraksi dari RS Pondok Indah, Amir Shidik, menyampaikan bahwa penumpukan pasien terjadi karena jumlah kasus baru terus bertambah dan tidak diimbangi kapasitas operasi. Ia menegaskan, “Dengan jumlah operasi sekarang, kita butuh waktu sekitar 11 tahun untuk menyelesaikan kasus katarak di Indonesia. Dengan catatan, tidak ada kasus baru.”
Beban Kebutaan Masih Tinggi
Data survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB periode 2014–2016 menunjukkan prevalensi kebutaan di Indonesia mencapai 3 persen. Dari angka itu, katarak menjadi penyebab utama dengan kontribusi sekitar 81 persen, yang menegaskan besarnya peran penyakit ini dalam kasus gangguan penglihatan berat.
Data Badan Pusat Statistik pada 2022 juga memperlihatkan besarnya beban masalah mata di Indonesia. Total gangguan penglihatan tercatat mencapai 8 juta kasus, dengan 272.000 orang mengalami kebutaan, sekitar 700.000 kesulitan melihat, dan 7,4 juta lainnya mengalami gangguan penglihatan ringan.
Kasus Terus Bertambah di Tengah Keterbatasan Layanan
Laporan International Agency for the Prevention of Blindness menunjukkan bahwa sepanjang 2010 hingga 2020, jumlah kasus gangguan penglihatan di Indonesia terus meningkat. Dalam periode itu, lebih dari 500.000 warga Indonesia mengalami kebutaan, yang menunjukkan bahwa masalah ini belum tertangani secara memadai.
Amir menilai tingginya angka katarak tidak hanya dipicu proses penuaan. Ia menyebut distribusi dokter mata dan fasilitas operasi yang belum merata ikut memperlebar jarak layanan antara kota besar dan wilayah lain.
Ketimpangan itu membuat akses pemeriksaan dini menjadi sulit bagi masyarakat di daerah terpencil. Pada akhirnya, banyak pasien datang saat kondisi sudah berat dan membutuhkan tindakan segera.
Hambatan Sosial Masih Menahan Pasien Datang Lebih Cepat
Selain persoalan akses, mitos di masyarakat juga ikut memperlambat penanganan katarak. Sebagian warga masih percaya bahwa operasi mata berarti mata harus dicopot, padahal prosedur itu tidak dilakukan dalam operasi katarak modern.
Ada pula pasien yang menunda tindakan karena takut pemulihan lama dan mengganggu aktivitas ibadah atau kerja. Kekhawatiran seperti ini membuat banyak orang memilih menunggu atau mencoba cara lain yang belum terbukti secara medis.
Dalam praktiknya, katarak tidak bisa sembuh dengan obat tetes atau terapi alternatif. Amir menegaskan bahwa operasi masih menjadi satu-satunya cara untuk menghilangkan katarak dan mengembalikan ketajaman penglihatan.
Teknologi Operasi Sudah Jauh Lebih Cepat
Perkembangan teknologi medis sebenarnya sudah mempersingkat pemulihan pasien katarak. Dengan operasi modern seperti phacoemulsifikasi dan pemasangan lensa intraokular, pasien umumnya bisa kembali beraktivitas dalam tiga hari hingga satu minggu.
Berbeda dengan metode operasi manual yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama, biasanya sekitar satu bulan untuk kembali beraktivitas normal. Perbedaan ini penting karena banyak pasien masih mengira operasi katarak membuat mereka berhenti beraktivitas dalam waktu panjang.
Berikut gambaran singkat yang dijelaskan dalam layanan operasi katarak modern:
- Operasi dilakukan untuk mengangkat lensa yang keruh.
- Lensa intraokular dipasang untuk membantu memulihkan fokus penglihatan.
- Pemulihan biasanya lebih cepat dibanding metode manual.
- Pasien umumnya tidak perlu menunggu lama untuk kembali beraktivitas.
Mengapa Penanganan Dini Menjadi Penting
Katarak berkembang perlahan dan sering tidak disadari pada tahap awal. Banyak pasien baru mencari pertolongan ketika penglihatan sudah buram berat, padahal penanganan lebih dini biasanya memudahkan proses pemulihan dan mencegah dampak yang lebih luas pada aktivitas harian.
Kondisi ini juga berkaitan dengan produktivitas, kemandirian, dan keselamatan pasien, terutama pada lansia yang masih aktif. Jika akses layanan tidak dipercepat, beban sosial dan ekonomi akibat gangguan penglihatan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kasus baru.
Baca selengkapnya di: lifestyle.bisnis.com






