Campak Menyebar Cepat di Sulawesi Tengah, Enam Daerah Tetapkan KLB

Author: Qoo Media

Kasus campak di Sulawesi Tengah terus meningkat tajam sejak awal 2026 dan memicu penetapan kejadian luar biasa atau KLB di enam daerah. Data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah hingga pekan ke-12 Maret 2026 menunjukkan Kota Palu mencatat kasus terbanyak, yaitu 428 kasus.

Enam daerah yang sudah menetapkan KLB adalah Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Tolitoli, Poso, dan Morowali Utara. Pemerintah daerah menilai kenaikan kasus terjadi dalam waktu singkat sehingga butuh respons cepat untuk menahan penularan di masyarakat.

Lonjakan kasus paling tinggi di Palu

Kota Palu menjadi wilayah dengan beban kasus campak paling besar di provinsi ini. Lonjakan itu mendorong pemerintah setempat menjalankan imunisasi respons wabah atau outbreak response immunization (ORI) untuk anak usia 9 bulan hingga 59 bulan.

Ketua Tim Kerja Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, Ahsan, mengatakan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan pemerintah kabupaten dan kota terus dilakukan. “Untuk penanggulangan kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan, khususnya di program imunisasi, dan kabupaten terkait dengan tata laksana penanggulangan KLB,” ujarnya pada Kamis (2/4/2026).

Mengapa campak mudah menyebar

Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat menular dan cepat menyebar pada kelompok yang belum memiliki kekebalan. Dalam situasi seperti ini, mobilitas penduduk yang tinggi ikut mempercepat penularan antarwilayah.

Ahsan menyebut peningkatan kasus campak tidak hanya terjadi di Sulawesi Tengah, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Kondisi ini memperlihatkan bahwa penularan masih terjadi di banyak tempat, terutama saat cakupan imunisasi belum merata.

Cakupan imunisasi belum menyentuh target

Salah satu persoalan utama adalah cakupan imunisasi dasar yang belum mencapai target ideal. Dalam lima tahun terakhir, Sulawesi Tengah belum mampu memenuhi cakupan imunisasi 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok secara optimal.

Ahsan menjelaskan, sejumlah kabupaten memang sudah memenuhi target di tingkat wilayah, tetapi belum merata di tingkat puskesmas. “Ada beberapa kabupaten yang sudah mencapai target, tetapi di tingkat puskesmas belum merata,” katanya.

Ketimpangan cakupan ini membuat masih ada kelompok anak yang rentan terinfeksi. Anak usia di bawah lima tahun termasuk kelompok paling berisiko mengalami campak dan komplikasinya.

Daerah yang sudah tetapkan KLB

  1. Kota Palu
  2. Kabupaten Donggala
  3. Kabupaten Sigi
  4. Kabupaten Tolitoli
  5. Kabupaten Poso
  6. Kabupaten Morowali Utara

Penetapan status KLB di masing-masing daerah dilakukan setelah terjadi peningkatan kasus yang signifikan dalam waktu singkat. Status ini menjadi dasar pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan, termasuk pelacakan kasus, imunisasi tambahan, dan edukasi ke masyarakat.

Langkah pemerintah di lapangan

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyebut situasi masih terkendali dan belum memenuhi kriteria KLB di tingkat provinsi. Meski begitu, penguatan respons tetap dilakukan agar lonjakan tidak meluas ke daerah lain.

Imunisasi tambahan kini terus digencarkan di wilayah terdampak, terutama untuk anak-anak yang belum mendapat imunisasi lengkap sesuai jadwal. Pemerintah juga meminta orang tua memperhatikan status imunisasi anak dan segera membawa anak ke layanan kesehatan bila muncul gejala campak.

Kelompok yang paling perlu dilindungi

  1. Anak usia di bawah 5 tahun
  2. Anak yang belum mendapat imunisasi lengkap
  3. Anak usia 9 bulan hingga 59 bulan di wilayah ORI
  4. Anak dengan akses imunisasi yang tertunda
  5. Keluarga yang tinggal di area dengan kasus aktif

Langkah pencegahan menjadi penting karena campak bisa menular cepat di rumah, sekolah, dan lingkungan padat penduduk. Dengan respons imunisasi yang lebih luas, pemerintah berharap rantai penularan bisa diputus sebelum kasus bertambah lebih banyak.

Kondisi di Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa pengendalian campak sangat bergantung pada kecepatan deteksi kasus, cakupan imunisasi, dan partisipasi masyarakat. Saat ini, pemerintah daerah masih fokus pada penanganan KLB di enam wilayah terdampak sambil memperkuat perlindungan bagi anak-anak yang paling rentan terhadap infeksi campak.

Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com
Terbaru