Penangguhan akses model AI Fable 5 dan Mythos 5 oleh Anthropic memicu perdebatan baru soal kedaulatan teknologi. Di tengah langkah itu, pendiri Zoho Sridhar Vembu menilai kejadian tersebut sebagai peringatan keras bahwa India tidak bisa lagi menggantungkan masa depan AI pada penyedia luar negeri.
Vembu menyebut teknologi sebagai senjata utama yang kini terkait langsung dengan kedaulatan dan keamanan nasional. Dalam pernyataannya di X, ia menegaskan bahwa globalisasi telah berakhir dan “Bharat must find her own way ahead”.
Akses dihentikan untuk warga negara asing
Anthropic mengatakan penonaktifan Fable 5 dan Mythos 5 dilakukan setelah adanya arahan pemerintah Amerika Serikat. Berdasarkan arahan kontrol ekspor itu, perusahaan diwajibkan menghentikan akses kedua model bagi semua warga negara asing, baik yang berada di dalam maupun di luar Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut juga mencakup karyawan Anthropic yang berstatus warga negara asing. Anthropic menyatakan menerima arahan itu pada 12 Juni dan kemudian menonaktifkan dua model tersebut untuk memenuhi kewajiban kepatuhan.
Perusahaan menegaskan bahwa pembatasan itu tidak berlaku untuk seluruh portofolio produknya. Akses ke model AI Anthropic lainnya disebut tetap tidak terdampak.
Langkah tersebut segera memicu diskusi luas di komunitas teknologi. Topik yang mengemuka meliputi kontrol ekspor, akses lintas negara terhadap AI canggih, dan risiko ketergantungan pada segelintir penyedia besar di Amerika Serikat.
Alasan keamanan nasional jadi sorotan
Anthropic menyebut pemerintah tidak memberikan rincian lengkap mengenai kekhawatiran keamanan nasional yang mendasari arahan tersebut. Namun, menurut pemahaman perusahaan, otoritas meyakini ada metode untuk melewati atau melakukan jailbreak terhadap pengaman Fable 5.
Anthropic tidak sepenuhnya sejalan dengan tingkat kekhawatiran itu. Perusahaan mengatakan telah meninjau teknik yang dilaporkan dan hanya menemukan sejumlah kecil kerentanan yang sebelumnya sudah dikenal.
Perusahaan juga menyatakan temuan serupa dapat ditemukan pada model AI lain yang tersedia secara publik. Selain itu, Anthropic menambahkan bahwa pengujian ekstensif yang melibatkan lembaga pemerintah, organisasi pihak ketiga, dan tim internal menunjukkan pengaman Fable 5 lebih kuat dibanding model-model sebelumnya.
Meski tetap mematuhi arahan pemerintah, Anthropic menilai tindakan tersebut sebagai sebuah kesalahpahaman. Perusahaan mengatakan sedang berupaya memulihkan kembali akses ke Fable 5 dan Mythos 5 secepat mungkin.
Vembu dorong jalur AI yang lebih mandiri
Di tengah polemik itu, Vembu mendorong India untuk menempuh pendekatan yang lebih pragmatis. Ia menilai organisasi di India perlu memanfaatkan model-model yang lebih kecil dan bersifat open-source, termasuk model open-source dari India maupun China.
Menurut Vembu, dengan upaya yang cukup, model-model tersebut dapat dibuat bekerja secara efektif. Ia juga mempertanyakan nilai jangka panjang dari ketergantungan pada perusahaan AI luar negeri jika akses sewaktu-waktu bisa dibatasi oleh keputusan politik dan keamanan.
Komentar itu menyoroti perubahan besar dalam lanskap AI global. Akses terhadap teknologi mutakhir, menurut pandangan Vembu, kini makin ditentukan oleh geopolitik dan pertimbangan keamanan nasional, bukan semata-mata oleh permintaan pasar.
Ia juga menyampaikan kritik yang tajam terhadap model ketergantungan komersial semacam itu. Dalam salah satu unggahannya, Vembu menulis, “Why pay money to people who don’t even want to sell to you?”
Tantangan membangun AI frontier
Meski mendorong kemandirian, Vembu juga mengakui bahwa membangun model AI frontier bukan perkara mudah. Ia menyoroti besarnya kebutuhan dana dan sulitnya akses terhadap GPU canggih yang juga tunduk pada pembatasan ekspor.
Menurut Vembu, untuk benar-benar masuk ke persaingan model mutakhir dibutuhkan dana dalam skala sangat besar, bahkan lebih dari $100 billion. Ia menilai pendekatan seperti itu tidak realistis, dan tidak ingin mendorong pemerintah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk tujuan tersebut karena menurutnya dana itu bisa digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih penting.
Sebagai alternatif, ia menyebut Zoho sedang menjajaki pendekatan riset AI yang jauh lebih murah. Vembu mengakui terobosan besar membutuhkan waktu, tetapi ia menekankan pentingnya mencari inovasi yang efisien dan bisa diterapkan secara praktis.
Dalam tanggapan terpisah di X, ia kembali menegaskan fokus itu. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kerja nyata untuk membuat model-model yang lebih kecil benar-benar berguna.
Debat kedaulatan AI makin menguat
Kasus Fable 5 dan Mythos 5 memperkuat diskusi global tentang siapa yang mengendalikan teknologi AI paling canggih. Banyak negara kini menghadapi kenyataan bahwa akses terhadap sistem penting dapat dibatasi secara sepihak ketika isu keamanan nasional masuk ke arena kebijakan.
Bagi India, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa investasi pada riset domestik, inovasi open-source, dan sistem AI yang bisa diterapkan secara lokal semakin penting. Perdebatan yang muncul tidak lagi sekadar soal siapa yang punya model paling mutakhir, tetapi juga soal siapa yang bisa mengaksesnya, mengendalikannya, dan menetapkan syarat penggunaannya.
