Air yang tampak bening tidak otomatis aman diminum, terutama bagi bayi dan balita yang sedang berada pada fase tumbuh cepat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ancaman terbesar justru sering datang dari kuman yang tidak terlihat, terutama bakteri Escherichia coli, yang bisa masuk ke air minum tanpa mengubah warna, bau, atau rasanya.
Temuan ini penting karena stunting tidak hanya dipengaruhi oleh makanan yang kurang bergizi, tetapi juga oleh kualitas air, sanitasi, dan kebiasaan higienis di rumah. Dalam kajian yang dipublikasikan International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) 2026, analisis terhadap 15 jurnal ilmiah selama 15 tahun menemukan bahwa kontaminasi mikrobiologis pada air minum dapat meningkatkan risiko stunting anak hingga 4,14 kali lipat.
Musuh tak terlihat di air rumah tangga
Banyak keluarga menilai air dari penampilan luarnya saja, padahal bakteri berbahaya tidak bisa dideteksi dengan mata telanjang. Dalam studi yang dirangkum IJERPH, kontaminasi sering muncul bukan di sumber air, melainkan saat air disimpan di rumah, dipindahkan ke wadah lain, didinginkan, atau digunakan untuk botol dan alat makan anak.
Situasi ini membuat air yang awalnya berasal dari sumber layak tetap bisa menjadi tidak aman ketika sampai ke meja makan. Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK, dalam kajian tersebut menegaskan bahwa masyarakat terlalu bergantung pada indikator visual saat menilai kualitas air, padahal risiko terbesar justru berasal dari kontaminasi mikrobiologis yang tidak terlihat.
Mengapa E. coli berbahaya bagi pertumbuhan anak
Escherichia coli sering dipakai sebagai penanda adanya cemaran tinja dalam air. Jika bakteri ini ditemukan, artinya ada kemungkinan air terpapar kuman lain yang juga berbahaya bagi kesehatan anak.
Paparan kuman yang berulang dapat memicu gangguan yang disebut Environmental Enteric Dysfunction atau EED. Kondisi ini menyebabkan peradangan ringan pada usus, menurunkan kemampuan tubuh menyerap zat gizi, dan akhirnya menghambat pertumbuhan anak meski asupan makan tampak cukup.
EED menjadi masalah karena gejalanya sering tidak jelas. Anak bisa terlihat sehat, tidak diare, dan tetap makan seperti biasa, tetapi tubuhnya tidak menyerap nutrisi secara optimal sehingga tinggi badan dan berat badannya tertinggal.
Jendela paling rentan: usia 6–24 bulan
Periode 6–24 bulan menjadi masa paling kritis karena anak mulai mengonsumsi MPASI dan lebih sering terpapar air untuk minum, memasak, serta mencuci peralatan makan. Pada fase ini, sedikit saja air terkontaminasi dapat berulang kali masuk ke tubuh anak setiap hari.
Penelitian yang dirangkum dalam publikasi IJERPH menunjukkan bahwa periode tersebut adalah jendela rentan yang sangat menentukan arah pertumbuhan anak. Jika kualitas air buruk pada fase ini, dampaknya bisa bertahan lama dan memengaruhi status gizi dalam jangka panjang.
Dampak tidak berhenti pada tinggi badan
Kualitas air yang aman juga berkaitan dengan perkembangan otak anak. Dalam sejumlah studi jangka panjang yang dikutip publikasi tersebut, anak usia 9–12 tahun menunjukkan kemampuan memori dan bahasa yang lebih baik ketika ibunya mengonsumsi air aman selama kehamilan.
Temuan ini memperkuat bahwa air berperan sejak masa kehamilan hingga masa kanak-kanak. Artinya, paparan air yang tidak aman bukan hanya soal infeksi, tetapi juga menyangkut kemampuan belajar, daya ingat, dan adaptasi anak di sekolah.
Mengapa air bersih di rumah belum tentu aman
Masalah terbesar sering muncul di titik penggunaan, bukan pada jaringan distribusi. Air bisa saja sudah memenuhi syarat di sumbernya, tetapi kualitasnya menurun setelah disimpan terlalu lama, dituang berulang kali, atau ditaruh di wadah yang tidak bersih.
Berikut faktor yang sering meningkatkan risiko kontaminasi di rumah:
- Wadah penyimpanan tidak dicuci dengan benar.
- Air diambil menggunakan gayung atau alat yang kotor.
- Botol anak dipakai berulang tanpa sterilisasi memadai.
- Air dibiarkan terbuka sehingga terpapar debu dan tangan.
- Proses memasak atau pencucian alat makan menggunakan air yang tercemar.
Kondisi ini menjelaskan mengapa akses terhadap air layak tidak selalu berarti air yang benar-benar aman untuk diminum setiap hari. Perilaku di rumah menjadi penentu yang sama pentingnya dengan infrastruktur air.
Air, sanitasi, dan gizi harus dibenahi bersamaan
Kajian IJERPH 2026 juga menegaskan bahwa intervensi tunggal sering tidak cukup. Dalam beberapa uji besar, penyediaan air bersih saja belum selalu memperbaiki pertumbuhan anak secara bermakna karena paparan kuman juga datang dari lantai rumah, tangan, makanan, alat makan, hingga lingkungan sekitar.
Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan secara terpadu. Pendekatan yang efektif mencakup air aman, sanitasi yang baik, kebiasaan cuci tangan, kebersihan alat makan, serta asupan gizi seimbang.
Langkah praktis yang bisa dilakukan keluarga
Untuk menurunkan risiko paparan kuman dari air minum, keluarga dapat melakukan beberapa langkah sederhana berikut:
- Simpan air dalam wadah bersih dan tertutup rapat.
- Jangan mencelupkan tangan langsung ke dalam wadah air.
- Bersihkan galon, botol, dan alat minum anak secara rutin.
- Pisahkan air minum dari air untuk keperluan lain.
- Rebus air atau gunakan metode pengolahan yang sesuai bila sumber air diragukan.
- Jaga kebersihan meja, dapur, dan alat makan anak setiap hari.
Langkah-langkah ini memang tampak sederhana, tetapi dampaknya besar bila dilakukan konsisten. Pada anak kecil, paparan kuman yang berulang bisa menjadi beban kronis yang mengganggu penyerapan nutrisi dan pertumbuhan.
Relevansi untuk Indonesia
Di Indonesia, akses terhadap air layak memang terus membaik, tetapi persoalan mikrobiologis masih sering ditemukan di tingkat rumah tangga. Tantangan ini tidak hanya ada di wilayah terpencil, tetapi juga di kawasan perkotaan yang secara kasat mata tampak lebih maju.
Artinya, persoalan air aman tidak berhenti pada pembangunan pipa atau sumber air bersih. Kebiasaan menyimpan air, menjaga kebersihan wadah, dan memastikan air yang dipakai untuk anak benar-benar aman menjadi bagian penting dari pencegahan stunting.
Dengan memahami bahwa air jernih belum tentu bebas kuman, keluarga bisa lebih waspada terhadap risiko yang tidak terlihat namun berdampak panjang pada kesehatan, pertumbuhan, dan kemampuan belajar anak di masa depan.
Source: www.suara.com