Kronologi Penyebaran Hantavirus, Jejak Tikus yang Berujung Gagal Napas dan Cara Cegahnya

Kasus hantavirus kembali menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia mengonfirmasi adanya infeksi di kapal pesiar di Samudra Atlantik. Virus yang dibawa hewan pengerat ini menular terutama lewat paparan urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup sebagai partikel halus di udara.

Di Indonesia, hantavirus juga tercatat meski jumlahnya masih jarang. Kementerian Kesehatan melaporkan delapan kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS hingga pertengahan 2025, dengan temuan di DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.

Bagaimana hantavirus menyebar

Jalur penularan paling umum terjadi saat seseorang menghirup aerosol dari kotoran atau urine tikus yang sudah kering dan bercampur debu. Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa virus bisa masuk ke tubuh melalui partikel halus tersebut, terutama di ruang tertutup dengan ventilasi buruk.

Penularan juga bisa terjadi ketika tangan menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu berpindah ke hidung, mulut, atau mata. Dalam situasi tertentu, gigitan tikus ikut menjadi jalur infeksi, meski penularan antarmanusia sangat jarang dan hanya dilaporkan pada strain tertentu seperti virus Andes.

Kronologi kasus yang disorot

Di dalam negeri, kasus yang tercatat belum masuk kategori Kejadian Luar Biasa. Pemerintah tetap melakukan pelacakan kontak dan edukasi masyarakat, sementara salah satu pasien di Bandung Barat dilaporkan telah sembuh setelah menjalani perawatan intensif.

Kasus yang menarik perhatian internasional terjadi di kapal pesiar Oceanwide Expeditions. WHO mengonfirmasi dua kasus hantavirus di kapal tersebut, termasuk seorang wanita asal Belanda yang meninggal pada 27 April dan seorang warga negara Inggris yang dievakuasi ke Johannesburg untuk perawatan intensif.

Situasi di kapal itu juga mendapat pengawasan ketat karena ada dua anggota kru yang mengalami gejala pernapasan. Sekitar 150 orang masih berada di kapal saat kasus ditemukan, sehingga pemantauan kesehatan dilakukan secara intensif.

Gejala awal sering menyerupai flu

Hantavirus memiliki dua bentuk utama, yakni HFRS yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang paru-paru. Pada awal infeksi, gejalanya sering tampak ringan seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan.

Gejala kemudian dapat berkembang menjadi lebih berat, termasuk nyeri perut, mual, gangguan ginjal, batuk, dan sesak napas. Pada HPS, penumpukan cairan di paru-paru dapat memicu gagal napas, sementara HFRS dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal.

Tingkat fatalitasnya juga tidak kecil. HPS memiliki angka kematian sekitar 38–40 persen, sedangkan HFRS dapat mencapai sekitar 6 persen tergantung tingkat keparahan dan penanganan medis.

Diagnosis dan perawatan yang tersedia

Diagnosis hantavirus dilakukan dengan menilai riwayat paparan, gejala klinis, dan hasil laboratorium seperti serologi serta PCR. Untuk kasus yang menyerang paru-paru, dokter juga dapat memakai rontgen atau CT scan untuk melihat kondisi organ pernapasan.

Hingga kini belum tersedia antivirus atau vaksin khusus untuk hantavirus. Penanganan difokuskan pada terapi suportif, termasuk pemberian oksigen, ventilator, dan pengaturan cairan tubuh secara ketat.

Pada kasus berat, pasien HFRS dapat memerlukan dialisis karena gangguan ginjal. Sementara itu, pasien HPS dengan kondisi kritis dapat membutuhkan bantuan teknologi lanjutan seperti ECMO.

Langkah pencegahan yang paling penting

Pencegahan menjadi kunci utama karena hantavirus lebih sering menyebar lewat lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat. Kebersihan rumah dan area kerja perlu dijaga, makanan harus disimpan dalam wadah tertutup, dan populasi tikus harus dikendalikan.

Saat membersihkan ruangan yang lama tertutup atau berpotensi terpapar tikus, penggunaan masker dan sarung tangan sangat dianjurkan. Ruangan juga sebaiknya diangin-anginkan lebih dulu sebelum dipakai kembali agar partikel berbahaya tidak langsung terhirup.

Kotoran tikus tidak boleh dibersihkan sembarangan dan sebaiknya ditangani dengan disinfektan. Edukasi masyarakat menjadi bagian penting agar paparan bisa ditekan, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.

Hantavirus memang tergolong jarang, tetapi risikonya serius karena gejala awalnya mudah disalahartikan sebagai flu biasa. Deteksi cepat, kewaspadaan terhadap lingkungan yang terkontaminasi, dan akses segera ke layanan kesehatan menjadi faktor penting untuk mencegah kondisi memburuk.

Source: lifestyle.bisnis.com
Exit mobile version