4 Penyebab Hantavirus dan Gejala Awal yang Sering Terlewat, Usai Kasus MV Hondius

Penyakit hantavirus kembali ramai dibicarakan setelah laporan infeksi di kapal pesiar MV Hondius menarik perhatian publik. Di tengah sorotan itu, penting untuk memahami bahwa hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia dan penularannya sangat terkait dengan tikus serta lingkungan yang kurang higienis.

Kementerian Kesehatan menyebut hantavirus sudah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Karena gejalanya kerap menyerupai tifus, dengue, atau leptospirosis, infeksi ini sering tidak langsung dikenali.

Apa itu hantavirus dan bagaimana menular

Hantavirus adalah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berasal dari hewan dan bisa menular ke manusia. Virus ini umumnya menyebar melalui rodensia, terutama tikus, yang meninggalkan urin, kotoran, dan air liur di lingkungan sekitar.

Penularan paling sering terjadi saat seseorang menghirup debu yang sudah terkontaminasi partikel dari kotoran tikus. Risiko juga meningkat ketika seseorang menyentuh tikus hidup atau mati tanpa pelindung, atau memegang permukaan yang sudah tercemar lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut.

Di Indonesia, jenis yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus atau SEOV. Virus ini banyak dibawa tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus yang hidup dekat dengan manusia.

Empat penyebab hantavirus yang perlu diwaspadai

  1. Menghirup debu yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus.
  2. Kontak langsung dengan tikus hidup atau mati tanpa perlindungan.
  3. Menyentuh permukaan, barang, atau area yang sudah tercemar kotoran tikus.
  4. Tinggal atau beraktivitas di lingkungan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus tinggi.

Kondisi seperti gudang, loteng, rumah kosong, atau area yang jarang dibersihkan menjadi tempat yang berisiko lebih besar. Lingkungan padat penduduk dan pengelolaan sampah yang buruk juga membuat tikus lebih mudah berkembang biak.

Gejala awal hantavirus

Gejala awal hantavirus sering muncul ringan dan mirip penyakit lain. Hal ini membuat banyak kasus terlambat terdeteksi atau bahkan disangka penyakit berbeda.

Beberapa gejala awal yang perlu diperhatikan meliputi demam, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, sakit kepala, dan nyeri perut. Pada kondisi yang lebih berat, infeksi bisa berkembang menjadi gangguan pernapasan atau masalah pada ginjal.

Dua bentuk penyakit akibat hantavirus

Hantavirus dikenal memiliki dua bentuk penyakit utama yang berbeda dampaknya. Bentuk pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, yang lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa, termasuk Indonesia.

HFRS menyerang ginjal dan pembuluh darah, sehingga dapat memicu perdarahan hingga gagal ginjal. Kementerian Kesehatan mencatat sejak 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus HFRS di Indonesia.

Bentuk kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS. Penyakit ini lebih sering ditemukan di Amerika dan menyerang paru-paru, hingga dapat menyebabkan sesak napas akut dan gagal napas.

Kasus HPS belum ditemukan di Indonesia. Kementerian Kesehatan juga menegaskan bahwa hantavirus di Indonesia berbeda dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius.

Mengapa hantavirus sering sulit dikenali

Hantavirus kerap disebut sebagai ancaman tersembunyi karena gejalanya tidak khas. Dalam praktiknya, keluhan awal bisa sangat mirip dengan dengue, tifus, atau leptospirosis.

Situasi itu membuat hantavirus berisiko salah diagnosis atau tidak terlapor. Akibatnya, penyakit ini terlihat jarang, padahal virusnya masih beredar di lingkungan yang mendukung kehidupan tikus.

Langkah pencegahan yang paling penting

Karena belum ada vaksin yang digunakan secara luas, pencegahan menjadi langkah utama. Upaya paling dasar adalah menjaga kebersihan rumah, menutup akses tikus, dan mengurangi tempat sampah menumpuk.

Saat membersihkan area berdebu atau tempat yang diduga terpapar tikus, penggunaan masker dapat membantu menurunkan risiko. Tangan juga perlu dicuci setelah kontak dengan area kotor atau benda yang berpotensi terkontaminasi.

Kendali populasi tikus di lingkungan sekitar tetap menjadi bagian penting untuk menekan risiko hantavirus. Semakin buruk sanitasi dan semakin dekat interaksi manusia dengan tikus, semakin besar peluang penularan virus ini terjadi tanpa disadari.

Source: www.suara.com

Terkait