Hantavirus dan Corona sama-sama bisa memunculkan gejala awal yang mirip flu, sehingga keduanya sering membuat orang sulit membedakannya pada fase awal. Keluhan seperti demam, batuk, lelah, sakit tenggorokan, sakit kepala, hingga hidung tersumbat dapat muncul pada Covid-19, sementara hantavirus juga bisa diawali dengan tanda yang serupa.
Perbedaan penting justru terletak pada sumber penularan dan cara virus menyebar. Hantavirus berasal dari hewan pengerat, terutama tikus, sedangkan Corona menular antarmanusia lewat droplet, udara, kontak dekat, atau benda yang terkontaminasi percikan dari orang terinfeksi.
Asal virus dan pola penularan
Secara alami, hantavirus ditemukan pada hewan pengerat. Setiap hantavirus biasanya terkait dengan satu spesies pengerat tertentu, dan virus itu dapat berpindah ke manusia saat ada kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan yang terinfeksi.
Pada Corona, sumber penularannya berbeda karena virus menyebar dari manusia ke manusia. Meski awal penyebarannya disebut terkait zoonosis, penularan yang menjadi masalah utama saat ini terjadi sangat cepat di antara manusia.
Hantavirus juga tidak dianggap menular antarmanusia dalam situasi umum. Pengecualian yang sangat langka hanya dilaporkan pada jenis Andes virus di Amerika Selatan.
Gejala awal yang bisa menyesatkan
WHO menyebut diagnosis dini hantavirus bisa sulit karena gejala awalnya mirip dengan penyakit demam atau gangguan pernapasan lain. Daftar pembandingnya mencakup influenza, COVID-19, pneumonia virus, leptospirosis, demam berdarah, dan sepsis.
Pada hantavirus, gejala biasanya muncul satu hingga delapan minggu setelah paparan. Dalam bentuk Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS, kondisi dapat berkembang cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, dan syok.
Pada bentuk Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS, fase lanjut dapat memicu tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal. Karena itu, gejala mirip flu tidak cukup untuk memastikan jenis infeksinya tanpa pemeriksaan medis.
Mengapa Corona lebih mudah menyebar luas
Corona dinilai jauh lebih mudah menyebar karena berpindah antarmanusia melalui jalur pernapasan dan kontak dekat. Penyebaran seperti ini membuat Coronavirus mampu menimbulkan pandemi global, sedangkan hantavirus cenderung bersifat sporadis atau lokal.
Kasus hantavirus biasanya muncul di wilayah dengan kontak tinggi terhadap hewan pengerat atau lingkungan yang kurang bersih. Sementara itu, Corona dapat menjangkau banyak wilayah karena rantai penularannya berlangsung cepat di tengah interaksi manusia.
Varian Corona seperti Omicron juga sempat dikenal menunjukkan gejala yang cenderung ringan dan menyerupai flu. Namun, penyakit ini tetap berisiko bagi kelompok rentan, termasuk lansia dan penderita komorbid.
Diagnosis dan pemeriksaan yang diperlukan
WHO menekankan pentingnya riwayat paparan saat dokter menilai dugaan hantavirus. Informasi tentang kontak dengan hewan pengerat, risiko pekerjaan, kondisi lingkungan, riwayat perjalanan, dan kontak dengan kasus yang diketahui menjadi petunjuk penting.
Kepastian infeksi biasanya diperoleh lewat pemeriksaan laboratorium. Metode yang digunakan mencakup uji serologis untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG, serta RT-PCR untuk mencari RNA virus pada fase akut.
Proses pengujian sampel yang belum diinaktivasi juga harus dilakukan di fasilitas dengan standar keamanan biologis tinggi. Langkah ini penting karena spesimen pasien dapat membawa risiko biologis.
Vaksin dan penanganan
Saat ini belum ada vaksin yang disetujui secara luas untuk hantavirus. Selain itu, belum tersedia obat antivirus khusus yang benar-benar efektif, sehingga penanganannya berfokus pada perawatan suportif seperti bantuan pernapasan atau dukungan fungsi ginjal.
Sebaliknya, untuk Corona sudah tersedia berbagai jenis vaksin dan protokol pengobatan antivirus yang lebih mapan. Perbedaan ini menjadi salah satu alasan mengapa kewaspadaan terhadap hantavirus tetap perlu dijaga, terutama saat ada paparan tikus atau lingkungan yang berisiko.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap menjaga kebersihan karena tikus dapat membawa virus ke manusia. Waspada terhadap gejala mirip flu tetap penting, terutama bila keluhan muncul setelah paparan hewan pengerat atau tinggal di lingkungan yang berisiko.
Source: www.suara.com