Virus Ebola Bundibugyo kembali menyita perhatian setelah wabah di Republik Demokratik Kongo dan Uganda memicu status kedaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Minggu (17/5/2026) menetapkan situasi ini sebagai public health emergency of international concern atau PHEIC.
Virus yang memicu wabah tersebut bukan Ebola Zaire yang lebih sering dikenal publik, melainkan Bundibugyo virus atau BDBV. Meski lebih jarang ditemukan, virus ini tetap termasuk penyebab penyakit Ebola pada manusia dan dapat berujung fatal.
Virus yang Jarang Ditemukan, Tapi Berbahaya
Bundibugyo virus termasuk dalam genus Orthoebolavirus dan famili Filoviridae, satu kelompok dengan virus Ebola Zaire dan Marburg. Dalam kelompok penyebab Ebola, ada tiga spesies yang paling sering memicu wabah besar, yaitu Zaire, Sudan, dan Bundibugyo.
Perbedaan genetik antarspesies membuat masing-masing membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda. Karena itu, wabah Bundibugyo tidak bisa diperlakukan sama persis dengan jenis Ebola lain.
Sejarah Temuan Pertama di Uganda
Bundibugyo virus pertama kali ditemukan pada November 2007 di Distrik Bundibugyo, Uganda bagian barat. Temuan itu berawal dari wabah penyakit misterius yang gejalanya mirip demam berdarah.
Wabah pertama ini mencatat 149 kasus dengan 37 kematian. Lima tahun kemudian, wabah kedua muncul di Provinsi Orientale, RD Kongo, dengan 52 hingga 57 kasus dan 25–29 kematian.
Sejak itu, hanya dua kejadian tersebut yang tercatat secara resmi sebelum wabah terbaru muncul. Jumlah kasus yang terbatas membuat data ilmiah tentang perilaku virus ini masih jauh lebih sedikit dibandingkan Ebola Zaire.
Mengapa Wabah Terbaru Menjadi Sorotan
Menurut laporan yang dikutip CBS News pada Selasa (19/5/2026), wabah terbaru mulai terdeteksi sekitar April hingga Mei 2026 di Provinsi Ituri, RD Kongo. Penyebarannya lalu dilaporkan meluas hingga Kampala, Uganda.
Hingga Sabtu (16/5/2026), tercatat sekitar 246 kasus suspek dengan 80 kematian. WHO juga menyebut masih ada ketidakpastian besar mengenai jumlah pasti orang yang terinfeksi dan luas wilayah terdampak.
Kondisi lintas batas antara RD Kongo dan Uganda membuat risiko penyebaran regional ikut meningkat. Otoritas kesehatan internasional pun memperkuat koordinasi untuk membatasi perluasan wabah.
Gejala Awal Sering Disalahartikan
Infeksi Bundibugyo virus punya tantangan besar dalam deteksi dini karena gejala awalnya mirip penyakit umum. Masa inkubasinya berkisar 2 hingga 21 hari, dengan rata-rata sekitar 6 hari.
Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, sakit kepala berat, nyeri otot dan sendi, kelelahan ekstrem, serta sakit tenggorokan. Gejala ini sering menyerupai flu atau infeksi virus lain.
Saat penyakit berkembang, muncul mual, muntah, diare, nyeri perut, gangguan pencernaan, dan ruam kulit. Virus juga dapat menyerang organ vital dan memicu gangguan fungsi ginjal serta hati.
Cara Penularan dari Hewan ke Manusia
Penyebaran awal Bundibugyo virus berlangsung melalui mekanisme zoonosis, yakni perpindahan virus dari hewan ke manusia. Kontak langsung dengan darah, sekresi, atau organ hewan terinfeksi menjadi jalur penularan utama.
Hewan yang diduga berperan sebagai reservoir alami antara lain kelelawar buah. Primata seperti simpanse, gorila, dan monyet juga disebut dalam sumber sebagai hewan yang dapat terkait dengan penularan.
Setelah masuk ke tubuh manusia, virus bisa menyebar antarmanusia melalui kontak langsung dengan kulit yang terluka atau selaput lendir yang bersentuhan dengan darah dan cairan tubuh penderita. Cairan yang berisiko menularkan meliputi keringat, urine, air mani, muntahan, dan cairan dari pasien yang meninggal.
Penularan juga bisa terjadi lewat benda yang terkontaminasi, seperti pakaian, tempat tidur, peralatan medis, atau barang lain yang terkena cairan tubuh pasien. Karena itu, pengendalian infeksi menjadi bagian penting dalam respons wabah.
Risiko Kematian dan Penanganan Medis
Bundibugyo virus kerap disebut memiliki tingkat kematian sedikit lebih rendah dibandingkan Ebola Zaire, tetapi tetap tergolong sangat berbahaya. Dari sejumlah wabah sebelumnya, tingkat fatalitasnya berada di kisaran 30% hingga 50%.
Sebagai pembanding, Ebola Zaire pada beberapa wabah tertentu dapat mencapai tingkat kematian hingga 90%. Artinya, perbedaan tingkat fatalitas tidak mengubah fakta bahwa Bundibugyo masih dapat menyebabkan kerusakan organ berat dan kematian.
Hingga kini belum ada vaksin khusus yang disetujui untuk melawan Bundibugyo virus. Vaksin Ebola yang banyak digunakan, Ervebo, dirancang untuk spesies Zaire dan tidak ditujukan untuk infeksi Bundibugyo.
Penanganan pasien masih bertumpu pada perawatan suportif intensif. Langkah ini mencakup rehidrasi, pengelolaan gejala, pemantauan fungsi organ, koreksi elektrolit, dukungan nutrisi, dan penanganan perdarahan.
Situasi wabah saat ini menunjukkan bahwa Bundibugyo virus tetap menjadi ancaman serius meski jarang ditemukan. Minimnya data ilmiah, belum adanya vaksin khusus, serta penularan lintas batas membuat virus ini terus dipantau ketat oleh komunitas kesehatan internasional.
Source: www.beritasatu.com






