Perubahan suasana hati pada remaja tidak selalu sekadar fase biasa. Saat anak mulai kehilangan minat, merasa tidak berharga, hingga energinya terus menurun, orang tua perlu memperhatikan kemungkinan adanya masalah kesehatan mental.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa tanda depresi dan kecemasan pada remaja dapat muncul lewat perubahan perilaku maupun keluhan fisik. Gejala ini penting dikenali lebih awal agar anak bisa memperoleh evaluasi medis yang tepat.
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan persoalan ini terjadi dalam skala besar. Dari sekitar 46 juta remaja di Indonesia, 15,5 juta atau sekitar satu dari tiga remaja dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental.
Gangguan yang kerap ditemukan mencakup kecemasan, hiperaktivitas, depresi, gangguan perilaku, hingga stres berat. Sekitar 2 persen anak dan remaja juga dilaporkan mengalami depresi.
Angka tersebut menjadi perhatian karena 61 persen remaja yang mengalami depresi mengaku pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir. Meski demikian, hanya sekitar 10 persen populasi usia muda yang mencari pertolongan ke dokter.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, dr Angga Wirahmadi, SpA, Subsp TKPS(K), menyebut depresi lebih rentan ditemukan pada remaja perempuan, kelompok pendidikan menengah, dan mereka yang tinggal di kawasan perkotaan. Rendahnya kesadaran serta akses layanan kesehatan mental masih menjadi tantangan penting.
5 Tanda Depresi yang Perlu Dipantau
Depresi pada remaja dapat terlihat melalui perubahan yang menetap dalam keseharian. Salah satu tanda yang sering muncul adalah hilangnya minat atau keinginan untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya disukai.
Remaja juga dapat tampak semakin minder, memiliki rasa rendah diri, atau merasa tidak berdaya. Perasaan bahwa dirinya tidak berguna atau tidak baik juga perlu mendapat perhatian serius.
Perubahan pola tidur dan kondisi fisik dapat menyertai gejala emosional tersebut. Anak mungkin mengalami insomnia, kehilangan energi, atau menunjukkan penurunan nafsu makan yang drastis.
| Gangguan | Tanda emosional dan perilaku | Keluhan fisik yang dapat muncul |
|---|---|---|
| Depresi | Kehilangan minat, rendah diri, merasa tidak berdaya, merasa tidak berguna | Insomnia, kehilangan energi, nafsu makan menurun drastis |
| Kecemasan | Overthinking, menghindari situasi tertentu, gelisah, membutuhkan penenangan berulang | Sakit perut, keringat dingin, jantung berdebar, sakit kepala, sulit tidur |
Kecemasan Bisa Tampak Seperti Keluhan Penyakit Fisik
Selain depresi pada remaja, orang tua juga perlu mencermati tanda gangguan kecemasan. Remaja dengan kecemasan tinggi dapat terlalu banyak memikirkan hal yang belum tentu terjadi dan cenderung menghindari situasi yang tidak disukai.
Keluhan sakit perut berulang juga dapat muncul pada kondisi ini. Dalam sejumlah kasus, kecemasan termanifestasi sebagai gejala somatis yang membuat anak tampak mengalami masalah fisik.
Menurut penjelasan dr Angga yang dikutip health.detik.com, gejala tersebut dapat berupa keringat dingin berlebihan, jantung berdebar-debar, sakit kepala berulang, serta sulit tidur. Anak juga dapat terlihat terus bergerak, gelisah, dan berulang kali meminta penenangan dari orang di sekitarnya.
Gejala fisik ini dapat membuat gangguan kecemasan sulit dibedakan dari masalah kesehatan lain. Karena itu, perubahan perilaku dan keluhan tubuh perlu dilihat secara menyeluruh, bukan sebagai kejadian yang berdiri sendiri.
Orang tua dianjurkan memantau bila beberapa tanda muncul pada anak. Jika gejala depresi atau kecemasan terlihat, IDAI menyarankan agar anak segera dikonsultasikan ke dokter untuk evaluasi lebih lanjut.







