Jutaan orang dewasa di Indonesia hidup dengan diabetes, tetapi banyak yang belum mengetahui kondisi tersebut hingga komplikasi serius muncul. Salah satu ancaman yang kerap luput disadari adalah retinopati diabetik, kerusakan pembuluh darah pada retina yang dapat berujung pada kehilangan penglihatan permanen.
Gangguan ini dapat berkembang perlahan tanpa keluhan yang jelas, terutama pada tahun-tahun awal seseorang mengalami diabetes. Karena itu, pemeriksaan mata berkala menjadi langkah penting agar kerusakan dapat ditemukan sebelum penglihatan menurun.
Kesenjangan Deteksi yang Berisiko
Indonesia menempati peringkat kelima negara dengan populasi diabetes terbesar di dunia, dengan proyeksi jumlah penderita melampaui 23 juta jiwa pada 2030. Saat ini, sekitar 26 juta penduduk dewasa diperkirakan hidup dengan diabetes, tetapi sistem kesehatan nasional baru mendeteksi sekitar 15 juta kasus.
Kesenjangan ini menciptakan risiko besar karena banyak orang tidak menyadari gula darahnya telah tinggi dan tidak terkontrol. Kondisi tersebut dapat memicu komplikasi mikrovaskular, termasuk Retinopati Diabetik, sebelum gejala penglihatan muncul pada stadium lanjut.
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Perkiraan diabetes pada dewasa | 26 juta orang | Kasus yang diperkirakan hidup dengan diabetes |
| Kasus yang terdeteksi | 15 juta orang | Bagian dari kasus yang telah diketahui sistem kesehatan |
| Prevalensi retinopati diabetik di Yogyakarta | 43,1% | Di antara pasien diabetes dalam studi populasi |
| Rata-rata prevalensi global | 35,4% | Pembanding prevalensi retinopati diabetik |
Studi populasi di Yogyakarta mencatat prevalensi retinopati diabetik sebesar 43,1% pada pasien diabetes, lebih tinggi daripada rata-rata global 35,4%. Tanpa intervensi sistematis, kerugian ekonomi akibat penurunan kualitas hidup di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp84,7 triliun.
Gula Darah, Hipertensi, dan Risiko pada Kehamilan
Ketua Umum PERKENI Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD, K-EMD, menilai tingginya jumlah penyandang diabetes yang belum terdiagnosis sebagai tantangan besar. Gula darah yang tidak terkendali dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah, terlebih bila disertai kolesterol tinggi, obesitas, dan hipertensi.
Komplikasi diabetes tidak hanya menyerang mata, tetapi juga dapat berkontribusi pada masalah ginjal. Em Yunir menyebut diabetes turut menyumbang sekitar 20 hingga 30% kasus pasien yang menjalani cuci darah.
Orang dengan diabetes yang tidak terkontrol, penderita hipertensi, serta perempuan yang telah memiliki diabetes sebelum hamil termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan retina. Kondisi ini memperkuat pentingnya pengendalian Diabetes Melitus sejak dini dan pemantauan faktor risiko lain secara bersamaan.
Prof. dr. Muhammad Bayu Sasongko, M.Epi, Ph.D., Sp.M. dari UGM menyatakan gangguan fungsi penglihatan akibat diabetes seharusnya tidak dinormalisasi sebagai bagian wajar dari penuaan. Menurutnya, kebutaan akibat retinopati diabetik sebenarnya dapat dicegah dengan deteksi dan penanganan yang tepat.
Bayu Sasongko juga mengingatkan bahwa sekitar 85% informasi harian ditangkap secara visual. Hilangnya kemampuan melihat karena itu tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menambah beban psikologis dan fisik bagi keluarga yang merawatnya.
Tele-Ophthalmology untuk Menemukan Kasus Tersembunyi
Kementerian Kesehatan, UGM, dan Roche Indonesia membentuk Konsorsium Diabetic Retinopathy Initiatives atau DRIVE untuk mengatasi retinopati diabetik yang belum terdeteksi. Kemitraan ini melibatkan akademisi, tenaga kesehatan, dan industri farmasi dalam penyusunan serta pelaksanaan studi.
Salah satu fokusnya ialah proyek percontohan tele-ophthalmology dari hulu ke hilir untuk memperluas akses pemeriksaan mata. Langkah tersebut menjadi penting karena Indonesia rata-rata hanya memiliki satu dokter spesialis mata untuk setiap 116.961 penduduk.
Konsorsium berencana menempatkan kamera retina atau fundus camera dan melatih dokter umum serta perawat di Puskesmas. Melalui Skrining Retina di layanan primer, kasus yang selama ini tersembunyi diharapkan dapat ditemukan lebih cepat untuk kemudian dirujuk.
Inisiatif ini mendukung Peta Jalan Upaya Kesehatan Penglihatan 2025-2030 dari Kementerian Kesehatan yang menargetkan penurunan gangguan penglihatan sebesar 25%. Peta jalan tersebut juga menargetkan sedikitnya 80% penderita diabetes menjalani skrining retina berkala dan 60% pasien dengan VTDR memperoleh akses pengobatan yang sesuai.
Direktur P2PTM Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menyatakan layanan bagi pasien diabetes sedang diintegrasikan agar skrining retina dapat dilakukan di Puskesmas. Masyarakat juga dapat memanfaatkan program CKG untuk memeriksakan gula darah secara berkala sebagai bagian dari upaya mendeteksi risiko lebih dini.
Menurut lifestyle.bisnis.com, Roche Indonesia mendukung pendanaan riset serta perbaikan alur skrining dan rujukan dalam proyek tersebut. Penguatan sistem ini diarahkan agar pasien yang membutuhkan penanganan mata dapat memperoleh layanan tepat waktu sebelum kerusakan retina berkembang menjadi kebutaan.
Source: lifestyle.bisnis.com






