Mesin Sempat Menyala, KM Nurul Salsa Tetap Karam saat Ombak Tinggi Menerjang

Upaya menghidupkan kembali mesin KM Nurul Salsa sempat berhasil dilakukan di tengah gelombang tinggi. Namun, air laut yang sudah telanjur memenuhi bagian bawah kapal membuat pompa tak lagi mampu menguras genangan hingga kapal akhirnya karam.

Andi Samad (62), salah seorang penyintas, bertahan selama empat hari di laut bersama istrinya dan tiga penumpang lain. Mereka menggunakan gabus sebagai rakit darurat setelah menjauh dari kapal yang tenggelam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Gelombang Tinggi Membuat Mesin Utama Mati

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (15/7) sekitar pukul 05.00 WITA ketika kapal diterjang gelombang yang disebut lebih dari tiga meter. Andi mengatakan mesin utama kemudian mati saat kapal berada di tengah lautan.

Awak kapal sempat menurunkan jangkar setelah tenaga kapal hilang. Namun, kapal yang berhenti di tengah ombak besar terus kemasukan air laut pada bagian bawah lambungnya.

Kondisi menjadi lebih sulit ketika pompa air bermesin diesel, atau alkon, mengalami kemacetan. Pompa tersebut sebelumnya dipakai untuk menguras air yang masuk ke dalam kapal.

Menurut CNN Indonesia, awak kapal lalu meminta bantuan Andi karena ia memiliki kemampuan memperbaiki mesin. Mesin kapal sempat kembali menyala, tetapi kondisi di dalam lambung sudah tidak dapat ditangani.

“Karena air yang telah masuk terlalu banyak sehingga pompa tidak lagi sanggup menguras genangan di dalam lambung kapal. Kemudian mesin kembali mati total,” kata Andi.

Rakit Gabus untuk Menjauh dari Kapal

Saat kapal kian kritis, Andi meminta istrinya, Sitti Amang (55), untuk tidak panik dan bersiap menyelamatkan diri. Ia memilih belum langsung melompat ke laut karena masih berharap ada kapal lain yang melintas untuk memberi pertolongan.

Sebelum karam, badan kapal disebut terus miring ke kiri hingga nyaris terbalik. Andi dan istrinya kemudian menyiapkan gabus yang akan dipakai sebagai rakit darurat sebelum meninggalkan kapal.

Andi sempat tertimpa patahan balok kayu dari kapal ketika mereka menjauh dari lokasi tenggelam. Ia, Sitti Amang, Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17) berhasil lolos dari arus hisap kapal.

Kelima orang itu kemudian terombang-ambing di laut selama empat hari sebelum dievakuasi tim SAR. Andi bersama setidaknya lima korban disebut berhasil ditemukan pada hari keempat setelah peristiwa tersebut.

Pencarian Difokuskan ke Arah NTB

Pada Rabu (22/7), tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian korban KM Nurul Salsa. Area pencarian difokuskan dari Kepulauan Sabalana hingga perairan Nusa Tenggara Barat berdasarkan analisis data arus laut.

Kepala Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengatakan analisis tersebut menunjukkan adanya kemungkinan objek hanyut bergerak ke arah perairan NTB. Pencarian pada hari kedelapan dibagi ke dalam dua sektor penyisiran.

SektorArmadaWilayah Penyisiran
SRU pertamaKN SAR Pacitan dan RIBBagian timur Kepulauan Sabalana, terutama pulau tidak berpenghuni
SRU keduaKLM MattoanginBagian barat Kepulauan Sabalana

Tim pertama menggunakan KN SAR Pacitan bersama Rigid Inflatable Boat untuk menyisir sisi timur Kepulauan Sabalana. Tim kedua menggunakan KLM Mattoangin untuk menyisir area di sisi barat kepulauan tersebut.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait