Lab Farmakologi Sido Muncul Diresmikan, Herbal Naik Kelas Lewat Bukti Ilmiah

Author: Qoo Media

PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk meresmikan Laboratorium Farmakologi sebagai langkah untuk memperkuat pengembangan produk herbal berbasis riset dan pembuktian ilmiah. Fasilitas ini diharapkan menjadi pusat pengujian yang membantu perusahaan memastikan khasiat dan keamanan produk jamu serta herbal secara lebih terukur.

Peresmian laboratorium dilakukan melalui penandatanganan prasasti oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., disusul pengguntingan pita bersama Direktur Utama Sido Muncul Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dr. Zulfachmi Wahab, Sp.PD., Subsp. H.Onk.M.(K), FINASIM, dan Wakil Bupati Semarang Dra. Hj. Nur Arifah.

Dorongan Riset yang Lebih Kuat

Irwan Hidayat menegaskan kehadiran laboratorium ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk memperdalam riset. Ia menyebut perusahaan ingin memperoleh lebih banyak bukti ilmiah dari produk herbal dan jamu yang dikembangkan.

“Kami akan berkonsentrasi pada riset yang lebih intensif,” ujar Irwan. Ia menambahkan bahwa hasil penelitian akan dipakai sebagai dasar perbaikan jika ada produk yang dinilai belum memberi hasil optimal.

Irwan juga menilai masyarakat perlu lebih berhati-hati saat menerima informasi di ruang digital. Menurut dia, informasi mengenai keamanan produk kesehatan tidak seharusnya ditelan mentah-mentah tanpa merujuk pada sumber resmi.

Ia mencontohkan adanya anggapan yang mengaitkan minuman berenergi dengan kerusakan ginjal, padahal kondisi kesehatan seseorang dipengaruhi banyak faktor. Irwan meminta publik mengacu pada informasi yang dikeluarkan otoritas berwenang, terutama BPOM.

Pengujian Ilmiah dan Keamanan Produk

Irwan menjelaskan bahwa produk-produk Sido Muncul yang telah memperoleh izin edar BPOM sudah melewati serangkaian pengujian dan evaluasi sesuai ketentuan. Untuk minuman berenergi Kuku Bima, perusahaan juga melakukan pengujian toksisitas akut selama dua minggu dan tidak menemukan kematian pada hewan uji.

Tahap berikutnya berlanjut ke pengujian subkronis untuk melihat kondisi organ, termasuk ginjal, melalui pemeriksaan bersama akademisi dan ahli patologi. Proses ini menunjukkan pendekatan perusahaan yang menempatkan pembuktian ilmiah sebagai bagian penting dari pengembangan produk.

Irwan menegaskan masyarakat cukup berpatokan pada informasi BPOM saat menilai keamanan produk. Ia berharap Laboratorium Farmakologi Sido Muncul dapat menghasilkan lebih banyak bukti ilmiah untuk mendukung produk jamu yang khasiat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan.

BPOM Pastikan Produk Berizin Aman

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPOM RI Prof. dr. Taruna Ikrar menegaskan produk Sido Muncul yang telah mengantongi izin edar dipastikan aman dikonsumsi masyarakat. Ia menyebut produk seperti Tolak Angin dan Kuku Bima termasuk yang sudah melalui proses pengujian dan evaluasi resmi.

“Semua produk yang telah memiliki nomor izin edar tentu aman, termasuk produk-produk Sido Muncul,” kata Taruna. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan prinsip Cek KLIK, yakni memeriksa kemasan, label, izin edar, dan masa kadaluarsa sebelum membeli atau menggunakan produk.

Taruna menjelaskan proses penerbitan izin edar dilakukan melalui tahapan ketat, mulai dari unit pelaksana teknis di daerah hingga pengesahan di tingkat BPOM pusat. Menurut dia, proses itu memastikan aspek keamanan, mutu, dan manfaat produk terpenuhi sebelum dipasarkan.

Ia turut menyoroti maraknya hoaks terkait obat dan makanan di era digital. BPOM, kata Taruna, telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 16 Tahun 2025 tentang Partisipasi Masyarakat dalam Pengawasan Obat dan Makanan untuk memperkuat pengawasan serta menjaga kepercayaan publik.

Posisi Jawa Tengah dalam Pengembangan Obat Bahan Alam

Dari sisi daerah, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah melihat laboratorium ini sebagai kebanggaan tersendiri. Menurut dr. Zulfachmi Wahab, keberadaan fasilitas itu menjadi tonggak penting bagi pengembangan industri obat bahan alam nasional dan memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu sentra obat tradisional terbesar di Indonesia.

Ia menyebut laboratorium milik Sido Muncul bukan fasilitas yang banyak dimiliki industri sejenis di Indonesia. Dinas Kesehatan Jawa Tengah juga terus bekerja sama dengan BPOM untuk memastikan keamanan produk yang beredar di masyarakat dan menjaga agar informasi yang diterima publik tetap akurat.

Zulfachmi menilai keberadaan laboratorium tersebut bisa mempercepat hilirisasi riset obat tradisional. Harapannya, lebih banyak produk herbal asli Jawa Tengah naik kelas dari jamu empiris menjadi Obat Herbal Terstandar, lalu berkembang menjadi fitofarmaka yang diakui dan bisa diresepkan dalam pelayanan kesehatan formal.

Fasilitas yang Sudah Lama Berjalan

Laboratorium Farmakologi Sido Muncul sebenarnya telah berdiri sejak 2001 dan kini beroperasi di fasilitas permanen seluas 288 meter persegi yang mulai digunakan pada 2020. Laboratorium ini didukung tim peneliti dan tenaga laboran yang menangani berbagai pengujian keamanan dan khasiat produk herbal.

Selama lebih dari dua dekade, laboratorium tersebut telah melakukan uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronis, uji teratogenik, uji stamina, hingga uji aktivitas obat cacing. Dalam sejumlah penelitian, Sido Muncul juga bekerja sama dengan Universitas Diponegoro, Universitas Sanata Dharma, dan Universitas Kristen Maranatha.

Untuk produk Tolak Angin, misalnya, penelitian mencakup uji toksisitas subkronis, uji mutu bahan baku herbal, dan uji klinis. Hasilnya menunjukkan tidak ditemukan efek toksik yang membahayakan, tidak ada kematian maupun perubahan signifikan pada organ vital selama 90 hari pengujian, serta fungsi hati dan ginjal tetap normal.

Ke depan, kehadiran Laboratorium Farmakologi ini diharapkan terus memperkuat pembuktian ilmiah bagi produk herbal nasional dan mendorong pengembangan jamu Indonesia agar semakin diterima dalam ekosistem kesehatan modern.

[crp] Source: www.beritasatu.com
Terbaru