El Nino Mempercepat Nyamuk DBD, Mengapa Kita Tak Boleh Lagi Lengah?

Author: Qoo Media

Perubahan iklim dan fenomena El Nino membuat risiko demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia kian sulit diabaikan. Kondisi cuaca yang makin tidak menentu dapat mempercepat perkembangan nyamuk Aedes aegypti sekaligus membuka lebih banyak peluang penularan di lingkungan tempat tinggal.

Ancaman ini tidak hanya muncul saat musim hujan, tetapi juga ketika musim kering memicu warga menyimpan air di berbagai wadah. Dalam situasi seperti itu, masyarakat diminta lebih waspada karena DBD bisa menyebar kapan saja dan tidak lagi dapat dianggap sebagai penyakit musiman.

Cuaca yang berubah, nyamuk berkembang lebih cepat

Suhu yang lebih hangat dapat mempercepat siklus hidup Aedes aegypti dari telur hingga dewasa. Di saat yang sama, suhu tersebut juga mempercepat replikasi virus dengue di tubuh nyamuk, sehingga potensi penularan ikut meningkat.

Curah hujan yang tidak menentu juga memperburuk keadaan. Genangan air setelah hujan deras dan wadah penampungan air ketika cuaca kering sama-sama dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, MKM, menyebut perubahan iklim sebagai faktor yang perlu diwaspadai. Ia mengatakan, “Perubahan iklim dan pola cuaca yang semakin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD.”

Risiko kesehatan dan beban ekonomi sama-sama besar

DBD bukan hanya soal angka kasus di rumah sakit. Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi akibat DBD di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024.

Biaya itu mencakup layanan kesehatan, pengeluaran langsung pasien, serta hilangnya pendapatan selama masa sakit. Artinya, pencegahan DBD juga berkaitan dengan perlindungan ekonomi keluarga.

Data Kementerian Kesehatan per Januari 2026 menunjukkan dampak penyakit ini masih luas. Kematian akibat DBD paling banyak terjadi pada kelompok usia 5–14 tahun, yang mencapai 41 persen dari total kematian akibat DBD pada 2025.

Sementara itu, kelompok usia 15–44 tahun menyumbang kasus terbanyak, yakni 42 persen dari total kasus pada tahun yang sama. Data tersebut menunjukkan bahwa DBD dapat menyerang berbagai kelompok usia, bukan hanya anak-anak.

Pencegahan perlu dilakukan dari rumah

Pemerintah terus mendorong pengendalian dengue dengan pendekatan yang lebih menyeluruh. Upaya itu mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui 3M Plus, serta pemanfaatan inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi.

Dr. Prima menegaskan perlunya keterlibatan semua pihak. Ia menyebut keluarga, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta perlu ikut aktif dalam mencegah penularan DBD sejak dini.

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), juga mengingatkan bahwa banyak orang tua masih menganggap DBD sebagai penyakit yang hanya muncul pada waktu tertentu. Menurut dia, penularan dapat terjadi kapan saja dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi syok dengue yang mengancam jiwa.

Ia menekankan pentingnya mengenali gejala sejak awal dan menjalankan perlindungan yang lengkap. Selain 3M Plus, vaksinasi juga disebut dapat membantu menurunkan risiko hospitalisasi dan komplikasi akibat DBD.

Dorongan edukasi publik semakin kuat

Di tengah meningkatnya ancaman tersebut, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan. PT Takeda Innovative Medicines menggelar kegiatan edukasi publik bertajuk “ABCD Land – Ayo Bersama Cegah DBD!” pada 20–21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta.

Kegiatan yang menjadi bagian dari inisiatif Langkah Bersama Cegah DBD ini hadir bertepatan dengan peringatan ASEAN Dengue Day. Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan bahwa kolaborasi menjadi kunci menghadapi dengue.

Ia menegaskan bahwa beban DBD terus bertumbuh dan masyarakat tidak boleh lengah. Melalui edukasi, konsultasi kesehatan, permainan interaktif, dan sesi bersama para ahli, kegiatan tersebut mendorong keluarga menjadikan pencegahan DBD sebagai kebiasaan sehari-hari.

Dalam situasi ketika perubahan iklim membuat pola penyebaran penyakit semakin sulit diprediksi, kewaspadaan terhadap DBD perlu dijaga sejak rumah tangga. Langkah sederhana seperti 3M Plus, pemantauan jentik, dan perlindungan tambahan melalui vaksinasi menjadi bagian penting untuk menekan risiko penularan di tengah ancaman yang terus berubah.

Source: www.suara.com
Terbaru