Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan masih banyak masyarakat yang enggan melakukan vaksinasi karena takut demam setelah imunisasi. Selain itu, sebagian orang juga belum memahami manfaat vaksin sehingga memilih menolak atau menunda pemberian vaksin, termasuk pada anak-anak.
Budi menyebut penolakan kerap datang dari orang tua yang khawatir anaknya mengalami demam atau sakit usai vaksin. Ia menegaskan bahwa vaksin justru penting untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya dan membantu menyelamatkan nyawa.
Alasan penolakan vaksin masih kuat di masyarakat
Budi mengatakan rasa takut terhadap efek samping ringan seperti demam masih menjadi alasan utama sebagian keluarga menolak vaksin. Menurut dia, kekhawatiran itu muncul karena informasi yang diterima belum cukup menjelaskan manfaat imunisasi secara utuh.
Ia juga menyoroti masih adanya warga yang menilai vaksin tidak penting karena belum mengetahui fungsi utamanya. Padahal, imunisasi disebut memiliki peran besar dalam mencegah penyakit, terutama pada anak-anak.
Vaksin dinilai penting untuk mencegah penyakit berat
Dalam keterangannya di DPR, Budi menegaskan bahwa imunisasi membantu melindungi anak dari penyakit seperti polio dan campak. Ia menilai manfaat tersebut jauh lebih besar dibanding rasa tidak nyaman yang mungkin muncul setelah vaksinasi.
Pernyataan itu juga menjadi penegasan bahwa vaksin bukan sekadar tindakan medis rutin, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Karena itu, Budi meminta publik tidak ikut menyebarkan anggapan bahwa vaksin tidak diperlukan.
Pemerintah ubah cara menyampaikan pesan kesehatan
Budi mengatakan pemerintah sedang menyiapkan strategi kampanye yang lebih efektif untuk mendorong vaksinasi. Salah satu fokusnya adalah mengubah gaya komunikasi agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat.
Ia menilai pendekatan lama yang terlalu bergantung pada presentasi, chart, atau foto sudah kurang efektif untuk saat ini. Menurut dia, komunikasi langsung lebih kuat pengaruhnya karena masyarakat lebih antusias saat mendapat penjelasan secara personal.
“Style-nya beda ya, kalau dulu kan pakai presentasi chart, apa, foto, sekarang kayaknya harus ngomong sendiri ya,” ujar Budi. Ia menambahkan bahwa cara seperti konferensi pers tidak selalu menjadi metode yang paling diterima publik dalam isu kesehatan.
Edukasi dinilai jadi kunci menghadapi antivaksin
Pernyataan Budi menunjukkan bahwa tantangan vaksinasi tidak hanya berkaitan dengan layanan kesehatan, tetapi juga dengan cara pesan disampaikan ke masyarakat. Ketika rasa takut terhadap demam masih dominan, edukasi yang jelas dan sederhana menjadi penting untuk meluruskan persepsi.
Di sisi lain, penekanan pada manfaat vaksin bagi perlindungan anak menjadi pesan utama yang terus ditekankan pemerintah. Dengan komunikasi yang lebih langsung dan mudah dipahami, pemerintah berharap semakin banyak warga melihat vaksin sebagai perlindungan, bukan ancaman.
Source: lifestyle.bisnis.com






