Target eliminasi kusta pada 2030 belum berada di jalur yang mudah dicapai. Pemerintah masih harus berhadapan dengan dua hambatan besar, yakni deteksi kasus yang belum merata dan stigma kuat yang membuat banyak penderita enggan memeriksakan diri.
Kementerian Kesehatan menegaskan kusta sebenarnya bisa disembuhkan dan obatnya tersedia gratis di fasilitas kesehatan. Karena itu, fokus utama kini bukan hanya pengobatan, tetapi juga menemukan kasus lebih cepat agar rantai penularan bisa diputus.
Indonesia masih punya beban kusta tinggi
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine menyebut Indonesia masih menjadi negara dengan beban kusta tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Brasil. Secara global, Indonesia menyumbang sekitar 8% penderita.
Sepanjang 2024, Indonesia mencatat sekitar 14.000 temuan kasus kusta. Angka itu meningkat menjadi sekitar 16.000 kasus pada 2025, namun kenaikan tersebut dinilai sebagai hasil deteksi yang lebih aktif, bukan tanda penularan yang semakin besar.
Dalam Konferensi Nasional Kusta 2026, Kamis (10/7/2026), Prima mengatakan estimasi jumlah penderita di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 37.000 orang. Karena itu, Kemenkes menargetkan penemuan kasus yang lebih banyak lagi pada 2026.
Masih banyak daerah berstatus merah
Dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru enam daerah yang berhasil mencapai status eliminasi kusta. Enam wilayah itu adalah Kabupaten Nias Utara, Kota Solok, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kota Sungai Penuh, dan Kabupaten Sekadau.
| Status Wilayah | Jumlah Daerah | Contoh Wilayah |
|---|---|---|
| Eliminasi kusta | 6 | Nias Utara, Kota Solok, Gunungsitoli |
| Menuju eliminasi atau kuning | 106 | Tidak disebutkan |
| Merah | Lebih dari 300 | Tidak disebutkan |
Selain enam daerah itu, ada sekitar 106 kabupaten/kota yang berada dalam tahap menuju eliminasi dan dikategorikan sebagai wilayah kuning. Sementara itu, lebih dari 300 kabupaten/kota masih berstatus merah, yang berarti penularan kusta masih terjadi di wilayah tersebut.
Strategi baru difokuskan ke deteksi dini dan pencegahan
Untuk mempercepat capaian eliminasi, Kemenkes akan memperkuat penemuan kasus sedini mungkin melalui active case finding yang diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Langkah ini diharapkan membuat kasus lebih cepat ditemukan sebelum penularan meluas.
Upaya lain adalah memastikan setiap penderita yang sudah didiagnosis segera mendapatkan terapi. Selain itu, Kemenkes juga memperkuat pencegahan dengan memberikan kemoprofilaksis kepada seluruh kontak erat pasien.
Di sisi pemantauan, pemerintah menyiapkan sistem surveilans berbasis digital agar pencatatan dan pelaporan kasus bisa berjalan lebih efektif. Menurut lifestyle.bisnis.com, penguatan ini juga diharapkan membantu pemerintah melihat perkembangan kasus dengan lebih cepat.
Prima berharap edukasi yang terus diperluas dapat mengurangi stigma masyarakat terhadap kusta. Ia menegaskan kusta bukan penyakit kutukan, melainkan infeksi akibat bakteri Mycobacterium leprae.
Stigma menjadi salah satu alasan utama penderita enggan memeriksakan diri, padahal pengobatan kusta sudah tersedia gratis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Di tengah target 2030, tantangan terbesar Indonesia tampaknya bukan hanya soal obat, tetapi juga soal keberanian masyarakat untuk mencari diagnosis lebih awal.
