Kasus kanker pada usia muda terus meningkat, dan para peneliti kini menyoroti satu kemungkinan yang selama ini belum banyak dibahas: penuaan biologis yang berlangsung lebih cepat. Temuan ini memunculkan pertanyaan baru tentang mengapa semakin banyak Gen Z dan milenial terkena kanker meski tampak sehat.
Fenomena itu juga membuat banyak kasus terasa sulit dijelaskan. Sebagian pasien muda datang tanpa riwayat kanker keluarga, tanpa obesitas, rutin berolahraga, bahkan menjalani pola makan sehat.
Pasien muda yang terus bertambah
Profesor kedokteran di Harvard Medical School sekaligus ahli gastroenterologi, dr. Andrew Chan, mengatakan ia mulai melihat perubahan ini sekitar dua dekade lalu. Kliniknya yang dulu didominasi pasien berusia di atas 65 tahun kini lebih sering menerima pasien muda dengan kanker kolorektal.
Menurut dr. Chan, dulu pasien kanker usia dini jumlahnya kurang dari 10 persen dari seluruh kasus yang ia tangani. Kini jumlah itu sudah lebih dari dua kali lipat.
Laporan American Cancer Society 2026 juga menunjukkan pola yang menguatkan kekhawatiran tersebut. Meski angka kanker kolorektal secara keseluruhan menurun sejak pertengahan 1980-an, kasus pada kelompok usia di bawah 50 tahun justru naik rata-rata 2,9 persen setiap tahun.
| Temuan | Angka | Keterangan |
|---|---|---|
| Pasien kanker usia dini di klinik dr. Andrew Chan | Kurang dari 10 persen | Dulu dari seluruh kasus yang ditangani |
| Pasien kanker usia dini di klinik dr. Andrew Chan | Lebih dari dua kali lipat | Terjadi pada kondisi saat ini |
| Kenaikan kasus kanker kolorektal di bawah 50 tahun | 2,9 persen per tahun | Menurut American Cancer Society 2026 |
| Perbedaan usia lahir dalam risiko penuaan biologis yang dipercepat | 23 persen lebih tinggi | Orang yang lahir setelah 1965 dibandingkan lahir 1950-1954 |
Penuaan biologis yang lebih cepat
Melansir Men’s Health pada 7/7/2026, dr. Chan memimpin Team Prospect, proyek penelitian senilai 25 juta dollar AS yang didanai National Cancer Institute bersama peneliti dari Inggris, Prancis, Italia, dan India. Tim ini menyelidiki banyak kemungkinan penyebab, mulai dari makanan ultra-proses, mikroplastik, bahan kimia forever chemicals, alkohol, hingga faktor lingkungan lain.
Salah satu petunjuk menarik datang dari penelitian dr. Yin Cao, ahli epidemiologi kanker dari Washington University School of Medicine di St. Louis. Dalam studi di jurnal Nature Medicine, timnya menganalisis lebih dari 150.000 sampel darah dari UK Biobank dengan sembilan biomarker, termasuk kreatinin, glukosa, protein C-reaktif, dan jumlah sel darah putih.
Hasilnya menunjukkan orang yang lahir setelah tahun 1965 memiliki kemungkinan 23 persen lebih tinggi mengalami penuaan biologis yang dipercepat dibandingkan mereka yang lahir pada 1950-1954. Kondisi itu dikaitkan dengan risiko kanker paru, kanker saluran cerna, dan kanker rahim yang ikut meningkat.
Apa itu penuaan biologis?
Usia biologis berbeda dari usia kronologis yang dihitung dari tanggal lahir. Usia biologis menggambarkan kondisi nyata tubuh, sehingga penuaan yang berjalan lebih cepat dapat berarti kerusakan sel, stres oksidatif, dan perubahan DNA yang lebih besar.
Para peneliti kini mengembangkan cara untuk mengukurnya, salah satunya melalui epigenetic clock atau jam epigenetik yang dikembangkan ahli genetika dr. Steve Horvath. Ahli geriatri dr. Luigi Ferrucci bahkan menilai pengukuran usia biologis berpotensi menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin di masa depan.
Jika itu terjadi, dokter bisa mengenali orang yang mengalami penuaan lebih cepat sebelum penyakit seperti kanker, penyakit jantung, atau diabetes muncul. Bagi peneliti, deteksi seperti ini dinilai penting karena dapat mengubah cara pencegahan dilakukan sejak dini.
Gaya hidup penting, tetapi bukan satu-satunya jawaban
Meski gaya hidup sehat tetap relevan, para ilmuwan menegaskan bahwa penyebab kanker pada usia muda belum selesai dijelaskan. Menurut dr. Horvath, perubahan gaya hidup memang dapat membantu memperlambat penuaan biologis, tetapi pengaruhnya tidak sebesar yang sering dibayangkan.
Sejumlah terapi baru juga sedang dikembangkan untuk menargetkan proses penuaan sel. Di antaranya obat untuk membersihkan sel-sel tua yang rusak dan senyawa yang berpotensi memperlambat kerusakan akibat penuaan.
Sambil menunggu hasil penelitian lanjutan, para ahli tetap menekankan pentingnya skrining kanker sesuai rekomendasi. Untuk kanker usus besar, orang dengan risiko rata-rata dianjurkan mulai menjalani kolonoskopi pada usia 45 tahun.
Mereka yang memiliki anggota keluarga inti dengan riwayat kanker kolorektal disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mempertimbangkan skrining lebih awal. Dalam banyak kasus, penanganan paling ideal tetap dilakukan saat penyakit masih berada di tahap awal dan tubuh masih dalam kondisi sehat.
