Memasuki tahun ajaran baru, jadwal sekolah yang makin padat ikut memunculkan risiko kesehatan yang sering luput dari perhatian orang tua. Salah satunya adalah miopia atau mata minus yang disebut bisa berkembang lebih cepat pada anak.
Perubahan pola hidup anak sekolah kini menjadi perhatian karena beban belajar tidak berhenti saat jam sekolah selesai. Setelah pulang sore, banyak anak masih melanjutkan dengan les dan aktivitas yang menuntut fokus jarak dekat, sementara waktu bermain di luar ruangan makin berkurang.
Near Work dan Screen Time Makin Dominan
Kondisi itu membuat anak lebih banyak melakukan aktivitas melihat jarak dekat, seperti membaca, menulis, dan menatap layar gawai. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat mengurangi paparan sinar matahari yang dibutuhkan mata anak.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, menjelaskan bahwa kombinasi minim aktivitas luar ruangan dan tingginya aktivitas jarak dekat dapat mempercepat gangguan penglihatan anak. Menurut dr. Julie, kondisi itu bahkan bisa terjadi sebelum anak genap berusia 8 tahun.
Fase Pre-Miopia yang Sering Terlewat
Secara biologis, anak berusia 6 hingga 7 tahun normalnya masih memiliki cadangan rabun dekat atau hiperopia sekitar +1 hingga +1,5 dioptri. Cadangan ini berfungsi sebagai pelindung alami dari risiko mata minus dini.
Jika cadangan tersebut menipis atau hilang lebih cepat, anak bisa masuk ke fase pre-miopia. Dalam fase ini, mata belum sepenuhnya minus, tetapi struktur bola mata sudah menunjukkan tanda-tanda kuat menuju miopia progresif.
Kelompok anak yang dinilai paling rentan adalah anak dari etnis Asia, anak dengan riwayat orang tua bermata minus, serta anak dengan gaya hidup yang minim aktivitas luar rumah. Fase ini disebut sebagai momentum penting untuk intervensi dini sebelum kondisi mata anak memburuk.
| Kelompok / Kondisi | Penjelasan | Risiko |
|---|---|---|
| Anak usia 6-7 tahun | Masih memiliki cadangan hiperopia +1 hingga +1,5 dioptri | Rentan bila cadangan cepat menipis |
| Fase pre-miopia | Mata belum minus, tetapi struktur bola mata mengarah ke miopia progresif | Dapat berkembang menjadi minus lebih berat |
| Kelompok rentan | Anak etnis Asia, punya orang tua bermata minus, dan minim aktivitas luar rumah | Lebih mudah masuk fase pre-miopia |
Risiko Jangka Panjang Jika Tak Dikendalikan
Jika progresivitas miopia tidak ditahan, kondisi itu bisa berkembang menjadi high myopia atau minus tinggi, lalu berlanjut ke pathologic myopia atau miopia patologis. Dalam jangka panjang, kondisi ekstrem tersebut berisiko memicu komplikasi serius pada organ mata.
dr. Julie menyebut komplikasi yang mungkin muncul antara lain atrofi retina, myopic maculopathy, hingga neuropati optik. Semua kondisi itu dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat dan permanen jika tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, masa awal sekolah menjadi periode yang penting untuk memberi perhatian lebih pada kesehatan mata anak. Di saat jadwal belajar makin padat, keseimbangan antara aktivitas dekat, waktu bermain, dan paparan luar ruangan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
