Begadang Nonton Piala Dunia 2026 Bisa Ganggu Anak, Dokter Wanti-wanti Risikonya

Author: Qoo Media

Euforia Piala Dunia 2026 membuat banyak keluarga tergoda membiarkan anak ikut begadang untuk menonton pertandingan sampai larut malam. Namun, dokter mengingatkan bahwa dampaknya pada anak bisa lebih serius daripada sekadar mengantuk keesokan hari.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Citra Raditha, menegaskan bahwa tidur punya peran penting bagi anak. Saat tidur, otak tetap bekerja untuk memperkuat koneksi antarsel saraf, memproses informasi, serta mendukung kemampuan belajar dan pengaturan emosi.

Menurut Citra, kurang tidur bisa membuat anak sulit berkonsentrasi, lebih mudah lelah, lebih sensitif secara emosional, dan daya tahan tubuhnya menurun. Kondisi itu juga dapat mengganggu proses tumbuh kembang yang masih berlangsung.

Health.kompas.com mencatat, kebutuhan tidur anak berbeda pada setiap usia karena fungsi tubuh dan otak masih terus berkembang. Anak usia prasekolah umumnya membutuhkan 10–14 jam tidur per hari, anak usia sekolah sekitar 9–11 jam, sedangkan remaja membutuhkan 8–10 jam setiap malam.

Kelompok Usia Kebutuhan Tidur Catatan
Prasekolah 10–14 jam per hari Fase tumbuh kembang masih sangat aktif
Usia sekolah 9–11 jam per hari Kurang tidur dapat mengganggu konsentrasi dan belajar
Remaja 8–10 jam per malam Perlu pola tidur yang konsisten

“Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi secara berulang, anak dapat mengalami gangguan konsentrasi, mudah lelah, perubahan suasana hati, hingga penurunan kemampuan belajar,” ujar Citra.

Dokter Mayapada Hospital Bandung, dr Eddy Fadlayana, mengatakan momen seperti Piala Dunia memang bisa menjadi kesempatan keluarga untuk lebih dekat dengan anak. Meski begitu, begadang sesekali tetap perlu dibatasi agar tidak berubah menjadi kebiasaan yang mengganggu pola tidur harian.

Kebutuhan tidur berbeda pada setiap usia

Eddy menjelaskan, begadang sesekali mungkin tidak langsung menimbulkan dampak serius. Tetapi bila terjadi berulang dan mengganggu kebutuhan tidur harian, kondisi itu dapat memengaruhi kesehatan fisik serta perkembangan kognitif anak dalam jangka panjang.

Ia juga mengingatkan orangtua agar menjaga keseimbangan supaya perubahan jadwal tidur tidak mengacaukan pola alami tubuh anak dalam mengatur waktu tidur dan aktivitas. Pola tidur yang konsisten akan membantu anak memiliki kebiasaan istirahat yang sehat.

Pantau tumbuh kembang anak

Selain menjaga tidur, orangtua perlu memantau tumbuh kembang anak secara berkala agar potensi gangguan kesehatan bisa dikenali lebih dini. Mayapada Hospital menyediakan Pediatric Center dengan layanan dokter spesialis dan subspesialis untuk menangani beragam kondisi anak.

Layanan itu mencakup alergi, gangguan pencernaan, penyakit ginjal, penyakit jantung, infeksi, hingga kebutuhan khusus seperti autisme dan disleksia. Untuk kondisi kegawatdaruratan, Pediatric Emergency beroperasi 24 jam melalui Emergency 150990 atau fitur Emergency Call pada aplikasi MyCare.

Di Bandung, Mayapada Hospital Bandung juga menyediakan Klinik Tumbuh Kembang & Neurobehavior untuk mendukung kesehatan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Layanan yang tersedia meliputi terapi okupasi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, fisioterapi anak, psikotes, tes minat dan bakat, tes kesiapan sekolah, serta konseling pola asuh dan konseling keluarga.

Seluruh layanan itu dirancang untuk membantu memetakan kebutuhan perkembangan anak dan mendampingi orangtua memahami tiap tahap tumbuh kembang anak dengan lebih menyeluruh. Informasi layanan dapat diperoleh melalui Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, atau aplikasi MyCare.

Melalui aplikasi yang sama, masyarakat juga dapat memantau kebugaran tubuh dengan fitur Personal Health, seperti menghitung detak jantung, jumlah langkah, kalori yang terbakar, hingga body mass index (BMI).

Terbaru