Karies gigi menjadi masalah kesehatan paling dominan pada anak sekolah dan remaja yang mengikuti Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kondisi ini ditemukan pada lebih dari 40% peserta, melampaui temuan anemia, tekanan darah tinggi, hingga persoalan gizi.
Gambaran tersebut menegaskan bahwa kebutuhan kesehatan anak tidak hanya berkaitan dengan penyakit infeksi atau kekurangan gizi. Pemeriksaan massal juga memperlihatkan risiko kesehatan yang berubah seiring pertambahan usia, termasuk gangguan mental dan penyakit tidak menular.
Hingga 5 Juli 2026, sebanyak 59,6 juta masyarakat telah mengikuti Cek Kesehatan Gratis. Capaian itu telah melampaui target mingguan program yang disiapkan pemerintah.
Data satu semester terakhir memberi peta persoalan kesehatan yang berbeda di tiap kelompok umur. Kementerian Kesehatan menggunakan temuan tersebut sebagai dasar untuk menyiapkan intervensi yang lebih spesifik.
Masalah Kesehatan Berubah dari Bayi hingga Remaja
Pada bayi baru lahir, penyakit jantung bawaan kritis menjadi kondisi dengan potensi prevalensi tertinggi dari enam jenis skrining yang dilakukan. Skrining ini dilakukan melalui pemeriksaan pulse oximetry untuk mendeteksi indikasi kelainan yang memerlukan tindak lanjut.
Sampai 28 Juni 2026, lebih dari 490 ribu bayi telah menjalani skrining tersebut. Sekitar 4,3% atau 20.946 bayi teridentifikasi memiliki indikasi kelainan dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
| Kelompok Usia | Temuan Utama | Risiko atau Masalah Lain |
|---|---|---|
| Bayi baru lahir | Penyakit jantung bawaan kritis | Indikasi kelainan yang perlu pemeriksaan lanjutan |
| Anak SD | Karies gigi | Tekanan darah meningkat, gangguan gizi, pendengaran, dan penglihatan |
| Anak SMP | Masalah kesehatan gigi | Kecemasan, depresi, risiko TB, tekanan darah, dan gizi |
| Anak SMA | Karies gigi | Tekanan darah, kesehatan mental, risiko TB, dan gizi |
Pada usia sekolah dasar, karies gigi anak menjadi temuan terbanyak. Masalah tersebut disusul peningkatan tekanan darah, gangguan status gizi, serta gangguan pendengaran dan penglihatan.
Ketika memasuki jenjang SMP, persoalan gigi tetap paling banyak ditemukan. Namun, risiko kesehatan jiwa seperti kecemasan dan depresi mulai meningkat, bersama risiko tuberkulosis, tekanan darah tinggi, dan masalah gizi.
Pola itu berlanjut pada kelompok SMA dengan karies gigi sebagai masalah utama. Pada kelompok ini, temuan juga mencakup tekanan darah meningkat, gangguan kesehatan mental, risiko TB, serta gizi kurang maupun obesitas.
Menurut data yang dikutip lifestyle.bisnis.com, anemia dialami oleh 27% anak sekolah dan remaja yang diperiksa. Peningkatan tekanan darah tercatat pada 21% peserta, sedangkan penumpukan kotoran telinga serta gizi lebih dan obesitas masing-masing ditemukan pada 7% peserta.
Gizi Lebih Kini Mendekati Gizi Kurang
Temuan CKG menunjukkan persoalan gizi pada anak tidak lagi hanya didominasi kekurangan gizi. Proporsi gizi lebih dan obesitas kini makin mendekati angka gizi kurang.
Kondisi ini mencerminkan double burden of malnutrition, ketika gizi kurang dan gizi lebih terjadi secara bersamaan. Pemerintah menilai data berdasarkan usia akan membantu penggunaan sumber daya kesehatan secara lebih tepat sasaran.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan data CKG membuat pemerintah dapat membedakan kebutuhan kesehatan anak SD, SMP, dan SMA. “Dengan data ini, intervensi pemerintah menjadi lebih tepat sasaran sehingga sumber daya kesehatan dapat digunakan secara lebih efektif,” lanjutnya.
CKG Mulai Masuk Tahap Pengobatan
Sejak 2026, CKG mulai memasuki tahap tatalaksana bagi peserta yang didiagnosis menderita penyakit kronis, terutama hipertensi dan diabetes. Tahap ini penting karena deteksi dini perlu diikuti pengobatan rutin dan pengendalian kondisi pasien.
| Kondisi | Pasien Kembali Periksa pada CKG 2026 | Berhasil Terkendali |
|---|---|---|
| Hipertensi | 35,4% | 46,9% |
| Diabetes melitus | 33,1% | 69,4% |
Pemerintah menargetkan sedikitnya 50% penderita yang ditemukan melalui CKG menjalani pengobatan rutin tahun ini. Sebanyak 50% dari kelompok yang diobati ditargetkan mampu mencapai kondisi terkendali.
Budi Gunadi Sadikin menilai pengendalian hipertensi dan diabetes dapat berdampak besar terhadap penurunan kematian akibat penyakit jantung dan stroke. Ia menyebut pendekatan Triple 80 di Korea, yaitu 80% masyarakat diskrining, 80% penderita diobati, dan 80% di antaranya terkendali, sebagai arah yang ingin dibangun di Indonesia.
Kementerian Kesehatan akan memperluas cakupan CKG serta memperkuat tindak lanjut di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Pemerintah juga menargetkan 130 juta peserta pada akhir 2026 seiring dimulainya tahun ajaran baru di seluruh Indonesia.
Program ini diharapkan menggeser fokus layanan kesehatan dari pengobatan menuju pencegahan. Semakin dini penyakit ditemukan, semakin besar peluang masyarakat memperoleh pendampingan dan menjaga produktivitasnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






