Menonton final Piala Dunia 2026 hingga dini hari bisa menjadi momen yang sulit dilewatkan, terutama karena laga ini berlangsung empat tahun sekali. Namun, kebiasaan begadang sambil menyantap gorengan, makanan manis, dan minuman tinggi gula dapat memberi beban tambahan pada metabolisme tubuh.
Pertandingan final dijadwalkan berlangsung pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 02.00 WIB. Dokter mengingatkan bahwa pilihan camilan dan pola tidur selama menonton dapat memengaruhi risiko kenaikan berat badan, resistensi insulin, hingga gangguan pada hati.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi Mayapada Hospital Bandung, Lukas Mulyono Samuel, SpPD-KGEH, menjelaskan asupan gula dan kalori tinggi pada malam hari membuat tubuh bekerja lebih berat dalam mengatur energi serta lemak. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat meningkatkan risiko fatty liver atau perlemakan hati.
“Dalam jangka panjang, (kondisi tersebut) dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan, resistensi insulin, hingga fatty liver,” ujar dr Lukas dalam keterangan resmi yang dimuat health.kompas.com. Menurutnya, keseruan mendukung tim favorit tetap dapat dinikmati tanpa mengabaikan kondisi tubuh.
Ringkasan 4 Cara Menjaga Tubuh Saat Nobar
| No. | Langkah | Contoh atau tujuan |
|---|---|---|
| 1 | Pilih camilan rendah kalori | Buah, kacang tanpa garam, jagung rebus, popcorn polos, tahu rebus, edamame |
| 2 | Utamakan air putih | Membatasi minuman manis, soda, alkohol, dan kafein berlebih |
| 3 | Jaga waktu tidur | Pilih laga penting dan manfaatkan tidur singkat 20–30 menit sebelum pertandingan |
| 4 | Atur aktivitas setelah begadang | Susun prioritas kerja untuk mengurangi risiko stres dan burn out |
1. Ganti Gorengan dengan Camilan yang Lebih Ringan
Camilan menjadi bagian yang kerap menyertai nobar, tetapi pilihan tinggi gula, garam, dan minyak dapat membuat total kalori meningkat tanpa terasa. Dr Lukas menyarankan buah potong, kacang rebus atau panggang tanpa tambahan garam dan gula, jagung rebus, serta popcorn polos sebagai pilihan yang lebih ringan.
Tahu rebus dan edamame juga dapat menjadi pengganti gorengan saat pertandingan berlangsung. Untuk membantu mengurangi kelelahan mata, ia menyebut buah kaya vitamin A seperti pepaya atau jeruk dapat diselingi dalam menu camilan.
2. Jangan Andalkan Minuman Manis untuk Menahan Kantuk
Air putih menjadi pilihan utama untuk menemani pertandingan yang berlangsung larut malam. Konsumsi kopi saset, minuman bersoda, minuman berenergi, alkohol, dan minuman manis lain perlu dibatasi.
Kafein dalam jumlah tinggi memang dapat membuat seseorang merasa lebih terjaga untuk sementara waktu. Namun, dr Lukas mengingatkan ketergantungan pada kopi, energy drink, atau soda dapat mengganggu ritme tidur alami tubuh.
3. Begadang Jangan Menjadi Pola Selama Turnamen
Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh lelah pada keesokan hari, tetapi juga dapat mengacaukan pengaturan rasa lapar dan kenyang. Dr Lukas menjelaskan bahwa tidur yang tidak cukup dapat mengganggu hormon leptin yang berkaitan dengan rasa kenyang serta grelin yang memicu rasa lapar.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong makan berlebih, terutama ketika tubuh juga terpapar pilihan makanan tinggi kalori. Kurang tidur juga dapat meningkatkan hormon kortisol yang berkaitan dengan stres dan mempermudah penimbunan lemak.
Ia menyarankan penonton untuk tidak terlalu sering begadang dan memilih pertandingan yang benar-benar ingin disaksikan. Jika memungkinkan, waktu pemulihan dapat dibantu dengan tidur lebih awal pada hari berikutnya atau melakukan power nap selama 20–30 menit sebelum laga.
4. Ringankan Beban Kerja Sehari Setelah Nobar
Begadang dapat menurunkan fokus dan memori, sehingga aktivitas yang terlalu berat setelah menonton pertandingan perlu dihindari. Menyusun prioritas pekerjaan pada hari berikutnya dapat membantu mengurangi tekanan ketika tubuh belum pulih sepenuhnya.
Menurut dr Lukas, langkah ini penting agar kurang tidur tidak berkembang menjadi stres berkepanjangan atau burn out. Gangguan tidur, pola makan berlebih, dan stres dapat saling berkaitan dalam meningkatkan risiko obesitas, diabetes, serta gangguan fungsi hati.
Pemeriksaan Metabolik dan Hati
Selain menjaga pilihan makanan dan waktu istirahat, pemeriksaan kondisi tubuh secara berkala dapat membantu mendeteksi risiko lebih awal. Mayapada Hospital menyediakan Gastrohepatology Center di sejumlah unit, termasuk Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang, Bogor, Surabaya, dan Bandung.
Di Bandung, tersedia Liver, Metabolic & Wellness Center yang berfokus pada kesehatan hati, gangguan metabolik, serta pengelolaan berat badan. Layanan ini didukung pemeriksaan elastografi hati non-invasif dan Total Body Matrix Assessment untuk mengevaluasi komposisi tubuh serta indikator metabolik.
