Pekerja Muda Tak Kebal Penyakit, Gaya Hidup Modern Mulai Menggerus Produktivitas

Author: Qoo Media

Usia muda tidak otomatis membuat pekerja terbebas dari masalah kesehatan. Aktivitas tinggi, mobilitas, paparan infeksi, hingga kebiasaan kerja sedentari kini membentuk risiko yang dapat mengganggu produktivitas pada usia kerja.

Risiko tersebut menjadi penting di tengah bonus demografi Indonesia, ketika jumlah penduduk usia produktif menjadi modal besar bagi pertumbuhan ekonomi. Potensi itu akan lebih optimal jika angkatan kerja dapat menjaga kondisi kesehatan secara konsisten.

Laporan Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 dari Halodoc mencatat perubahan gaya hidup modern ikut memengaruhi pola keluhan kesehatan pekerja. Dokter umum Irwan Heriyanto mengatakan pola tersebut dapat dilihat terutama dari faktor usia dan gender.

Pola Keluhan Berubah Seiring Usia

Pekerja berusia di bawah 30 tahun masih banyak menghadapi penyakit akut, terutama infeksi saluran pernapasan seperti flu, demam, dan infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA. Meski berada di rentang usia produktif, kelompok ini tetap rentan terhadap masalah yang berkaitan dengan daya tahan tubuh dan penularan penyakit.

Irwan menjelaskan mobilitas sehari-hari dan aktivitas yang padat turut meningkatkan kemungkinan paparan infeksi. Penggunaan transportasi umum serta bekerja di lingkungan yang ramai menjadi contoh situasi yang dapat memperbesar risiko penularan.

Memasuki kelompok usia 30 hingga 49 tahun, gangguan muskuloskeletal menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan. Nyeri otot dan masalah persendian dapat berkaitan dengan postur kerja yang tidak ergonomis, gerakan berulang, serta beban fisik selama bekerja.

Pada usia di atas 50 tahun, penyakit kronis menjadi persoalan yang lebih dominan. Penyakit kardiovaskular, diabetes, hipertensi, dan penyakit degeneratif lebih banyak dijumpai karena proses penuaan membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit tidak menular.

Kelompok Usia Keluhan Dominan Faktor yang Disebutkan
Di bawah 30 tahun Flu, demam, ISPA Mobilitas tinggi dan paparan penularan
30–49 tahun Gangguan muskuloskeletal Postur, gerakan berulang, beban fisik
Di atas 50 tahun Penyakit kronis dan degeneratif Kerentanan yang meningkat seiring penuaan

Risiko Laki-Laki dan Perempuan Tidak Sama

Perbedaan profil kesehatan juga tampak berdasarkan gender. Pada pekerja laki-laki, penyakit kardiovaskular menjadi masalah yang paling banyak dialami dengan proporsi 81%, sementara gangguan muskuloskeletal berada di urutan berikutnya dengan prevalensi 68%.

Di kalangan pekerja perempuan, neoplasma atau kanker menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan dengan persentase 72%. Mayoritas kasus yang tercatat adalah kanker payudara dan kanker rahim.

Kelompok Pekerja Masalah Kesehatan yang Menonjol Persentase
Laki-laki Penyakit kardiovaskular 81%
Laki-laki Gangguan muskuloskeletal 68%
Perempuan Neoplasma atau kanker 72%

Menurut Irwan, perbedaan itu dipengaruhi faktor biologis, termasuk perbedaan organ reproduksi dan hormon antara laki-laki dan perempuan. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini perlu disesuaikan dengan karakteristik risiko pada tiap kelompok pekerja.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa keluhan kesehatan di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan usia yang bertambah. Pola aktivitas harian, cara bekerja, dan kebiasaan menjaga kesehatan ikut menentukan risiko yang dihadapi pekerja.

Langkah Pencegahan untuk Tetap Produktif

Irwan menilai risiko kesehatan dapat ditekan melalui langkah pencegahan yang dilakukan secara rutin. Salah satu langkah utamanya adalah menjalani medical check up atau MCU untuk membantu mendeteksi penyakit lebih awal sebelum berkembang menjadi lebih serius.

Pekerja juga dianjurkan menjaga pola makan bergizi, berolahraga secara rutin, dan menambah aktivitas fisik di sela pekerjaan. Pengelolaan stres serta vaksinasi sesuai kebutuhan turut menjadi bagian dari upaya mempertahankan kesehatan pada usia produktif.

Seperti dilaporkan lifestyle.bisnis.com, perhatian terhadap kesehatan pekerja perlu dimulai sebelum keluhan berkembang menjadi gangguan yang lebih berat. Kebiasaan sederhana yang dijalankan konsisten dapat membantu pekerja menjaga kemampuan untuk tetap aktif dalam jangka panjang.

Source: lifestyle.bisnis.com
Terbaru